Senin, 12 Oktober 2015

TERUS MELEMAH, RUPIAH AKHIRNYA MENIKAH...

Kalo postingan saya sebelumnya mengenai dua perempuan yang mencari pasangan hidup, kali ini mengenai sepasang pria dan perempuan yang sudah resmi menikah. Nama mempelai pria: RAHMAT, sementara nama mempelai perempuannya RUPIAH.





DUA PEREMPUAN CANTIK MENCARI PENDAMPING HIDUP


Entahlah kiriman teman via WA ini info benar apa sekadar hoax. Kalo benar, sungguh para pria yang belum memiliki pasangan punya kesempatan untuk mendapatkan jodoh. Bukan cuma seorang perempuan, tetapi dua perempuan sekaligus. Itu "paket" yang wajib dijalankan calon mempelai pria.



Rabu, 07 Oktober 2015

ALAMAK! WAKTU SENGANG PENGEMIS DIPAKAI MAIN TABLET...

Pada 23 September 2015, lewat akun Facebook-nya, Ronald Agus Handaya memposting sebuah foto yang bikin kita geleng-geleng kepala. Sebuah foto dua orang pengemis, dimana seorang pengemis yang berjenis kelamin perempuan sedang bermain tablet, sementara tangan kanannya memegang sebatang rokok.

"Ini yang namanya ngemis2 di jalan...waktu senggangnya main tablet sambil ngerokok, masih mau kasih uang ke mereka? Foto di area Pasteur Bandung."

Begitu status di akun FB Ronald.




Minggu, 04 Oktober 2015

TRUK BAWA PIPA PANJAAAANG BANGET

Trucks carrying very long pipe

Selasa, 05 Maret 2013

Farhat Abbas: "Yang Penting Bukan Menang Jadi Presiden.."

Akhirnya saya bisa bertemu dengan Calon Presiden (Capres) 2014, Farhat Abbas di Pamulang, Tangerang Selatan kemarin (28/1/13). Pengacara ini memang cukup sibuk, terlebih lagi setelah pencalonan dirinya sebagai Capres yang banyak dilecehkan orang. Meski menjadi bahan olok-olok, sejumlah instansi dan perusahaan justru malah mengundangnya untuk memberikan ceramah umum.

Berikut sekelumit obrolan dengan Farhat Abbas yang Penulis temui di salah satu perguruan tinggi swasta di Pamulang. 

Kang Jaya (KJ): Sekarang billboard bang Farhat ada dimana-mana…
(Kebetulan penulis melihat billboard suami Nia Diniaty ini ada di beberapa lokasi. Pada saat menuju ke Pamulang pun penulis sempat berhenti dan mengabadaikan lewat blackberry billboard Farhat sebagai Capres)

Farhat Abbas (FA): Cuma tiga, tapi nanti mau diganti dengan yang baru.

KJ: Tagline-nya tetap sama Bang?

FA: Masih, “Aku Indonesia!”

KJ: Kenapa sih pake ada kata sumpah pocong segala, Bang?

FA: Orang mati aja diingetin, jadi kalo jadi Presiden ya harus diingetin. Salah satunya disumpah pocong…

KJ: Nggak pengen ngalamar masuk partai Bang?

FA: Ah, enggak. Biar partai saja yang ngelamar saya…

13594244951917393340

KJ: Kenapa sih Bang ngotot jadi Capres?

FA: Sebenarnya saya ingin mewakili generasi muda. Lihatlah Capres-Capres sekarang dari generasi tua. Ada yang angkatan 60-an lah, 70-an lah. Apa sih? Mana angkatan mudanya?

(Sampai di sini, penulis berpikir. Dengan kegokilan Farhat berani mencalonkan diri sebagai Capres, ternyata selain sensasi, ada sisi kritisnya, yakni mempertanyakan Capres yang itu-itu aja. Wajah Wiranto lagi-Wiranto lagi. Atau Prabowo lagi-Prabowo lagi. Padahal mereka dulu sudah mencalonkan diri jadi Capres lalu diajak jadi Cawapres oleh Jusuf Kalla dan Megawati, dan kalah.
Dulu pernah Sri Bintang Pamungkas berani menjadi Capres saat Soeharto masih berkuasa. Saat itu, ia dianggap gokil, karena nggak ada yang berani mencalonkan diri jadi Presiden selama Soeharto masih berkuasa. Tetapi dia cuek bebek. Jadi memang harus ada orang-orang gokil seperti Sri Bintang atau sekarang model Farhat ini. Memang sih, cara Farhat mencalonkan diri jadi Capres terlalu norak-norak bergembira)

KJ: Tapi Abang yakin menang jadi Presiden?

