Kamis, 26 November 2009

SERASA DI RUMAH SENDIRI

Naik kendaraan umum itu mengasyikan. Buat gue, selain menjadi rakyat sesungguhnya, naik kendaraan umum melatih kepekaan sosial. Lebih dari itu, gue jadi lebih bisa mengenal prilaku warga Indonesia yang asli, seperti yang gue alami ketika gue naik busway kemarin.

Ketika naik busway dari Harmoni menuju Terminal Pulogadung, mata gue langsung tertuju pada seorang gadis di bangku pojok depan, persis di belakang sopir. Bukan karena parasnya yang kece atau aduhai yang membuat mata gue langsung fokus pada gadis ini. Tetapi ia menggenakan rol rambut selama perjalanan yang mengantarkan gue menuju peristirahatan, eh bukan maksudnya sampai ke Terminal Pulogadung.

“Ini cewek sadar nggak ya pake rol rambut?” tanya gue dalam hati.



Terus terang gue penasaran banget makanya timbul pertanyaan itu. Soalnya setahu gue, perempuan kalo nge-rol rambutnya di rumah, bukan di busway. Ini mah beda banget. Gadis ini dengan cuek mengenakan rol rambut di busway. Gue yakin hampir seluruh pasang mata di dalam busway ini melihat gadis ini dan rol rambutnya.

“Serasa di rumah sendiri ya?”



Itulah hebatnya anak muda-anak muda sekarang. Cuek, nggak peduli, masa bodoh, dan aneka ketidakpedulian lain. Selama yang mereka lakukan tidak mengganggu orang lain, mereka akan melakukannya, termasuk menggunakan rol rambut yang menurut gue aneh aja dilakukan di busway. Atau barangkali gue terlalu naif, menuduh gadis di busway yang mengenakan rol rambut ini “keteraluan”.

Semakin serasa di rumah sendiri, ketika gadis dengan rol rambut ini asyik bermain-main Blackbarry plus mendengarkan musik via ear phone. Keunikan inilah yang nggak mungkin elo jumpai ketika naik kendaraan pribadi.

all photos copyright by Jaya

IBU SI PELUKIS BAJU

"Ibu pelukis ya?" tanya Moza.

"Kelihatannya sih begitu. Menurut adik, Ibu cocoknya jadi Pelukis atau jadi anggota KPK?"

"Kalo saya sarankan, karena tubuh Ibu kecil tetapi gesit dan cerdas, Ibu jadi cecak aja. Biar yang lain jadi buaya. Gimana usul saya ini, Bu?"

"Wow! That's fantastic!"

"Maksudnya Fantastic Four yang ada 4 jagoan itu, Bu?"

"No! Saya suka menjadi cicak. Sebab cicak itu hidup di tiga tempat..."

"Hah? Cicak hidup di 3 tempat?" Moza bingung.

"Iya! Di KPK, di tembok, dan sekali-sekali di kepala manusia kalo kebetulan cicaknya jatuh dari atap rumah..."

Tetoooottt!!!

MENIKMATI BODY SEGEDE GABAN

Jarang banget orang yang bersyukur dan menikmati pemberian Tuhan dengan apa adanya. Yang terjadi justru sebaliknya, begitu tubuh gembrot, buru-buru melakukan aksi melangsingkan body. Mending cara melangsingkannya sehat, misalnya melakukan olahraga secara teratur dan menjaga asupan makanan yang bener. Kebanyakan mah malah melangsingkan dengan cara instans.

Ketika seluruh anggota body banyak yang kendor, mayoritas banyak yang panik. Wajah ditarik sana-sini. Payudara yang kendor, maupun pantat yang udah turun gara-gara sering “ditindih-tindih”, ikut dipermak. Walhasil, body jadi fake alias palsu alias nggak sesuai asli ciptaan Tuhan. Ingat, lho, ini berbeda kalo kita melakukan dengan cara alami, olahraga dan menjalankan gaya hidup sehat secara alami.

Pretty Asmara salah satu orang –juga public figure- yang menikmati sekali pemberian Tuhan. Dengan tubuhnya yang gede menjuntai segede-gede gaban ini, ia happy banget. Ia tahu kalo menderita obesitas atawa kegemukan, tetapi agaknya ia tetap pada pendiriannya untuk menjaga body-nya ini sebatang kara, eh maksudnya apa adanya.

