Jumat, 22 Desember 2017

KE MONAS GAK MANDI GAK GOSOK GIGI

Habis sholat subuh, ngorok again. Kebiasaan buruk memang, tapi itu saya lakukan, karena memang body masih berasa capek banget. Nah, gara-gara kebiasaan buruk itu, saya telat bangun buat pergi ke Monas. Gara-gara telat, walhasil saya memutuskan gak mandi dan gak gosok gigi.

Ihhhhh....jorok!

Maaf ya sodara-sodara, saya gak mau kehilangan momentum. Awalnya punya niat mulia, subuh berjamaah di Istiqlal. Ehtapi, ya itu tadi, body capek banget, jadi terlalu nyaman di springbed empuk dengan penyejuk udara.

"Yuk, kita kemon!" ajak saya pada putri saya.

Pagi ini saya dan putri saya mau ikut Aksi Bela Palestina yang berlangsung di Monas. Nggak kayak bapaknya, putri saya ternyata lebih mulia. Ia sudah mandi dan gosok gigi. Alhamdulillah. Istilah anak kelakukannya mirik kayak orangtua tidak berlaku. Saya nggak mandi, anak saya mandi. Saya nggak gosok gigi, anak saya gosok gigi.

Kamis, 16 Juni 2016

SERUNYA DATANG KE RESEPSI DI KAMPUNG PURWAKARTA

Sudah pernah menghadiri resepsi di kampung? Alhamdulillah saya sudah dan menyenangkan. Ini serius! Bukan basa-basi. Banyak hal yang seru yang saya nikmati, mulai dari kemeriahan satu keluarga pengantin menjadi kemeriahan satu kampung, sampai soal toleransi di dapur. Tak ketinggalan, saya pun sempat menikmati kuliner asli kampung tempat resepsi ini berlangsung.

Silahkan saksikan video berikut ini...


Rabu, 04 Mei 2016

WARGA DURHAKA

"Mak, Arin itu yang istrinya Wawan, kan?"

"Iya..."

"Wawan yang sekarang lagi dipenjara?"

"Hmm...iya..."

"Wawan yang terlibat korupsi?"

"Kenapa sih lo tanya-tanya gitu?"

"Berarti Arin adalah istrinya koruptor?"

"E..e..eehmm...i-iya..."

"Mak, boleh nggak seorang istri nggak nurut suami?"

"Ya nggak boleh lah. Dosa!"

"Apa kata suami, harus dituruti kan, Mak?"

"Yaiya dong!"

"Meski suami itu di dalam penjara?"

"Hmmm...maksud lo?"

"Meski suami itu sudah ngasih contoh nggak bener...korupsi?"

"Lah, kok balik lagi ke situ?"

"Istri harus nurut suami kan, Mak?"

"Mak males ah, ngejawab pertanyaan lo lagi. Pertanyaan lo ngejebak..."

"Kok ngejebak, Mak?"

"Iya lah, tadi lo tanya soal hubungan Arin dan Wawan. Trus ngomongin soal kewajiban seorang istri pada suami. Ehh...ngomongin soal korupsi. Mak ngerasa dijebak..."

"Menurut Mak, kalo ada ibu RT yang suaminya dipenjara, trus warganya milih ibu itu lagi buat jadi RT, kira-kira yang salah siapa?"

"Yang salah siapa?"

"Iya...yang salah siapa? Ibu RT-nya kah, yang nggak tahu malu. Atau warganya yang geblek milik ibu yang suaminya koruptor itu jadi Ketua RT lagi?"

"Hmmm....apa ya? Mak jadi bingung..."

"Mak nggak malu punya ibu RT yang suaminya jelas-jelas koruptor?"

"Malu sih..."

"Mak nggak malu punya ibu RT yang suaminya lagi ada di dalam penjara?"

"Sebenarnya malu..."

"Mak nggak milih Arin jadi Ketua RT lagi, kan?"

"Emang kenapa?"

"Lahh, tadi sudah aye jelaskan panjang lebar..."

"Ee..."

"Nggak milih Arin kan, Mak?"

"Milih, Nak..."

"Hah?!!! Mak milih Arin?!"

"Iya, Nak..."   

"Kenapa Mak?"

"Mak nggak pingin jadi warga yang durhaka pada Ketua RT..."

"Durhaka? Nggak salah, Mak?"

Mak diam.

"Mak, kita malah justru durhaka kalo milih Ketua RT yang jelas-jelas punya suami korupsi. Kalo dia aja nggak bisa menjaga suaminya supaya nggak korupsi, gimana bisa ngejaga anak-anak buahnya?"

"Gitu ya, Nak?"

"Yaiyalah, Mak..."

Mak terdiam. Ia seperti merasa bersalah atas pilihannya.

"Jadi sekarang Mak harus apa?"

"Lebih baik Mak bertobat..."

"Bertobat?"

"Iya. Mak sudah pilih Ketua RT yang salah..."

Sambil beristighfar, Mak masuk ke WC. Ia mengambil air untuk berwudhu. Berharap, Allah akan memberikan hidayah kepada Ketua RT agar bisa menjadi pemimpin warga yang adil dan tidak korup.

Jumat, 15 April 2016

COLOKAN LISTRIK

Zelda resah dan gelisah. Wajahnya mulai pucat, begitu tahu di tempat ia duduk nggak ada colokan listrik. Lho, apa hubungannya colokan listrik dengan keresaan yang ada pada diri Zelda? Memang ia kesetrum gitu sampai wajahnya pucat? Oh, bukan!  

Di zaman internet kayak gini, colokan listrik menjadi hal penting sebuah tempat nongkrong bakal dipenuhi pengunjung. Memang, colokan menjadi salah satu indikator aja. Sebab, percuma juga kalo menu manakan nggak variatif dan nggak enak, ya sama juga bohong. Namun, sekali lagi, colongan listrik penting!

"Masa tempat nongkrong keren gini nggak ada colokan listrik, mbak?" protes Zelda.

"Iya, mbak, maaf. Kalo mau nge-charge hape bisa dekat kasir. Tapi itu juga harus gantian, karena ada yang sudah lebih dulu nge-charge," jelas pelayan kafe itu.

Zelda manyum. Sebetulnya ia mengerti, percuma protes pada pelayan. Ia bukan pemilik kafe yang punya kuasa membuat colokan di kafe itu. Namun, Zelda nggak tahu kemarahannya mau ditumpahkan pada siapa lagi kalo bukan ke pelayan. Fitri, rekan Zelda, yang ikut, cuma bisa menyaksikan protes Zelda pada sang pelayan.

"Saya ulangi lagi ya Kak pesanannya," ujar si pelayan.

Belum juga membacakan pesanan, Zelda "memotong" pelayan.

"Kalo gitu kami nggak jadi pesan deh, mbak," ujar Zelda dengan sewot.

"Nggak enak, Zel kita sudah terlanjur pesan," ingat Fitri, coba mendamaikan hati Zelda yang sudah terlanjur emosi itu. "Lagian emang kita mau ke tempat mana lagi?"

"Nggak tahu, Fit. Yang penting kita keluar dulu aja dari kafe ini..."

Zelda langsung berdiri dan meninggalkan tempat tanpa ba-bi-bu.

"Maaf ya, mbak," ujar Fitri meminta maaf kepada pelayan sambil tersenyum.