FA: Yang penting bukan menang jadi Presidennya, tetapi harus ada wakil dari generasi muda..

KJ: Abang cukup kontroversial, tetapi jumlah followers Twitter Abang bertambah ya…

FA: Alhamdulillah. Sekarang sudah 70 ribu follower…

KJ: Sebelumnya?

FA: Cuma delapan ribu…

KJ: Ngomong-ngomong Abang ke sini dalam rangka apa?

FA: Shooting. Saya disuruh melucu. Saya nggak bisa melucu, tetapi setidaknya bisa menentawakan diri sendiri…haha..

(Tak lama kemudian, Farhat naik ke atas panggung dan ditepuki oleh sekitar 2 ribuan mahasiswa di perguruan tinggi tersebut. Kelar shooting, seorang mahasiswa dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEN) dan mengungkapkan kesalutannya pada Farhat, karena berani mencalonkan diri sebagai Capres)

FA: Iya dong, anak-anak muda harus mendukung.

(Mendengar ucapan Farhat ke anggota BEM ini, Penulis cuma bisa senyam-senyum. Ternyata masih ada pendukung Capres Farhat ya? Apakah pendukung Farhat dianggap pendukung gokil? Secara Farhat dianggap gokil. Ah, daripada ikut-ikutan gokil, Penulis langsung izin permisi pada Farhat untuk menyudahi obrolan ini. Namun sebelumnya, Penulis sempat memfoto sepatu yang dipakai Farhat siang itu, yakni sepatu warna emas dimana di seluruh sepatunya terdapat ujung lancip mirip duri-duri di durian)

Minggu, 27 Januari 2013

DALAM SEMENIT, DUKUNGAN TOLAK HAKIM AGUNG SUDAH RATUSAN


Diky Chandra, mantan Wakil Bupati Garut, mengirim Blackberry Massage (BBM) ke saya. Isinya tentang dukungan pernyataan Wulan Danoekoesoemo dari Lentera Indonesia yang mengecam mereka yang menjadikan pemerkosaan sebagai bahan canda.

Bloggers, jika Anda punya BB, saat ini ramai teman-teman dicontact list Anda yang menyebarkan BBM seperti yang saya terima. Sebar menyebar pesan ini ternyata cukup menarik. Sebab, dalam tempo tidak kurang dari satu menit, muncul nama-nama yang turut mendukung, meski saya perhatikan urutan nama yang disebar tidak akurat dari penyebar satu ke penyebar yang lain. Dari nomer satu sampai enampuluhdua masih sama, yakni Moh Jumhur Hidayat di urutan 1 dan Abdul Aziz di urutan ke-62. Begitu di urutan ke-63, BBM yang disebarkan oleh teman saya pertama bernama Ferrasta “Pepeng” Soebardi, sedang dari BBM teman saya satu lagi urutan ini diisi oleh Katon Bagaskara. Diky Chandra yang mengirimkan BBM ke saya duduk di posisi ke-72, sementara BBM dari teman saya yang lain, nomor 72 sudah diisi oleh Netty Prasetiyani. Anyway, pembahasan ini memang sangat nggak penting.

Bloggers, sebar menyebar BBM untuk mencari dukungan ini terjadi lantaran calon Hakim Agung M. Daming Sanusi dalam fit and proper test di hadapan Komisi III DPR melontarkan pernyataan yang sangat tidak pantas. Ia melontarkan candaan bahwa pemerkosa tidak perlu dihukum mati karena si pemerkosa dan yang diperkosa sama-sama menikmati. Ironisnya, anggota Komisi III DPR menanggapi candaan Daming dengan tertawa. Melihat kondisi miris itu, Wulan Danoekoesoemo dari Lentera Indonesia mengajak kita untuk memberi dukungan Petisi Dukungan Tolak Calon Hakim Agung M Daming Sanusi.

Daming memang sangat gegabah mengungkapkan pernyataan tersebut. Padahal, menurut Ustaz Arifin Ilham, hukuman bagi Pemerkosa adalah HUKUMAN MATI. “Sewaktu saya masih belajar di Mesir, para pemerkosa dijatuhkan hukuman mati,” ujar Ustaz Arifin.