Pretty melihat celah dari body-nya sebagai sebuah rezeki dan kenikmatan yang diberikan Tuhan padanya. Toh hasilnya memang nggak sia-sia. Dengan body seberat lima karung beras ini, ia tetap tampil percaya diri nggak kalah dengan bintang-bintang Lux atau bintang-bintang obat pelangsing tubuh.

Saya yakin, Pretty ingin sekali body-nya langsing kayak gangsing atawa gitar Spanyol. Siapa sih wanita yang nggak mau langsing dan disiul-siulin para pria ketika berjalan melintas dihadapan mereka? Namun rupanya Pretty memilih hidup membujang, lho kok? Maksudnya lebih memilih ber-body aduhai seperti sekarang ini. Gede, tapi indah. Ibarat slogan yang ada di tempat umum: “Buanglah sampah pada tempatnya”. Lho, ini slogan kok nggak nyambung amat ya?

Jumat, 06 November 2009

SAMA-SAMA BEGO: SEBUAH KISAH PELANGGAR...

Nggak semua orang yang bermobil otaknya lebih pintar daripada mereka yang cuma punya motor. Kedisiplinan orang nggak bisa diukur dari kelas sosial. Mau pake mobil kek, atau motor, kalo dasarnya orang tersebut punya otak bego, ya bego aja. Bego dalam konteks ini dalam soal kedisiplinan.

Anda pasti seringkali melihat mereka yang bermobil membuang sampah di jalan. Entah mereka sadar atau memang prilaku mereka sulit buat diubah, aneka sampah (tisu bekas, puntung rokok, plastik, botol aqua, dll) dibuang dari balik jendela mobil. Bego kan? Ada lagi hal bego yang juga dilakukan kaum bermobil yang selalu gue temukan tiap pagi di jalan tol, yakni menerobos bahu jalan.

Gue yakin banget, tingkat intelektual kaum bermobil cukup bisa diandalkan, meski hal ini perlu pembuktian lebih lanjut. Tetapi mereka pasti bisa baca dan nggak buta huruf kalo bahu jalan cuma buat keadaan darurat, bukan buat mengejar waktu buat cepat sampai ke kantor. Mereka bukan saja membahayakan diri, tapi karena kebegoan mereka bisa membahayakan orang lain, yang jelas-jelas bersama-sama “menikmati” kemacetan.




Bagaimana dengan motor? Gue yakin, dari 100% pengguna motor yang benar-benar disiplin cuma 10%. Nggak cuma selalu memakai helm –karena pakai helm bukan cuma kewajiban atau supaya nggak ditilang polisi, tapi kebutuhan buat diri pengguna-, tapi nggak melawan arus, menerobos lampu merah atau verboden, berada di jalur cepat, dan masih banyak lagi. Ironisnya, banyak orang yang memilih menggunakan motor cuma buat melakukan hal-hal yang seringkali melanggar kedisiplinan. Yang penting cepat sampai kantor atau tujuan, menerobos it’s ok. Nah, lho?!

Setiap hari ada aja yang gue temukan para pemilik yang nggak disiplin. Sekarang ini gue amati, orang yang mencoba disiplin malah dianggap bego. Menunggu di garis stop pada saat lampu masih berwarna merah, eh di belakang udah pada klakson-klakson. Berada di belakang mobil dengan jarak aman, eh malah diklakson-klason juga, karena dianggap kurang mepet dengan mobil depan. Padahal kalo mobil depan mundur, yang salah tetap mobil di belakangnya, karena berhenti terlalu mepet di belakang. Yang paling gondok, kalo kita mengambil jarak aman, ada mobil yang bakal menyerobot atau menyalip kita. Kita dipotong gitu, maksudnya.

Foto yang gue jepret ini berada di jalan Cikini, Jakarta Pusat. Berkali-kali kalo ke Taman Ismail Marzuki (TIM), gue pasti melihat ada mobil dan motor yang diparkir di trotoar. Gue menggambil kesimpulan, di situ ada kantor, dimana kantor itu nggak ada lahan parkir. Daripada parkir di tempat lain yang mungkin lebih jauh, para pemilik kendaraan di kantor tersebut memanfaatkan trotoar yang ada di depan kantor. Walhasil, trotoar pun nggak bisa lagi dipergunakan sebagai tempat buat pejalan kaki. Hak pejalan kaki dirampas. Bego kan pemilik mobil dan motor di kantor itu? Sayang, meski udah ketahuan sama-sama bego, Komisi Nasional (Komnas) Hak Azasi Manusia (HAM) nggak membela hak pejalan kaki yang dirampas oleh pemilik kendaraan bermotor itu.