"Iya, nggak apa-apa, mbak..."

***

Sudah hampir satu jam Zelda muter-muter lokasi dan sempat beberapa kali masuk ke tempat nongkrong. Pertanyaan pertama yang ditanyakan bukan makanan, tetapi colokan listrik. Begitu sang pelayan mengatakan, tidak ada, Zelda nggak jadi nongkrong.

"Zel, sampai berapa lama lo nyari tempat nonkrong yang ada colokan listrik? Gue udah laper, nih," ujar Fitri.

"Gue juga laper, nih, Zel," ungkap Zelda.

"Nah, kan?! Yuk, makan dulu lah. Ntar maag lo kambuh, lho..."

"Yowis kita makan. Makan dimana?"

"Yang pasti tempat makan yang enak. Nggak peduli di tempat itu ada colokan listrik atau nggak ada, okay?"

"Oke deh. Dimana?"

"Di tempat pertama kita nongkrong dan lo sempat sewot dengan pelayannya..."

"Duh, jangan di situ, Zel. Gue malu tadi udah sempat ngebentak pelayan..."

"Jiaaahhh! Eh, Zel, sejak kapan lo punya malu? Lagian, mana ada kafe menolak pelanggan hanya gara-gara ngebentak pelayan?"

***

"Saya ulangi pesannya ya kak..."

Pelayan itu pun mengulangi makanan dan minuman yang dipasan Zelda dan Fitri.



Senin, 11 April 2016

Makan Sate Kelinci Nggak Usah Membayangkan Kelinci

Sate kelinci? Apa enaknya? Mungkin kalo nggak ada kata "kelinci", nggak akan ada pertanyaan norak seperti pertanyaan saya tadi. Yaiyalah! Mana ada orang bertanya heran untuk sate ayam, sate kambing, maupun sate sapi.

Sampai saat ini, sate kelinci masih dianggap "kontroversi". Setidaknya di keluarga saya. Harap maklum, di keluarga saya memang masih menganggap, kelinci tidak layak untuk dijadikan sate. Kelinci adalah binatang peliharaan yang lucu dan nggak boleh disate.


"Mau nggak?" tanya saya pada anak saya dan keponakan.

Anak saya miringis. Tanda ia menolak untuk makan. Nggak beda dengan keponakan saya yang juga ikut-ikutan memperlihatkan raut wajah menolak.

"Tega banget," ujar keponakan saya.

Saya dibilang tega? Waduh! Masa saya dibilang tega? Padahal saya cuma ingin mencoba makan sate. Ya, kebetulan aja sate yang akan saya makan sate kelinci. Ah, boleh jadi keponakan saya mengatakan saya tega, karena ia termasuk "penyayang binatang". Di rumahnya ia memelihara kucing dan juga musang. Dengan saya makan sate, saya dianggap memakan binatang peliharaan, yakni kelinci.

Meski dari raut wajah anak saya dan keponakan saya nggak ingin saya makan sate kelinci, namun saya dan istri akhirnya pesan sate kelinci juga. Oh iya, tukang sate kelinci ini ada di Lembang, Bandung, Jawa Barat. Sebenarnya sudah lama saya ingin makan daging kelinci di Lembang. Kenapa? Kabarnya, Lembang terkenal dengan kuliner sate kelinci ini, dan gule kelinci. Hingga kini dua kuliner itu menjadi menu khas yang bisa Anda temui di Lembang.

Sate kelinci pun tiba di meja kami. 

"Mau coba?" tawar saya pada anak saya dan keponakan.

Lagi-lagi mereka memperlihatkan raut menolak. 

Saya mengambil satu tusuk sate dan menyantap sepotong dagingnya. Wah, ternyata lezat. Bener-benar lezat. Selain lezat, juga empuk. Daging kelinci sebenarnya punya tekstur yang mirip dengan daging ayam. Hanya saja daging kelinci lebih kenyal dibanding daging ayam. 

"Enak kak, kayak makan sate ayam," goda saya.

Anak saya tetap memperlihatkan raut wajah tidak terima. Tidak terima saya menyantap sate kelinci. Saya yakin, ia membayangkan kelinci yang lucu dan cantik meloncat-loncat, tetapi kemudian disate, dan satenya saya makan. 

"Papa membayangkan gimana kelinci dipotongnya," ujar saya sambil mengunyah sate kelinci itu.

"Ih, pake ngebayangin kelinci dipotong segala, nih, Om," protes keponakan saya sambil memperlihatkan wajah nggak suka.

Jadi, memakan sate kelinci itu memang nggak perlu membayangkan kelinci cantik melompat-lompat atau berkeliaran di halaman rumah. Makan sate kelinci juga nggak perlu membayangkan bagaimana kelinci ditangkap, lalu disembelih, daging dipotong-potong sebesar dadu, ditusukan ke tusuk sate, dan kemudian disate. Makan sate cukup menikmati saja. Anggap saja sate kelinci kayak sate ayam. Dengan begitu, Anda menikmati kuliner khas Lembang ini. Tapi, sebelum menikmati, jangan lupa baca doa sebelum makan, lho.

Minggu, 27 Maret 2016

DERITA ASPROD # 4: SEKEJAM-KEJAMNYA IBU TIRI, MASIH LEBIH KEJAM...

Namanya juga asisten, jadi tugasnya membantu. Dalam hal ini membantu tugas-tugas Produser. Oleh karena jadi asisten, makanya biasa disebut sebagai Asisten Produser alias Asprod. Emang nggak enak sih kalo disingkat. Mirip kata “ceprot”, “ngepot”, atau “kecrot”...xixixi.

Di stasiun televisi, ada istilah Asprod, ada pula Production Assistance (PA). Biasanya Asprod dikenal di divisi redaksi alias bagian pemberitaan alias news. Kalo PA, dikenal di kalangan anak-anak produksi. Mau Asprod atau PA, tetap aja tugasnya sebagai asisten.

Padahal, PA itu sebuah profesi penting dalam dunia broadcasting. Tanpa seorang PA, para Produser nggak bisa menjalankan program acara dengan lancar. Makanya PA itu kastanya paling tinggi di stasiun televisi…hehehe. Bohong ding! PA kastanya paling tinggi kalo ngeliatnya dibalik.

Bolehlah PA punya kasta terendah, tetapi Produser can’t live without PA. Bukan sombong, lho, tetapi PA adalah asisten yang selalu setia dengan sang majikan. Namun sayang, asisten seringkali menderita. Di stasiun televisi, yang namanya asisten biasanya jadi identik dengan “pembantu”. Kata “pembantu” di sini diambil dari huruf P dari kata “production”.

Lo musti kenal, ada beberapa akronim dari PA. Yang pertama, akronim huruf P itu tadi, yakni “pembantu”. Trus huruf A-nya kepanjangannya apa? “ABIS”. Jadi kalo digabung, PA artinya “PEMBANTU ABIS”.

Terus terang menyandang nama “pembantu abis” sungguh sakiiiit. Sakitnya tuh sampai di hati. Hiks! *nangis sampai dua ember* Betapa nggak sakit, pembantu itu ibarat jongos. Profesi kelas rendah ini siap buat disuruh-suruh. Nggak cuma nyuci baju, ngepel, nyetrika, tetapi gosok kloset WC. Memang, PA nggak sampai ngerjain urusan rumah tangga itu sih, tetapi kadang diperlakukan ya kayak pembantu…

Dalam sebuah obrolan dengan Anto di warteg dekat Citra TV, Jaja baru tahu, perlakukan Produser pada PA seringkali memang kayak pembantu.