Lanjut Ustaz, hal tersebut pernah ditanyakan kepada Mufti negara Mesir mengenai dasar hukuman mati bagi para pemerkosa?  Jawabanya terdapat dalam surat 5 al-Maidah ayat 33. Pemerkosa digolongkan sebagai “Qothi-ut Thoriiq“, yakni “yang memerangi manusia”.

Sesungguhnya pembalasan terhadap orang orang yang memerangi Allah dan RasulNya, dan membuat kerusakan dimuka bumi, hanyalah DIBUNUH !, atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri. Yg demikian sebagai penghinaan utk mrk didunia, dan diakhirat mrk mendapatkan siksaan yg sangat pedih.”
(Surat al-Maidah 33)

Namun, selama syariat tidak ditegakkan, hukuman MATI tidak akan pernah bisa tegak. Pemerkosa bebas berkeliaran. Pelecahan demi pelecehan terjadi. Bukan cuma yang sudah dilakukan oleh M Daming Sanusi, tetapi orang lain. Barangkali Bloggers belum lupa Olga Syahputra pernah melecehkan dalam candanya ketika menjadi pengisi acara di Dekade Trans Untuk Indonesia pada 15 Desember 2011. Saat itu Olga berperan sebagai hantu. Saat ditanya lawan mainnya tentang kenapa dia sampai menjadi hantu, dia menjawab: matinya sepele, karena diperkosa sopir angkot.

Bloggers, perkataan Olga itu dianggap tidak etis dan tidak menghargai para korban pelecehan di dalam angkot yang memang sedang marak beberapa waktu lalu. Gara-gara perkataan Olga, Helga Worotitjan, perwakilan aktivis advokasi pemerkosaan, mengajukan laporan resmi ke Komisi Penyiaran Indonesia (KPI).

Jumat, 12 Oktober 2012

Lebay, Baru Mati Satu Orang Sudah Heboh!

"SMA 70 Sama SMA 6 Itu Lebay Baru Mati Satu Saja Hebohnya Minta Ampun...", itulah Twit yang di-retwit Ketua Umum Gema Damai Indonesia Fahira Idris ke akun Twitter redaksi Kompas (Kamis, 27/9/2012). Sejak tewasnya Alawy Yusuanto Putra, pelajar SMA Negeri 6, yang ditusuk dalam tawuran di Bulungan, Fahira beberapa hari ini terus memantau percakapan para pelajar via sosial media (sosmed), salah satunya via Twitter.

Kalimat yang di-twit itu sungguh menyesakkan. Betapa tidak, bukan ucapan duka untuk korban yang diberikan, malah sikap tanpa perasaan. Ironisnya, sebagian dari mereka tetap memiliki rasa dendam dan akan kembali melakukan aksi tawuran.

Mereka masih merencanakan pembalasan. Saya pantau percakapan mereka,” ujar Fahira, yang saat ini melakukan kampanye dengan hastag #StopTawuran dan #MaluTawuran.

Tawuran pelajar ternyata lebih radikal daripada teroris yang selama ini digembar-gemborkan. Namun, benar kata teman saya, tawuran pelajar tidak ada uangnya. Berbeda dengan pendzoliman Pesantren dan organisasi Islam di Indonesia yang banyak uangnya, sehingga segenap instansi maupun organisasi mata duitan mau bersusah payah bekerja untuk mengobok-obok Pesantren, termasuk membuat rekayasa-rekayasa dengan dalih teroris.

Sudah pasti yang tawuran tidak pernah ikut ke Rohis! Tapi tawuran itu tidak pernah dikatakan radikal apalagi teroris, hal itu berbeda kalau yang melakukan itu aktivis Rohis,” ujar Ustadz Fauzan Al-Anshari seperti yang penulis kutip dari voa-islam.com, Rabu (26/9/2012).

1348741046761966170

Bloggers, perhatikan! Ketika aksi tawuran dan anarkis yang dilakukan tidak mengatas namakan agama, kaum SEPILIS bungkam. Mereka tidak mengatakan tawuran atau aksi anarkis yang dilakukan pelajar, mahasiswa, atau masyarakat adalah redikal. Begitu pula tawuran warga atau organisasi pemuda non-Islam yang seringkali terjadi. Tapi jika ada murid Pesantren yang disinyalir sebagai teroris, kaum SEPILIS ini langsung berkicau.