“Lo kudu banyak istighfar, Ja,” pesan Anto.

“Kok gitu?”

“Karena lo nggak akan tau kapan jatung lo tiba-tiba berhenti…”

“Waduh!”

Apa yang dibilang Anto bukan nakut-naktin. Kerjaan PA memang rada sport jantung. Banyak fisik, tapi nggak lepas dari administratif. PA kudu siap ngelayani kebutuhan syuting, baik sebelum syuting, pas syuting, maupun sesudah syuting. Sebelum syuting, PA kudu ngetikin surat. Mending kalo surat cinta, ini mah surat permohonan. Permohonan apa? Permohonan buat pinjem kru dan alat, mulai dari kamera, audio, lighting, dan peralatan syuting lain. Begitu surat udah diketikin, si PA kudu nganter surat ke para koordinatornya. Kayak Tukang Pos ya nganter-nganter surat?

Surat permohonan yang diketik, kudu difoto kopi. Beberapa di kopi buat dikasih ke koordinator, satu buat disimpen buat dokumen. Makanya PA kudu belajar foto kopi dengan baik dan benar.

“Mulai dari kertas yang sering nge-jam, hasil kopian terbalik, sampai muka gue item kena tinta, pernah gue alami,” jelas Anto.

“Sekarang udah jago dong foto kopi?” tanya Jaja.

“Yo’i. Kalo kelak pensiun jadi PA, gue bisa jadi tukang foto kopi…hahahaha…”

Anto lanjut cerita tugas PA pas syuting. PA kudu siap ngebantu kameraman buat ganti kaset, dari kaset hasil syuting dengan kaset baru. Kalo batere ada di mobil, trus kameraman ada di lokasi lain, yang ngambilin batere dan harus lari-lari ngasih ke kameraman ya PA. Terus beli konsumsi buat makan kru. Kalo makanan nggak enak, apalagi makanan telat datang, yang diomelin PA-nya.

“Soal batere, lo bakal kayak kuli Tanjung Priuk, Ja,” jelas Anto. “Lo bakal bawain tas. Mending kalo tasnya isinya bedak, blush on, atau alat-alat kosmetik lain…”

“Emang yang diangkat apaan, To?”

“Kaset sama batere! Mending bateri kecil, ini mah batere gede yang beratnya 1 kilo. Bukan cuma 1 batere pula, tapi ada 8 batere. Nah, lo bisa bayangin deh, pas syuting outdoor bawa-bawa tas isi 8 kilo. Kejemur matahari.”

“Waahh…ternyata bener tes HRD tempo hari ya…”

“Tes apaan?”

“Iya, waktu tes mau jadi PA, gue disuruh ngangkut karung. Persis kayak kuli Tanjung Priuk…”
Selain pengalaman-pengalaman yang pernah Anto lakukan selama jadi PA di Citra TV di atas tadi, masih ada daftar panjang tugas PA yang nggak ada hubungannya dengan job desk PA sesungguhnya di televisi. Apa itu? Silahkan plototin yak…

1. Bikinin kopi saset buat Produser. Mending kalo kopi sasetnya udah ada. Kalo belum, PA disuruh beli dulu ke warung. Duitnya pun duit PA. Sedih nggak tuh? 

2. Kalo Produser cape, PA disuruh mijit. Kalo Produsernya kurus tinggal kulit pembalut tulang ya no problem lah. Tapi ada banyak Produser yang bodynya segede kultas, sementara PA-nya segede tripleks. Kebayang dong jari jemari sang PA keriting? 

3. Trus jadi driver dadakan. Di stasiun televisi sebetulnya udah ada Driver. Tapi kalo driver di car pool lagi kosong, mau nggak mau PA yang menggantikan jabatan sebagai driver. Kalo menolak, PA bakal kena semprot sang Produser. Masalahnya, nggak semua PA bisa nyupir, ya kayak Jaja ini. Ada pula PA bisa nyupir, tapi nggak punya SIM. Paling-paling kalo ditilang polisi, ngeluarin SIM Card deh…xixixi 

4. Dan masih banyak lagi derita PA yang nggak bisa diungkapkan satu per satu…


Meski sejumlah penderitaan PA sudah Anto alami, namun cowok berhati selembut salju ini tetap enjoy. Prinsipnya sederhana, mangan ora mangan sing penting jadi PA. Eh, maksudnya gini, ia ingin nimba ilmu dari nol dengan jadi PA. Daripada nimba air, mending nimba ilmu, supaya kelak jadi Produser.

Tapi tidak dengan Jaja.

“Mak, Jaja berhenti aja ya jadi PA?” tanya Jaja cuhat ke Mak Oneng.

“Jiaah! Belum juga gajian, Ja. Masa lo mau berhenti kerja? Mak kan pengen ngerasain gaji pertama elo…”

“Habis, tugas PA berat banget, Mak. Kayaknya nggak mungkin Jaja bisa jadi artis…”

“Emang tugasnya ngapain aja sih, Ja? Disuruh ngepel? Nyuci baju? Nyetrika?”

“Ya nggak gitu, Mak. Itu mah tugasnya pembantu…”

“Eehhhh….lo jangan bilang itu tugas pembantu, Ja! Itu kerjaan yang sekarang Mak lo kerjain. Buat ngebiayai lo kuliah kemarin. Lo jangan asal ngomong, Ja!”

“Duuh…map Mak. Bukan maksud hati Jaja nyinggung perasaan Mak. Tapi ternyata tugas PA ya kayak pembantu juga sih, Mak…”

“Laahhh?! Gimana sih lo, Ja? Katanya kerjaan lo bukan ngepel, nyuci, tapi lo bilang barusan kayak pembantu. Maksudnya gimana? Mak nggak ngerti…”

“Gini, Mak. Jaja memang nggak disuruh ngepel dan nyuci, tetapi tugas yang Jaja akan lakukan mirip kayak pembantu. Di suruh-suruh gitu. Masa mau jadi artis gitu-gitu amat sih, Mak?”

“Ah, elo. Ngomongnya artis-artis terus…”

“Lahhh…kan niat Jaja kerja di tipi memang buat jadi artis, Mak. Ya, kebetulan sebelum jadi artis jabatan yang ada di tipi ya jadi PA…”

Mak Oneng sempat terdiam beberapa detik. Kayaknya dia sedang membayangkan kerjaan Jaja yang bakal penuh dengan penderitaan. Sebagai seorang ibu, Mak Oneng tentu ada perasaan kasihan juga kalo anak semata wayangnya ini diperlakukan kayak pembantu. Padahal, yang jadi pembantu cukup dirinya saja.

“Jadi lo serius mau berhenti kerja?” tanya Mak Oneng datar.

“Menurut Mak gimana?” tanya Jaja balik.

Mak Oneng diam lagi. Tiba-tiba ia berdiri dari tempat duduk dan masuk kamarnya. Jaja bingung.
“Mak, kok ninggalin Jaja? Jadi menurut Mak gimana? Jaja berhenti dari kantor apa nggak?”

“Ssssttttt. Jangan berisik!” Muka Mak Oneng keluar dari pintu, sambil memberi kode dengan jarinya agar Jaja jangan berisik. “Tunggu. Mak mau sholat dulu…”

Rupanya Mak Oneng pengen sholat Istikharah. Bagi lo-lo yang nggak tahu, sholat Istikharah itu sholat sunnat yang dikerjakan buat minta petunjuk Allah, supaya bisa ngambil keputusan. Kadang kan kita sulit tuh buat milih A atau B. Begitu juga dengan Mak Oneng. Ia nggak enak kalo asal jeplak, ngambil pilihan supaya Jaja supaya berhenti kerja. Kalo salah gimana? Nah, karena ragu-ragu mau ngasih pilihan apa, maka sholatlah Mak Oneng.

Sudah satu jam Jaja nunggu Mak Oneng sholat. Dua jam…tiga jam. Satu hari…tiga hari. Jaja sudah tumbuh jenggot. Uban-uban mulai muncul di rambut Jaja. Sampai akhirnya…

“Ja…” Mak Oneng keluar dari kamar.

“Ya, Mak…” ujar Jaja lemes. Matanya sudah belekan. Seluruh tubuhnya sudah dikerubuti lalat.

“Kamu nggak usah berhenti kerja…”

“Apa Mak?”

“Kamu nggak usah berhenti kerja...”

“Kenapa nggak usah berhenti kerja, Mak?”

“Ya, nggak usah aja…”

“Ya, kenapa, Mak? Jaja pengen tahu alasannya...”

“Duhhh, lo ini keras kepala banget sih kayak Babe lo. Kamu mau Mak kutuk jadi batu akik?”

“Nggak mau Mak. Udah nggak musim soalnya”

“Ya udah kalo nggak mau, nurut aja kata Mak. Lagian sekarang ini cari kerjaan susah. Banyak yang nganggur tahu?!”

“Baiklah kalo gitu, Mak…”

Akhirnya Jaja nurut kata Mak Oneng. Jelas, ia ogah dikutuk jadi batu akik. Mending ia menderita jadi Asprod atau PA, ketimbang jadi batu, meski batunya batu akik.

Meski pasrah untuk tetap jadi PA, ia masih aja nggak habis pikir, kenapa tugas PA banyak ngurus hal-hal yang nggak berhubungan dengan produksi. Tapi ya mau dibilang apa? Perintah Produser ibarat titah sang raja yang nggak boleh ditolak. Jadi bener kata Anto, kadang Produser itu diibaratkan kayak ibu tiri. Kalo Produser-nya kejam kayak ibu tiri, jadilah pepatah begini: “sekejam-kejamnya ibu tiri, ternyata masih kejam Produser”. Hiks!

(bersambung)

Derita Asprod #3: Kenalan dengan “Penghuni” Citra TV

Di hari pertama kerja, Jaja masuk kepagian. Harap maklum, Jaja adalah karyawan baru. Biasanya, dimana-mana karyawan baru itu rajin pangkal pandai. Alasan lain, antara rumahnya dengan kantor Citra TV jauuuuuh banget. Ya, kira-kira 40 kilometer lah. Di Jakarta, 40 kilometer itu bisa kayak setahun. Kalo nggak tahu jalan tikus, bisa kena macet. Nah, oleh karena takut sama tikus, eh salah, takut telat, maka Jaja datang pagi.

Padahal, jam kantor Citra TV yang resmi baru beroperasi pukul 08:30, tapi Jaja sudah masuk pukul 07:05. Sekali lagi, ia nggak mau telat di hari pertama. Kan nggak enak karyawan baru masuk jam 10, ya nggak? Makanya habis sholat subuh, ia langsung mandi jibang jibung, dan bersiap-siap berangkat ke Citra TV. Oh iya, pas mandi, Jaja nggak lupa sabunan dan gosok gigi *yaiyalah! Nggak penting banget infonya yak?*

“Ja, emang masuk kantornya jam berapa?” tanya si Mak Oneng heran.

“Pukul 08:30, Mak,” jawab Jaja.

“Tapi kok pagi-pagi amat berangkatnya, Ja?”

“Takut telat, Mak. Tahu sendiri kan kondisi lalu lintas di Jakarta, Mak...”

“Kenapa emang lalu lintas Jakarta?” tanya Mak Oneng lagi.

“Macet, Mak...”

“Ah, masa sih? Dulu zamannya Emak nggak macet, kok..”

“Jiaaahhh! Itu kan dulu, Mak. Dulu, Mak jalan masih pake delman istimewa. Trus duduk di samping pak kusir yang sedang bekerja. Sekarang beda, Mak...”

“Nggak ada becak lagi?”

“Udah ke laut Mak...”

“Jadi kalo mau naik becak ke laut gitu?”

“Bukan, Mak. Becak-becaknya udah dibuang ke laut. Nggak boleh beroperasi lagi di Jakarta...”

“Hmmm...kasihan ya...”

“Kasihan kenapa Mak?”

“Iya, kalo Abang becaknya nggak bisa berenang gimana dong?”

“Jiaaah...yang dibuang ke laut cuma becaknya aja, Mak. Abang becaknya mah kagak...”

Mak Oneng memang jarang keluar kampung buat ngelihat sudut-sudut jalanan di Jakarta ini. Makanya lalu lintas di Jakarta yang parah, belum sempat ngerasain lagi olehnya. Dia terakhir jalan-jalan keliling Jakarta pas Gubernurnya masih Ali Sadikin. Jangan-jangan sebagian dari lo kagak kenal siapa itu Ali Sadikin. Itu Gubernur Jakarta yang paling top. Sampai saat ini belum ada Gubernur yang sehebat doi.

Selain kemacetan yang parah, Mak Oneng juga belum merasakan keganasan para pengendara sepeda motor di jalan. Yang main terobos lampu merah, lawan arus, dan jalan di atas trotoar yang sebetulnya hak pejalan kaki. Parah memang. Para pengendara nggak punya etika berkendaraan lagi. Jadi, untung juga buat Mak Oneng nggak melihat pemandangan yang menyebalkan kayak gitu.
Baik, kita lupakan Mak Oneng, balik ke Jaja lagi...

Begitu sampai di lobi Citra TV, Jaja langsung cari resepsionis. Ia pengen lapor, sekaligus kenalan kalo ia adalah karyawan baru. Namun, hari masih pagi, jadi resepsionis belum nampak batang hidungnya. Di meja resepsionis, ada seorang security yang nampak sedang asyik tidur. Mulutnya terbuka lebar dan mengeluarkan bunyi nggak enak didengar kuping.

Jaja mencoba membangunkan.

“Assalamu’alaikum...”.

Sekali, dua kali, tiga kali disapa, security belum juga bangun. Baru setelah yang ketujuh, security itu terbangun dengan penuh kekagetan.

“Siaaap! Walaikum salam...” ujar security sambil berdiri dan memberi hormat ke Jaja.

Jaja sempat kaget.

“Maaf pak menganggu tidurnya. Kenalkan saya Jaja, karyawan baru di sini...”

“Iya, gimana mas. Ada yang bisa saya bantu?” tanya security sambil menyusap iler yang tadi sempat ngeces.

“Mau tanya ruang produksi dimana ya pak?”

“Oh di lantai 5, mas. Silahkan naik aja pake lift ke lantai 5...”