Begitu pula ketika, Rohis dituduh sebagai sarang perekrutan teroris, kaum SEPILIS begitu nafsu untuk mendeskriditkan salah satu ekstra kulikuler di sekolah ini. Padahal, anggota Rohis tidak pernah ikut tawuran, melakukan tindakan anarkis, pun bukan sebagai pembunuh. Namun, logika-logika tersebut selalu dibolah-balik oleh kaum SEPILIS. Jadi Bloggers, hati-hati dengan logika kaum SEPILIS!

Coba simak Twit-Twit para pelajar berikut ini. Mereka –yang nge-Twit-  selama ini tidak dianggap Teroris, padahal kelakukan mereka lebih radikal dari Teroris. Mereka tidak peduli dengan tewasnya Alawy dan Rabu kemarin (26/9) seorang pelajar lagi tewas, yakni Deni Januar (17). Siswa kelas XII SMA Yayasan Karya 66 (YK), Kampung Melayu, Jakarta Timur ini tewas terkena sabetan senjata tajam pelajar SMK Kartika Zeni (KZ).

@tubirmania pada ngerasa ga kalo dari sekolah lain ada yg meninggal reaksi media ga terlalu wow giliran dari SMA favorit langsung heboh
SMA 70 sama SMA 6 tuh terlalu lebay, baru mati satu saja hebohnya minta ampun. Wajarlah tubir ada yang mati, ada yang menang

sumber foto: Solo Pos

Sabtu, 14 Juli 2012

BENTUK PEMBAHARUAN HUKUM ZAMAN ROMAWI # 1: DICEKIK SAMPAI MATI


Buku Bellum Judaicum (The Wars of the Jews), Yosephus menulis tentang sejarah hukuman Romawi ketika menduduki tanah Jarusalem. Meski kesaksian pria Yahudi pro-kekaisaran Roma ini diragukan kesaksian dan keakurasian fakta di bukunya, namun tak bisa dipungkiri buku karya Josephus tersebut tetap dapat digunakan sebagai sumber sejarah di zamannya.
Menurut Yosephus, sebagai pemimpin pasukan Romawi, Herodes Agung langsung menerapkan hukuman salib di Yerusalem. Herodes sebelumnya dikenal sebagai pengawal pribadi Cleopatra. Ia pun dianggap sebagai seorang Raja ‘boneka’ Romawi yang ditugaskan ke Yerusalem untuk memperbesar kekuasaan Romawi pada 74 SM. Meski dianggap boneka, ia akhirnya menjadi pemimpin yang bertangan besi diRomawi, terutama dalam menerapkan hukuman mati.

Saat itu, hukuman salib bukanlah tradisi wilayah yang saat itu dikuasai oleh Yahudi. Hukuman mati sesuai tradisi Yahudi adalah dirajam atau dilempari batu sampai mati, dibakar, maupun dipenggal kepalanya. Tentu jenis hukuman tersebut tergantung dari jenis kejahatan yang dilakukan oleh si terhukum. Namun, hukuman tipikal Yahudi hanya dua, yakni dirajam dan dibakar. Sementara hukuman mati cara disalib baru ada setelah pasukan Romawi menjajah ke tanah Jerusalem.

Dalam Kitab Bilangan, disebutkan tentang hukum rajam bagi mereka yang menghujat hari Sabat, “Pastilah dihukum mati; segenap umat Israel harus melempari dia dengan batu di luar tempat perkemahan.” (Bil 15:35). Selain penghujat hari Sabat, mereka yang menyembah berhala, kepada dewa-dewa, kepada matahari atau bulan, atau bintang-bintang di langit juga dihukum rajam. Tak terkecuali mereka yang menghujat atau memfitnah.

Lalu menurut Kitab Imamat, disebutkan hukuman mati dengan cara dibakar, yakni jika seorang laki-laki menikahi seorang perempuan sekaligus dengan ibunya. Ketiga orang ini harus dihukum bakar agar perbuatan mesumnya lenyap (Imamat 20:14). Hukum bakar juga berlaku pada seorang perempuan yang menjadi pelacur. Ia dianggap menodai sang ayah, sehingga harus dibakar (Imamat 21:9).

Yosephus juga menceritakan di buku Bellum Judaicum, menjelang akhir hayat pada 4 SM, Herodes Agung menjatuhi hukuman mati bakar pada dua orang ahli kitab dan beberapa muridnya, karena mencopot hiasan elang yang dipasang Herodes di Bait Allah. Sementara putra Herodes Agung, Herodes Antipas, sempat memerintahkan hukuman mati dengan cara memenggal kepala Yohanes Pembabtis dan rasul Yakobus anak Zebedeus.

Bloggers, selain hukuman mati dengan cara dirajam dan dibakar, bentuk pembaharuan hukuman mati yang dilakukan pada zaman Herodes Agung adalah dicekik sampai mati. Mereka yang sempat ‘merasakan’ hukuman mati dengan cara dicekik ini adalah dua putra Herodes Agung sendiri, yakni Alexander dan Aristobulus. Mereka berdua dieksekusi di penjara di Sebaste, sebuah kota dekat Kaisarea. Hukuman mati ini terjadi setelah Herodes memperoleh izin dari Kaisar Agustus, seorang Kaisar yang menggantikan kediktatoran Julius Caesar.

Di antara hukuman mati itu, menurut Yosephus, penyaliban adalah bentuk kematian yang paling menyedihkan. Hukuman seperti ini dijatuhkan tentara Romawi terhadap para pemberontak. Tentu pendapat ini sangat kontroversial. Sebab, banyak pembaca pada saat itu protes. Mereka mempertanyakan: apakah Yesus itu pemberontak sehingga disalib? Apalagi di buku itu Yosephus juga menambahkan, hukuman mati dengan cara disalib hanya dijatuhkan pada para budak, perompak, dan musuh-musuh serta penjahat-penjahat yang secara khusus dipandang rendah, hina. Oleh karena itu, hukuman salib dipandang sebagai cara mati yang sangat memalukan dan hina.

Pada saat itu, hukuman mati dengan cara disalib juga berlaku di Persia,Yunani, dan Carthagena (Kartago). Menurut pendapat para ahli hukum Romawi, para perampok yang sangat kejam (famosi latrines) harus disalib. Mereka yang memvonis hukuman mati disalib ini di bawah wewenang Gubernur setempat.

Dalam ketentuan hukum Romawi, Gubernur bertindak sebagai komandan tentara. Ia berwenang menjatuhkan hukuman mati terhadap pemberontak dan tentara yang bertindak kejam, sehingga mencemarkan nama baik militer. Hukuman salib dianggap sebagai alat untuk melindungi penduduk di wilayah kekuasaan Romawi dari ancaman tindakan anarkis, baik oleh tentara maupun pelaku kriminal.

Hukuman salib juga diperuntukan bagi para budak. Tak heran saat itu muncul istilah servile supplicium atau hukuman para budak. Tentang hal itu, diungkapkan oleh Plautus (250-184 M), seorang penulis zaman Romawi yang pertama kali mengungkapkan hukuman salib Romawi. Penulis Romawi lain yang mengungkapkan hukuman salib ini adalah Sceledrus lewat karyanya berjudul Miles Gloriosus (205 SM).

Scio crucem futuram mihi sepulcrum; ibi mei maiores sunt siti, pater, auos, proauos, abouos (Saya tahu salib akan menjadi kuburanku; yang juga menjadi kuburan leluhurku, ayahku, kakekku, buyutku, buyut ayahku…” (Sceledrus, Miles Gloriosus).

(bersambung)

Selasa, 26 Juni 2012

BAHASA INDONESIA 'MANDEG', BAHASA GAUL 'MEROKET'

Jujur, saya tidak tahu harus bersikap apa dengan perkembangan bahasa di tanah air: BANGGA atau BERDUKA CITA. Namun yang pasti, perkembangan bahasa pergaulan (baca: bahasa gaul) luar biasa pesat perkembangannya. Boleh dibilang, saat ini bahasa gaul meninggalkan jauh bahasa Indonesia yang sepertinya ‘mandeg’.

Bloggers, majunya’ bahasa gaul saat ini tentu akibat tumbuhnya sejumlah komunitas yang ingin eksis dan dianggap gaul, maupun makin banyak sekelompok minoritas (Banci, Gay, Alay, dan kelompok-kelompok lain). Bahasa gaul yang kata-katanya sudah dikamuskan oleh Debby Sahertian pada 1999,  misalnya. Kata-kata di kamus itu mayoritas berasal dari bahasa para Banci di salon.