“Baik, pak...”

Jaja kemudian masuk lift buat naik ke lantai 5. Liftnya agak mengerikan. Pas jalan ke atas, agak goyang-goyang gitu. “Ini lift atau penyanyi dangdut sih?” pikir Jaja. Ah, barangkali, karena lift ini sering dipake artis-artis pas syuting acara dangdut di Citra TV kali jadi goyang-goyang.

Begitu keluar lift, di lantai 5 juga masih nggak nampak manusia secuil pun. Masih sepi sepoy. Yang terlihat cuma seorang office boy (OB) yang sedang bersih-bersih di sebuah meja di dalam ruangan kaca. Persis di depan lift ada sofa kecil. Oleh karena belum tahu ruang kerja, Jaja duduk di sofa.

Belum juga lama duduk di sofa, Jaja seperti mendengar ada sekilas suara tawa dari WC yang ada di samping lift. Setelah suara tawa, ada pula suara seperti benda jatuh ke dalam lubang WC. Plung! Mirip bunyi pup gitu deh. Jaja senang, ternyata selain OB, sudah ada karyawan yang sudah datang.
Sambil menunggu karyawan keluar dari WC, dari sofanya Jaja memperhatikan OB kerja, membawa ember dengan seperangkat peralatan pel dari satu tempat ke tempat lain. Makin lama, si OB makin dekat ke arah tempat duduk Jaja.

“Permisi ya, mas,” ujar si OB.

“Oh, silahkan, mas” ujar Jaja sambil mengangkat kedua kakinya, supaya si OB bisa mengelap lantai yang Jaja injak.

Sebelum si OB jauh, Jaja menyodorkan tangan kanannya ke si OB. Mas-Mas OB sempat kaget.


“Kenalkan, nama saya Jaja..”

“Saya Ivan,” ujar si OB sambil memberikan senyum.

“Saya karyawan baru di sini, mas Ivan...”

“Oh gitu. Pantesan datangnya pagi banget. Biasanya karyawan baru pada datang jam 10-an, mas..”

“Hehehe...”

“Hati-hati karyawan baru, mas. Sendirian pula...”

Wajah Jaja tegang. Kepo ingin mendengarkan penjelasan selanjutnya dari Ivan OB.

“Kenapa kalo karyawan baru, mas?” tanya Jaja kepo level 6.

“Biasanya diganggu sama ‘penunggu’ kantor,” jelas Ivan.

“Bukannya sudah ada karyawan yang datang mas?” tanya Jaja sambil tegang.

“Siapa mas?”

“Kayaknya masih di WC deh. Tadi saya dengar suara perempuan dan ada kayak orang lagi pup gitu...”

“Ah, belum ada yang datang kok mas. Barangkali itu...hmmm...” Ivan OB nggak mau melanjutkan penjelasan.

“Barangkali apa mas?”

“Ah, enggak kok…”

“Oh iya mas, liftnya memang rusak ya? Saya tadi naik goyang-goyang gitu. Padahal kayaknya lift masih baru…”

“Enggak, kok mas. Liftnya nggak pernah goyan. Tiap saya naiki nggak pernah goyang...”

“Oh gitu ya?”

“Wah, beneeer. Pasti mas diganggu..”

“Diganggu apa mas Ivan?” makin ketakutan.

“Saya permisi dulu ya mas,” Ivan bergegas meninggalkan Jaja. Tiba-tiba wajahnya jadi kayak ketakutan. Wajah Ivan itu makin bikin Jaja ketakutan.

Kini Jaja sendirian. Jantungnya dagdigdug. Terlebih lagi suara cewek cekikikan dan benda jatuh di lubang WC terdengar lagi sayup-sayup. Keringet mulai keluar dari pelipisnya. Ia nggak berani masuk WC, padahal pengen kencing.

Buat mengobati ketakutannya, Jaja baca doa. Abis baca doa, cowok ini langsung menghubungi Emaknya via hape.

“Mak, Jaja takut, nih,” ujar Jaja ngelapor pada sang Emak.

“Takut setan?” tanya Mak Oneng.

“Iya, Mak...”

“Jiaaah...setan aja lo takutin. Takut itu cuma sama Tuhan...”

“Pengennya gitu, Mak. Tapi sekarang Jaja lagi di lantai 5, nih. Sendirian. Nggak ada orang...”

“Kalo sendirian ya nggak ada orang kali. Gimana sih lo?”

“Iya, tapi ada suara cekikikan gitu Mak di WC...”

“Ya lo cekikikan aja juga,” usul Mak Oneng.

“Ah, Emak. Masa Jaja disuruh kayak setan?”

“Trus ada keluhan apa lagi?” tanya Mak Oneng seperti seorang dokter bertanya pada pasien.

“Tadi pas Jaja naik lift, lift-nya goyang-goyang. Katanya OB, selama ini belum pernah lift goyang-goyang..”

“Emang ada yang nyetel lagu dangdut?”

“Ya, nggak ada Mak. Mak ada-ada aja…”

Jaja curhat ke Maknya, karena selama ini Maknya selalu memberikan nasehat-nasehat jita dalam mengatasi masalah. Sang Mak bagai Motivator kaliber Mirio Tanguh yang super. Memang, nggak semua nasehat cespleng. Contohnya tadi, masa si Jaja disuruh cekikikan kayak setan? Namun, beberapa kali nasehatnya manjur.

“Kalo gitu lo berdoa aja. Udah berdoa blom?”

“Udah Mak...”

“Bagus kalo gitu. Doa minta pertolongan pada pencipta mahkluk di bumi ini, termasuk setan yang cekikian itu. Ngomong-ngomong doa lo apa, Ja?”

Allahuma inni a’uudzubika minal khubutshi wal khabaaits..”

“Jiaaah!! Itu mah doa masuk WC, Ja!”

“Ohh iya...Jaja lupa, Mak. Habis udah keburu ketakutan, Mak...”

“Yang bener...Alhamdulillaahii ladzii adzhaba ‘annil adzaa wa’aafaanii...”

“Lho, bukannya itu doa keluar WC, Mak?” tanya Jaja.

“Hehehe...oh iya. Mak kok lupa.

Akhirnya Mak Oneng memberikan ke Jaja doa pengusir setan yang mujarab. Jaja mulai berdoa dengan khusyuk. Saking kusyuk, matanya sampai merem. Tiba-tiba ada bunyi pintu dibuka dari WC. Bunyi pintu tersebut membuat Jaja merem semerem-meremnya dan mengulang-ulang baca doa.
Tiba-tiba seorang cowok menepuk pundak Jaja.

“Mas lagi ngapain?”

Tepukan cowok itu makin membuat Jaja ketakutan. Bahkan ada rembesan air keluar dari celananya. Yes! Jaja ngompol. Selain ngompol, Jaja juga keringetan. Namun, mulutnya tetap komat-kamit berdoa.

“Ampuuun seee...seetaaan! Amppuun...”

“Woiii! Gue bukan setan!”

“Ka..ka.kaloo bu..bu..bukan se..see taan aa..paa.. dong?”

“Gue Anto! PA! Production Assistance...”

Perlahan-lahan Jaja membuka satu per satu matanya. Pertama mata kanan.Begitu ngeliat sosok yang di depan matanya manusia beneran, mata kiri yang dibuka.