  1. EMBER : Memang begitu.

  2. AKIKA : Saya.

  3. SUTRALAH : Sudahlah.

  4. SEGEDE GAMBRENG: Kata ini digunakan untuk menunjukkan sesuatu yang besar sekali . Kata ini juga sama dengan kata ‘Segede Goblok’

  5. BEGINDANG : Begini/ seperti ini.

  6. LAMBRETA MACAN TUTUL: Lama sekali.

  7. SECARA: Karena, soalnya

  8. AUSTRALIA: Haus.
Itulah sebagian kecil dari kata-kata gaul yang sering diucapkan oleh Banci. Tak heran, bahasa gaul yang ada di kamusnya Debby Sahertian adalah bahasa gaul ala Banci. Meski dianggap kamus Banci, banyak kata yang dipergunakan oleh mereka yang non-Banci atau normal. Indikator 'kesuksesan' mempopulerkan kata-kata gaul ala Banci ini terlihat dari kamus berjudul Kamus Bahasa Gaul yang diterbitkan Pustaka Sinar Harapan ini sudah mengalami cetak ulang sebanyak 13 kali sejak penerbitan pertama pada 1999 sampai dengan Juni 2002.

Bagi mereka yang tidak ingin disebut Banci seperti Olga Syahputra and the gang, maka sejumlah anak muda kemudian membuat bahasa-bahasa gaul lain, dimana kata-katanya merupakan campuran bahasa Banci, Prokem, bahasa Alay, maupun bahasa yang biasa digunakan para penggila dunia maya.


  1. KRIK : Asalnya dari suara jankrik, namun istilah ini digunakan dalam pembicaraan di dunia maya, untuk menggambarkan kondisi yang sangat garing atau tidak lucu.

  2. PRIKITIU : Sebuah celutukan yang ditujukan untuk pasangan yang tertangkap basah sedang pacaran atau berduaan.

  3. BT / BETE : Singkatan dari Boring Total.

  4. LOL : Kata ini sering dipakai saat chatting, baik di YM, FB, Twitter, atau komunikasi di dunia maya. Kata itu merupakan singkatan dari Laugh Out Loud (Tertawa Terbahak-bahak), yang juga dipakai pada saat mengejek lawan komunikasi.

  5. BONYOK : Singkatan dari Bokap-Nyokap (orang tua).

  6. MENEKETEHE : Asal kata ini ‘Mana Kutahu’ dan diplesetkan seperti itu.

  7. ALAY : Singkatan dari Anak Layangan, yaitu orang-orang kampung yang bergaya norak. Alay sering diidentikkan dengan hal-hal yang norak dan narsis.

  8. JUTEK: Judes, galak, dan sombong.

  9. LEBAY : Identik dengan sesuai yang berlebihan.

  10. BEKIBOLANG: Belok kiri boleh langsung.

  11. CILEDUK: Cinta Lewat Dukun.

  12. BROWNIS: Brondong Manis.

  13. CEMEN: Tidak memiliki keberanian.

Bloggers, sebetulnya bahasa gaul sudah ada sejak lama. Pada 1970-an, bahasa gaul popular dengan istilah bahasa Prokem (sebutan untuk Preman). Bahasa ini biasa digunakan oleh anak-anak jalanan yang dianggap sebagai Preman. Mereka menggunakan ini sebagai kata sandi yang hanya dimengerti oleh kelompok mereka sendiri.

Belakangan, bahasa Prokem menjadi populer dan banyak digunakan dalam percakapan sehari-hari. Selain sering digunakan anak-anak muda untuk menyampaikan suatu hal dengan rahasia, juga karena media –terutama media elektronik- mempopulerkan bahasa Prokem ini melalui artis-artis muda atau para penyiar radio di segmentasi remaja.

Kata BONYOK di atas sebenarnya sudah popular sejak 1970-an. Selain kata itu, ada sejumlah kata dari bahasa Prokem yang sampai saat ini masih dipakai, yakni OGUT (saya), BOKAP (bapak), NYOKAP (Ibu), BO’IL (mobil), CABUT (pulang/ pergi), DOKAT (duit). Sementara masih banyak kata dari bahasa Prokem yang barangkali Anda masih ingat, seperti GARADAE (tidak ada), ROKUM (rumah), POSKUL (pulang sekolah/ kantor), SUPING (pusing), CIPOKAN (ciuman), SUDOKUR (saudara), SEMOK (montok), dan lain-lain.

Bahasa gaul terus berkembang. Kata-kata yang sebelumnya sudah popular, masuk ke dalam perbendaharaan kata-kata baru, sehingga bahasa gaul makin melesat alias berkembang pesat. Di bawah ini beberapa kata-kata yang baru saya temukan maksudnya. Barangkali sebagian dari Anda sudah tahu, bahkan sudah terbiasa mengucapkan kata-kata di bawah ini. Kalo itu terjadi, bararti saya memang masih kurang gaul.


  1. AGASE: Anak Gaul Semarang.

  2. AGASO: Anak Gaul Solo.

  3. AGATA: Anak Gaul Jakarta. Kata ini juga bisa digantikan dengan akronim AGJ.

  4. AGUTE: Aduh Anu Gue Gatel. Kata ini diucapkan jika daerah sensitive kita mengalami gatal.

  5. G6: Gundah Gulana Gelisah Galau Gimanaa Gitu.

  6. DASHBOD: Dasar Bodoh. Kata ini diucapkan untuk mengekspresikan teman kita yang bodoh atau tolol.

  7. NABIRONG: Nasfsu Birahi Merong-rong.

  8. NAJONG: Najis, amit-amit.

  9. EDAS: Edan, gila, dahsyat.

  10. EMPRUT: Melakukan hubungan seks tidak sah. Namun perempuan yang diajak ngeseks itu merasa rugi, tetapi ia pun tidak merasa diperkosa.

  11. JAMDUL: Jaman Dulu.

  12. WARTEL TELEPIPIS: Kesulitan mengeluarkan kotoran di WC, sehingga lama sekali. Biasanya karena sembelit atau pada saat itu kebelet ingin buang air besar.

  13. ORACLE: Ora Kelar-Kelar. Kata ini lazim diungkapkan oleh seorang programmer yang hamper putus asa, karena proyeknya lama sekali selesainya.

  14. dll

MULUT OLGA SYAHPUTRA MEMANG KUDU DISEKOLAHIN

Akhirnya Senin (25/6) kemarin, pihak ANTV menerima kesalahan. Stasiun televisi milik Aburizal Bakrie ini berjanji akan lebih berhati-hati lagi, terutama terhadap mulut Olga Syahputra. Seperti diberitakan sejumlah infotainment, dalam acara Fesbukers di ANTV, Olga dituduh melakukan pelecehan terhadap Islam.
Lu Assalamu’alaikum Terus Ah, Kayak Pengemis Lu!

Itulah ucapan yang keluar dari mulut Olga saat memandu acara Fesbukers yang disiarkan secara langsung dari studio ANTV (19/6). Kala itu, ada seorang penelepon menghubungi studio ANTV dan diterima oleh Julia Perez alias Jupe. Oleh Jupe, penelepon tersebut disapa dengan ucapan ‘Assalamu’alaikum’. Namun anehnya, Olga justru mengatakan sapaan Jupe mirip pengemis. Astagfirullah!

Gara-gara penayangan itu, sejumlah protes keras datang dari ummat Islam. Inti pengaduan mereka, Olga telah melecehkan ucapan ‘Asslamu’alaikum’. Host banci ini menganggap, salam tersebut cuma cocok untuk pengemis, bukan untuk seluruh ummat Islam non-pengemis, termasuk banci seperti Olga. 

Bloggers, ini adalah kesalahan kedua program Fesbukers yang dipandu oleh Olga. “ANTV menerima kesalahan dan mereka juga berjanji akan melakukan pembenahan,” ucap Ezki Suryanto, Wakil Ketua KPI Pusat sebagaimana penulis kutip di KapanLagi.com

Buat Olga, ini adalah kesalahan yang ketiga kali. Pertama, ia sempat diprotes para penonton televisi dan juga Lembaga Swadaya Masyarakat pendamping korban pemerkosaan, karena Olga melecehkan korban perkosaan. Saat itu, banci ini tampil di acara Dekade Trans untuk Indonesia yang disiarkan langsung di TransTV dan Trans7 pada Jumat (15/12) malam. Saat itu, ia berperan sebagai Suster Ngesot.

Publik figur dan pejabat publik adalah orang-orang yang ketika mengeluarkan pernyataan akan menggiring opini publik. Dan itu akan sangat membahayakan karena ujung-ujungnya orang nanti akan menganggap perkosaan itu masalah sepele, bukan kejahatan. Maka efeknya korban perkosaan akan selalu disalahin masyarakat,” jelas Helga, aktivis di LSM Lentera yang menaungi korban perkosaan saat itu, yang penulis kutip dari DetikNews.
 
Dalam akun Twitter, Olga banyak dihujat, salah seorang yang menghujat adalah Risa Hart, pemerhati Hak Kekayaan Intelektual Indonesia (HAKI). “Menggunakan topik ‘mati krn diperkosa supir angkot itu SEPELE’ sbg bahan canda merupakan refleks berpikir manusia TAK BERMORAL dan KEJAM,” kata Risa via akun Twitter.