“Jadi bener kamu manusia? Bukan setan?”

“Yaaa...masih aja lo bilang gue setan. Emang situ siapa? Trus tadi ngapain komat-kamit?”

“Gue Jaja. Gue PA baru di Citra TV ini...”

“Ohhh...PA baru...”

“Tadi, gue dapat kabar dari OB, di sini ada penunggunya...”

“Ya, memang ada penunggunya. Salah satunya PA kayak gue ini…hahaha. Mungkin nanti lo juga bakal jadi penunggu...”

“Maksudnya?”

“PA itu jarang pulang rumah. Gaji kecil, tapi tugas dan tanggung jawab banyak. Tapi itu kudu kita telen mentah-mentah. Ya, itung-itung belajar sambil cari pengalaman kerja aja...”

“Ohh...jadi PA bisa jarang pulang gitu ya?”

“Makanya tadi gue itu ketiduran di kloset. Padahal gue lagi pup. Keren kan pup bisa tidur?”

“Hehehe...makanya tadi gue pikir bunyi-bunyi di WC itu setan, eh ternyata elo, To...”

“Yo’i!”

“Brarti suara cekikian yang ada di WC cewek jangan-jangan juga PA juga...”

“Suara cekikikan?” tanya Anto nggak paham.

“Iya. Tadi gue denger suara cekikikan dan suara bunyi pup, yang ternyata elo di WC...”

“Wah, kalo bunyi cekikikan mah gue, baru tahu,” ujar Anto mulai ketakutan.

“Jadi?” Jaja berubah ketakutan lagi.

“Kalo itu mah bener-benar SETAAAANNNN!!!!”

Anto kabur meninggalkan Jaja sendirian. Melihat teman barunya itu kabur, Jaja akhirnya ikut kabur.

(bersambung)

Derita Asprod # 2: Mak! Jaja Kerja di Tipi!

Setelah jadi cowok pengangguran hampir dua minggu lamanya, Jaja akhirnya dipanggil juga oleh HRD Citra TV. Cowok ganteng ini dipanggil gara-gara udah ngirim curriculum vitae (CV) dan lulus tes dalam rangka ngelamar kerja. Kebetulan Citra TV butuh banget beberapa karyawan televisi.Ada beberapa posisi yang dicari. Salah satunya jadi Production Assistance (PA).

Sebetulnya Jaja nggak tahu apa itu PA, termasuk tugas dan tanggung jawab jabatan ini. Harap maklum, Jaja bukan lulusan broadcacst dari perguruan tinggi. Ia adalah lulusan teknik mesin jurusan perakitan mesin jahit. Trus apa dong motivasi cowok ini sampai nekad ngelamar jadi PA?

“Pasti PA bisa jadi pintu masuk gue jadi artis di televisi,” pikirnya. Lo-lo semua masih inget dong impian Jaja mau jadi apa? Tepat sekali! Mau jadi artis sodara-sodara.

Sempat sih Jaja berselancar ke mbah gugle buat cari tau apa itu PA. Tapi penjelasan di mbak gugle kan cuma teori. Prakteknya? Jaja tetap aja masih blank pekerjaan seorang PA. Meski blank Jaja tetap memberanikan diri kirim CV. Ya demi merealisasikan impiannya sebagai artis. Nah, dua minggu lalu, setalah kirim CV, ia sempat dipanggil ikut Ujian Masuk Stasiun Televisi (UMST). Lokasi UMST di sebuah stadion sepakbola.

Awalnya Jaja bingung, kok mau kerja di tipi tesnya di lapangan bola. “Kerja di tipi apa seleksi Timnas, sih?” pikir Jaja. Meski ragu, ia tetap bertekad bulat untuk hadir ke stadion sepakbola dan ikutan tes.

Singkat cerita, perjuangan ikut UMST berakhir happy. Jaja lolos seleksi penerimaan karyawan baru Citra TV. Nah, hari ini ceritanya Jaja menghadap HRD stasiun televisi swasta yang bermarkas di jalan Kebon Kosong ini.

            “Apa motivasi kamu kerja di tipi?” tanya pak Luhut, Manager HRD Citra TV.

            “Jawabnya mau jujur apa basa-basi pak?” tanya balik Jaja.

            “Ya, jujurlah…”

            “Saya pengen jadi kayak Boy pak…”

            “Siapa tuh Boy?”

            “Bapak nggak kenal Boy?”

            “Enggak,” jawab pak Luhut sambil menggeleng. “Memang ngaruh gitu kalo nggak kenal Boy?”

            “Boy itu pemain sinetron Anak Jalanan, pak...”

            “Ohh...jadi kamu pengen jadi anak jalanan?”

            “Jiaaah bapak. Saya pengen jadi artis kayak Boy, pak. Kok anak jalanan?”

            “Jadi artis?” pak Luhut heran.

            “Iya, pak. Memang kenapa pak? Ada yang salah kalo mau jadi artis?”

            “Tipi ini nggak lagi cari artis, mas. Kita cuma buka lowongan untuk Editor, PA, maupun PD…”

            “Saya sih sudah tahu pak. Saya memang ngelamar jadi PA. Tapi motivasi saya tetap pengen jadi artis…”

Pak Luhut bingung. Nggak ngerti dengan maksud kalimat Jaja tadi. Ngelamar jadi PA, tapi motivasi jadi artis.

            “Yasudah. Terserah kamu lah. Sekarang saya mau ngetes kamu…”

            "Siap pak!"

Pak Luhut ngetes lari. Jaja bingung, kok tes jadi PA itu lari ya? Apa hubungannya PA sampai dites lari segala? Setelah dijelaskan oleh pak Luhut panjang kali lebar kali tinggi, Jaja baru ngerti. Bahwa salah satu kemampuan PA yang wajib dimiliki adalah harus gesit dan punya fisik prima. Dalam satu tugas, seorang PA harus mampu ngambil kaset dari tempat editing, yakni master edit, trus langsung dikasih ke MC dalam waktu cepat. MC bukan Master of Ceremony, lho, tetapi Master Control. MC adalah tempat dimana kaset-kaset hasil editan, siap ditayangkan alias di-on air-kan.

            "Bapak nggak salah ngasih tes kan?" tanya Jaja nggak yakin.

            “Enggak. Kamu sudah siap?” tanya pak Luhut sambil memegang stopwatch. Mirip kayak pelatih alletik sedang menguji atletnya. Stopwatch ini pun buat ngitung kecepatan Jaja lari. Kalo larinya cepat, lulus. Kalo lambat, nggak lulus.

            “Ini tesnya bener pak? Seorang PA harus lari?” tanya Jaja lagi.

            “Duuhhh! Ya bener lah. Nggak percaya amat sih kamu? Masa saya ngibulin kamu?”

Jaja garuk-garuk kepala. Dalam hatinya mau protes lagi. Mau mempertanyakan,tipi ini mau cari PA atau pelari sprinter sih? Ah, tapi daripada impian jadi artis nggak kesampaian, apa boleh buat, Jaja mau nggak mau harus ngikut apa kata pak Luhut ini. Lagi pula dalam sebuah adegan Anak Jalanan, Boy juga sempat dihukum lari keliling lapangan sekolah oleh gurunya. “Nasib gue kelak bakal mirip Boy, nih. Jadi artis...”

            “Tiga..!! Dua..!!..Satu…!!!” begitu aba-aba pak Luhut.

Jaja pun berlari dengan kencang ke arah tempat editing. Larinya bagai superhero Flash yang bisa mengalahkan kecepatan suara angin. Wuuzzzzzz!!! Saking cepat larinya, rok salah karyawati Citra TV sempat tersingkap. Lalu buku-buku yang ada di rak buku, berhamburan.

Begitu dapat kaset dari tempat editing, Jaja lari lagi ke ruang MC. Kalo sebelumnya sempat memporak porandakan buku-buku, angin yang dihasilkan dari Jaja lari membuat wig salah seorang karyawan copot dan bangku-bangku berputar kecang. Begitu selesai lari, ia balik ke meja pak Luhut.

            “Gimana, Pak?” tanya Jaja sambil ngos-ngosan.

            “Good! Waktu kamu 1 menit, 9 detik...”

Jaja masih ngos-ngosan.Mulutnya mangap. Keringatnya mengucur dari dahinya.

            “Ok, sekarang kita lanjutkan ke tes berikutnya, yakni angkat karung beras...”

            “Pak, yang bener aja, masa tesnya ngangkat karung beras? Kayaknya tes ngangkut-ngangkut ini cocok buat para kuli panggul di Kramat Jati deh...”

            “Eits! Jangan salah! Jadi PA itu harus kuat ngangkat juga, tahu! Nanti di lapangan, PA harus ngangkat tripod kamera, bantu ngangkat lighting, dan barang-barang buat syuting. Jadi, PA harus punya fisik yang prima. Ngerti?”

Lagi-lagi Jaja terpaksa harus ikut apa perintah pak HRD. Kalo menolak perintah, bisa-bisa nggak diterima kerja di Citra TV. Kalo nggak diterima kerja, kesempatan buat jadi artis jadi tertutup deh.

Di depan Jaja telah tersedia tiga karung beras. Ada karung beras 25 kilo, 40 kilo, dan 50 kilo. Perintah pak Luhut, Jaja harus mengangkat satu per satu karung beras tersebut, lalu baru ketiga karung beras diangkat bersamaan. Begitu angkat tiga karung beras, pak Luhut akan menghitung berapa lama Jaja mampu mengangkat.

            “Sudah siap ya? “Tiga..!! Dua..!!..Satu…!!!” ucap pak Luhut memberi aba-aba lagi. Masih memegang stopwatch untuk menghitung berapa lama Jaja bisa bertahan mengangkat karung beras tersebut.

Jaja mengangkat karung beras satu, lalu karung dua, dan karung tiga. Tigapuluh menit kemudian, Jaja udah nggak tahan. Ia pun menurunkan karung beras tersebut.

            “Pak, sebelum tes dilanjutkan, boleh saya minta sesuatu?” pinta Jaja. Napasnya ngos-ngosan. Belum selesai ngos-ngosan lari, kini giliran ngos-ngosan gegara ngangkat karung beras seberat 115 kg selama 30 menit.

            “Permintaan apa?” tanya pak Luhut heran.

            “Boleh saya minta air minum. Saya takut dehidrasi...”

            “Waah, maaf saya belom dikasih air sama office boy...”

            “Yasudah, izinkan saya pingsan ya, pak...”

Gubrakkk! Jaja tersungkur.

            “HELPPP!!! I need somebody...HELPPP!!!”*niru kelompok The Beatles nyanyi lagu Help*

***

Sebuah motor ojek online berhenti tepat di gang depan rumah Jaja. Belum juga sempat membayar ongkos ke Tukang Ojek, Jaja sudah berteriak kencang. Suara cempreng berkekuatan 10 oktaf itu membuat resleting celana Tukang Ojek copot dan celananya melorot.

            “Maaaakkk!!! Jaja diterima kerja di TIPIIIIII!!!” teriak Jaja.

Suara teriakan Jaja bikin Mak Oneng berhenti menjemur beha-behanya yang berwarna-warni itu. Emak-Emak setengah baya ini langsung berlari ke arah datangnya suara itu. Jaja yang tadi berada di jok motor ojek online langsung melompat dan mengejar Emak-nya. Adegan lari dengan efek slow motion pun terjadi. Kalo lo lihat, adegannya mirip kayak di film-film Bollywood.

            “Jaaajaaaa….!!!!”

            “Emaaaakkk…!!!”

Mereka pun saling berpelukan dan berputar-putar.

            “Mak, makasih ya atas doa restu yang telah diberikan. Akhirnya Jaja jadi artis…eh..maaf diterima kerja di tipi…”

            “Alhamdulillah…”

Jaja pengen cium tangan Mak-nya. Tapi…

            “Mak nggak abis kupas bawang kan?”

            “Enggak…”

Mendengar Mak-nya nggak ngupas bawang, Jaja akhirnya berani mencium berkali-kali tangan Mak-nya. Nggak takut lagi matanya pedih. Kecupan bibir Jaja ke tangan Mak-nya sebagai tanda rasa syukur yang mendalam, karena sudah diterima jadi pelari spinter dan kuli panggul beras, eh salah ding...maksudnya diterima kerja jadi PA di Citra TV.

(bersambung)

Sabtu, 13 Februari 2016

DERITA ASPROD: BERSAKIT-SAKIT DAHULU, MATI KEMUDIAN



Sinopsis

Sejak lama Jaja pengen bingits masuk tipi. Ia pengen jadi artis kayak Tora Sudiro atau Darius Sinathrya. Soalnya, jadi artis itu enak. Selain duitnya segudang, fansnya segudang, yang ngelamar buat jadi calon istri juga segudang. Ya, begitulah hayalan tinggi seorang anak Betawi yang lama nongkrong di emperan Kalijodo. 

Ia pikir, dengan tampangnya yang ganteng jental jentul, bisa ngetop bagai bintang Hollywood, at least bintang sekelas Starvision atau Multivision lah. Berbagai cara ditempuh, mulai dari ikut cover boy-cover boy-an, sampai lomba angkut koper ia lakukan. Nasib berkata lain. Cowok jomblo level 10 ini akhirnya masuk tipi, tetapi bukan jadi artis, melainkan jadi asisten produksi alias asprod di Citra TV. 

“Ya, barangkali ini batu loncatan buat jadi artis,” pikir Jaja penuh optimis, meski dalam hatinya remuk.

Awalnya Jaja nggak ngerti tugas dan tanggung jawab sebagai asprod. Berbagai halang dan rintangan dilakoni. Bahkan, ia hampir saja frustrasi, walau nggak sampe bunuh diri. Namun, berkat bimbingan dan penyuluhan secara intensif dari sang Emak Oneng yang super, Jaja bertahan jadi asprod. Ia pun bangga jadi asprod. Nggak heran, Jaja pun berslogan: “Asprod? #rapopo!”.

Di antara pengalaman jadi asprod, ada kisah cinta Jaja dengan Abel yang very very menyesakkan. Namun, hubungan mereka nggak bertahan lama. Kesibukannya sebagai asprod bikin Abel terlantar, bagai pemulung terlantar di emperan. Akhir kisah, hubungan cinta mereka kandas. Namun, lagi-lagi berkat bimbingan sang Emak yang lulusan sekolah motivator Mirio Tagih, Jaja bangkit dari keterpurukan hatinya buat ngejar impian jadi Produser.