Kedua, saat acara Dahsyat. Di acara musik yang disiarkan RCTI ini, Olga meminta berdiri salah seorang penonton dan mendekat ke padanya. Dengan nada merendahkan. Olga mengatakan, “Kalau dia (Gisel) mah lahir dari rahim ibunya, kalau lo dikebutin kayak bangsat.”.

Selain kesalahan-kesalahan itu, dari mulut Olga pun sempat menyinggung Yuni Sara. Setiap acara DahSyat, Olga selalu menyinggung Raffi Ahmad sebagai partner dalam membawakan acara, yang berpacaran dengan Yuni Shara. Dalam kesempatan tampil di Fesbukers, yang juga dipandu oleh Olga dan Raffi, Yuni sempat ‘melabrak’ Olga selama 10 menit. 

Omongan saya hanya 10 menit. Becandaan mereka tiga tahunan,” ucap Yuni yang penulis kutip dari DetikHot (21/2/2012). Olga memang becanda, namun pada saat itu Yuni Nampak sangat dendam terhadap becandaan Olga.

Memang sudah saatnya mulut Olga ‘disekolahin’. Namun banyak teman yang mengatakan, mulut banci seperti Olga sulit sekali ‘disekolahin’. Jadi jangan heran, ‘disekolahkan’ dimana pun juga, mulut orang sejenis Olga sulit dikontrol. Dalam bahasa Betawi ‘nyablak’. Selalu keluar dari mulut secara spontan, tanpa dipikirkan terlebih dahulu. Niatnya guyon, yang terjadi justru bisa menyakiti hati orang yang diajak guyon.
Lalu kenapa Olga tidak dicekal sekalian saja? 

Secara undang-undang kami tidak berhak menegur langsung pengisi acara. Kami berhubungan dengan televisi penyelenggara. Kami minta acaranya diperbaiki,” tambah Ezki. Meski begitu, ia menyarankan, “Olga menyinggung agama, itu sudah melanggar etika. Kami menyarankan agar Olga tidak melakukan siaran langsung lagi. Karena ucapan verbal Olga berbahaya. Kalau direkam dulu kan bisa diedit.”.

Bloggers, terkait dengan keputusan KPI, pada 20 Juni 2012 lalu, acara Bukan Empat Mata (Trans 7) kembali mendapatkan sanksi administratif, yakni pengurangan durasi tayang selama 3 hari berturut-turut. Sanksi tersebut disampaikan langsung Anggota KPI Pusat bidang Isi Siaran, Nina Mutmainnah, didampingi Ketua KPI Pusat, Mochamad Riyanto, dan Wakil Ketua KPI Pusat, Ezki Suyanto, kepada perwakilan Trans 7 di kantor KPI Pusat.

Ezki menjelaskan, pemberian sanksi Bukan Empat Mata terkait pelanggaran di tayangan 16 Mei 2012. Di tanggal itu, ada gimmick menyayikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, tetapi cara menyanyikannya tidak sesuai dengan perundangan yang berlaku (baca: melecehkan). Beberapa narasumber menyayikan lagu sambil duduk dan tertawa-tawa, lalu mereka saling nyeletuk. Terlihat pula para penonton di studio turut bernyanyi sambil duduk, bertepuk tangan, dan tertawa.

Menurut KPI dalam surat sanksinya, pelanggaran tersebut dikategorikan sebagai pelanggaran atas penggunaan dan tatacara penggunaan lagu kebangsaan (SPS Pasal 54). “Ini menjadi pembelajaran sebagai rakyat Indonesia agar menghormati lagu kebangsaan Indonesia Raya,” ujar Mochamad Riyanto.

Jumat, 22 Juni 2012

KALO DENDA-NYA DICICIL BOLEH NGGAK PAK? LAGI TANGGUNG BULAN, NIH!

MANA MAJIKAN, MANA ANAK BUAH....NGGAK JELAS!


Terkadang dalam sebuah kantor ada anak buah yang kurang ajar. Ketika sang Majikan butuh disopirin, si anak buah enak-enakan main BlackBarry. Udah gitu nggak puasa pula di bulan Ramadhan. Wah, komplet abis badungnya!

Ini bukti otentik anak buah yang nggak mau supirin si Bos. Si anak buah lebih sibuk telepon sana, telepon sini. Ngerumpi dengan sang kekasih yang cerewat minta amplop kayak petasan cabe rabit.