Nah, selamat mengikuti kisah bersambung “Derita Asisten Produksi” ini. Semoga nggak kisah-kisahnya nggak garing. Kalo garing, mohon dimaafkan. Ya, namanya juga usaha. Oh iya, apabila ada nama atau peristiwa sama pada kisah-kisah ini, semuanya hanyalah kebetulan saja. So, don’t worry be happy. Sebagaimana kata pepatah, berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian *kok nggak nyambung ya?*. Pokoknya, kisah ini hanyalah fiksi. Jadi, nggak perlu sakit hati.

***


Kisah #I

Minta Doa Restu Ortu

Sebelumnya kenalan dulu sama pemilik kisah ini: Jaja. Nama panjangnya: Jajaaaaaaaaaaaaa. Ups! Itu mah kalo si Jaja dipanggil sama Emaknya. Etapi emang nggak ada nama panjang, selain Jaja. Entahlah, kenapa ortu si Jaja pelit amat ngasih nama panjang.

Sejak lama, Jaja pengen banget masuk di tipi. Bukan pengen kerja, tapi pengen jadi artis. Makanya, segala usaha pernah ia jabanin. Mulai dari ikut lomba cover boy-cover boy-an, ikut casting jadi model iklan, sampai lomba angkat koper. Yang terakhir itu si Jaja emang salah banget. Bukan pemilihan cover boy, tetapi dalam rangka Porter Hunt alias pemilihan tukang koper di stasiun kereta api. 

Buat ukuran orang Betawi, wajah Jaja dianggap ganteng. Mari kita gambarkan wajah Jaja kayak apa, sehingga lo-lo semua bisa ngebayangin kegantengannya. Kita mulai dari bentuk wajah. Jaja punya wajah oval. Dagunya lancip kayak pinsil 2B. Rambutnya keriting kriwil-kriwil mirip artis reegeee yang jarang keramas.

Trus hidungnya. Soal hidung rada aneh, nih. Kenapa? Soalnya, hidung Jaja itu macung enggak, pesek juga enggak. Begitu pula dengan bibir. Bibirnya nggak bisa dibilang tipis, juga nggak bisa dibilang tebel. Terakhir giginya. Tadinya giginya sempat maju dikit. Tapi pas Jaja sweet seventeen, Emaknya menghadiahkan kawat berduri buat dipasang di giginya. Awalnya si Jaja protes, kenapa harus kawat berduri, kenapa nggak kawat aja.

       “Mak lo ini anti-maintream, ngerti?! Daripada Mak ngasih hadiah kawat nyamuk, mending kawat berduri supaya gigi lo indah berseri,” cerocos Mak Oneng, Emaknya si Jaja ini.

Back to story. Saking ngebet jadi model, Jaja seringkali mimpi. Pernah suatu malam pas iler sedang meler-melernya, Jaja dikejar-kejar wartawan. Si wartawan ngejar-ngejar Jaja bukan karena hutang, tapi Jaja disangka bintang Hollywood yang lagi happening. Tau sendiri lah wartawan nggak bisa lihat artis dikit, langsung nodong pake mic buat diwawancarai. Biasanya wartawan model begitu wartawan infotainment.

Pernah pula Jaja mimpi dapat kontrak main film seharga jutaan dolar. Padahal perannya sederhana, yakni sebagai penyelam. Hanya bukan penyelam di dasar laut, tetapi penyelam di septic tank.

Mimpi yang nggak kalah seru adalah pas Jaja sempat menang lawan Arul dalam memperebutkan artis seksih Sopiah Lucubah. Jadi, ceritanya cinta segitiga gitu lah. Arul suka Sopiah, sementara Sopiah suka Jaja. Arul yang vokalis band Porno Band itu berbagai cara ngerebut hati Sopiah, tapi emang dasar Jaja lebih ganteng, rajin sholat, dan berahklah mulia, kalahlah Arul. Pas lagi pengen adegan mesra...  

“Woi! Pasti lo mimpi lagi deh,” ujar Mak Oneng sambil nyiram air segayung ke muka anak semata wayangnya itu.

Jaja sontak kaget. Kedua tangannya membasuh mukanya yang kena air.

“Astagfirullah! Ada apa, nih?” tanya Jaja gelagapan. “Mana Sopiah?! Mana?!”

“Mana Sopiah...Mana Sopiah? Sopiah di sono-noh! Di laut,” kata Mak Oneng.

“Sopiah bener di laut, Mak?” tanya Jaja, belom sadar.  

“Jiaaaah!!! Lo mimpi lagi, tahu?!” jelas Emak. “Besok-besok kalo lo masih ngimpi, Emak bakal  nyiram lo seember...eh..dua ember deh...”

“Idiiiiih, Emak kok gitu sih? Pan Jaja cuma mimpi. Mimpi kan nggak nyusain orang. Bukan kejahatan kayak korupsi, Mak...”

“Jiaaaahhh! Pake ngajarin Emak segala. Lo tahu nggak, Ja? Gara-gara mimpi, lo bisa jadi gila! Banyak tuh orang yang pada mimpi, tapi akhirnya masuk rumah sakit gila...”

“Tapi banyak orang sukses gara-gara bermimpi, Mak...”
Jaja sok niru pepatah orang sukses: “Impian yang kuat lebih penting dari bakat”. Apalagi cowok berlesung pipit di jidat ini pernah ikut MLM yang saban seminar seluruh pesertanya disuruh mimpi.

“Coba buktikan kalo lo bakal sukses kayak orang-orang yang sukses itu...”

“SIAAAPP, MAK!!!” ucap Jaja dengan nada 10 oktaf sambil bangkit dari tempat tidur.

“BOCAH GEMBLUNG!!! LO MAU MATIIN EMAK?” damprat Mak Oneng. Nada suara tinggi mirip Robert Plant, vokalis Led Zeppelin, itu bikin kuping Mak Oneng budeg-deg.

“Maap, Mak. Jaja nggak sengaja. Jaja cuma semangat aja menghadapi tantangan Mak...”

“Semangat sih semangat...tapi kalo semangat lo bikin kuping Mak budeg mah namanya nyikasa Mak...”

“Iya, Mak, maap. Jaja nggak bakal ngulangin lagi,” ucap Jaja sambil cium tangan Emaknya berkali-kali. “Mohon doa restu ya, Mak...”

Sebagai anak yang baik dan tidak sombong, Jaja minta restu dari ortunya yang tinggal satu-satunya di dunia yang fana ini. Kata orang sukses juga, kalo lo mau sukses kudu minta restu ortu. Sejelek-jeleknya ortu lo, mereka bakal bikin lo sukses dunia akhirat.

Begitu pinginnya Jaja sukses. Makanya ia berkali-kali cium tangan Maknya. Gegara cium tangan Mak ini, Jaja sempat mengeluarkan air mata.

“Yasudah, Mak maapin lo. Tapi nggak usah nangis gitu, dong, Ja. Cup! Cup! Cup!”

“Jaja sebenarnya nggak nangis, Mak...”

“Nggak nangis kenapa mata lo keluar air mata?”

“Tangan Mak bikin perih mata Jaja...”

“Hehehe...tadi Mak abis ngupas bawang, trus lupa cuci tangan...”

Jaja pingsan. Gubraakkk!!!