Sabtu, 19 Mei 2012

KRITIK JAKARTA DALAM KOMIK


Saya termasuk pembaca yang tak pernah melewatkan komik strip Mice Cartoon yang setiap Minggu muncul di Kompas Minggu. Selain karakter tokoh di komik itu 'Indonesia banget' alias tidak Manga, komik strip ini selalu menyentil aneka peristiwa maupun masalah sosial yang terjadi di Indonesia, khususnya di kota-kota besar. Sebelum 'pecah', Mice kerap mengkritisi masalah-masalah sosial bersama rekannya Benny di Benny and Mice.

Jakarta adalah salah satu kota besar yang kerap disentil oleh Mice. Sejumlah persoalan pernah dikritisi. Berikut ini saya cuma cuplik dua komik strip-nya yang mengkritisi tentang kondisi kemacetan dan banjir di ibu kota Jakarta.

Dalam kisah di bawah ini, Mice berkisah betapa merana naik bajaj di Jakarta dalam kondisi banjir. Selain banyak lubang di jalan, begitu tiba di lokasi yang tergenang air, sopir bajaj 'menyerah' dan meminta Mice turun di tengah jalan. Dalam komik, Mice memperlihatkan sebuah billboard besar yang terdapat foto Gubernur DKI Jakarta Fawzi Bowo dengan tagline yang dianggap sama sekali tidak mencerminkan pembangunan di Jakarta: "Pajak Anda Membangun Jakarta".

133741636231259801

Di komik berikut, Mice menceritakan tentang kemacetan yang tidak bisa dihindari, baik di weekdays maupun weekend. Sudah bukan rahasia lagi, setiap hari kerja, Jakarta tidak pernah sepi. Kemacetan pasti terjadi. Oleh karena itu, biasanya warga ibu kota selalu berpikir refreshing ke luar kota saat weekend. Tempat yang 'paling dekat' selain Bogor atau Sukabumi tak lain adalah Bandung.

Namun, hampir semua the Jakartaners (sebutan untuk orang Jakarta) punya pemikiran sama. Ber-weekenddi Bandung. Jadi tak heran, macet di Jakarta pada saat weekdays, menjumpai kemacetan di Bandung pada saat weekend. Ini pun semakin parah di saat long weekend seperti sekarang ini.

1337418304785010539

Tentang lalu lintas di Jakarta, Jitet juga mengkritisi dalam komik stripnya Jakartaria. Dalam kisah yang saya ambil ini, Jitet melihat fenomena pengendara di Jakarta yang sudah tidak lagi peduli dengan traffic light. Meski lampu berwarna merah, mayoritas pengendara mobil apalagi motor kerap 'menerobos'. Padahal anak SD tahu, lampu merah, kendaraan harus berhenti dan lampu hijau kita baru diizinkan berjalan. Dan anak SD juga tahu, mau jalan kosong, apalagi jalan padat, lampu merah tetap harus stop.

1337419205649123308

Komik terakhir di bawah ini yang juga menarik, saya ambil dari Pos Kota. Masih tentang kondisi di jalan, dimana kali ini tentang motor. Bagi pengendara motor, pasti sering menjumpai motor dengan knalpot yang mengeluarkan bunyi bising dan asap yang membuat polusi.

13374368581149953320



Jumat, 18 Mei 2012

PECUN BUKAN SEKADAR ISTILAH PEREK


Selama ini istilah Pecun selalu dihubungkan dengan Perek. Istilah Perek sendiri sudah muncul sekitar 1980-an, dimana saat itu sedang tren bahasa Preman di kota-kota besar. Perek sendiri kepanjangan dari Perempuan Eksperimen, yakni perempuan yang bisa diajak kencan oleh lelaki mana pun. Awalnya, Perek bukanlah Pelacur profesional alias dibayar, tetapi perempuan ‘biasa’ tetapi ‘murahan’, dimana bisa melakukan apa dengan pasangan kencannya asal suka sama suka.  

Sumber lain menuturkan, cikal bakal istilah Perek sudah muncul awal 1970-an. Pada tahun itu ada band yang ngetop bernama Grandfunk Railroad. Yang mendengarkan band aliran rock ini biasanya cuma anak-anak nakal, tukang mabok, suka bolos sekolah, dll. Di dalam geng anak-anak nakal ini ada perempuan-perempuan. Mereka menganut seks bebas. Aktivitas seksual lelaki dan perempuan yang bebas ini dihubungkan dengan Grandfunk. Kata ‘Grandfunk’ diplesetkan menjadi di-grenpang atau digerpang alias dipegang-pegang, baik dipegang payudara maupun kemaluan perempuan tersebut. Istilah itu akhirnya berubah menjadi di-grepe.

Awal 1980-an, terjadi pembalikan kata grepe menjadi pegre. Pembalikan kata itu kemudian berubah jadi Perek. Sejak itu, istilah untuk perempuan-perempuan nakal yang ‘bisa dipakai’ dalam satu komunitas disebut Perek. Namun Perek bukanlah Wanita Tuna Susila (WTS).

Bloggers, istilah Perek kemudian berkembang ke dalam beberapa jenis-jenis, yang menjadi cikal bakal istilah Pecun. Ada yang mengatakan Pecun adalah Perek Cuma-Cuma. Tentu Anda bisa menebak, kenapa disebut Perek Cuma-Cuma, karena Perek jenis ini tidak meminta bayaran atau berkencan dengan lelaki sekadar suka sama suka itu tadi. Paling-paling lelaki yang mengajak Pecun jenis ini hanya mengajak makan atau nonton film.

Pecun juga berarti Perek Culun. Istilah ini mengacu pada Perek yang payah, yang dianggap ‘tidak mengerti’ pasangan kencannya. Misal, pasangan kencan sudah membayarkan makanan atau mengajak nonton, bahkan membelikan barang-barang kesukaan si Perek, tetapi Perek ini tidak mau ‘diapa-apakan’ oleh pasangan kencan itu. Boro-boro diajak making love (ML), dipeluk dan dicium pun ogah.

Lalu Pecun juga untuk sebutan bagi Perek Pecundang atau Perek Beracun. Istilah Perek Beracun ini ditujukan pada Perek yang menyebarkan penyakit pada teman kencan. Biasanya Pecun jenis ini adalah Perek profesional yang bergonta-ganti teman kencan dengan meminta bayaran, tetapi tidak pandai ‘menjaga kesehatan’.

Belakangan, Pecun ini ngetop di kalangan pengila kuliner. Di Surabaya ada mie goreng yang dikenal dengan nama Mie Pecun. Istilah Pecun di sini adalah Pedas Beracun. Mie ini memang pedas dan bikin ketagihan, makanya diistilahkan ‘beracun’. Untuk ‘merangsang’ pembeli, penjual Mie Pecun  ini pun membuat judul di daftar menu dengan sangat ‘mengiurkan’, yakni Menu Horny dan Cemilan Perangsang.

Tentu masih banyak hal yang menggunakan kata Perek. Di kalangan mahasiswa di Makassar, misalnya. Perek pun diplesetkan menjadi Pengemar Rokok Keretek. Namun Bloggers, Perek atau Pecun bukan sekadar istilah untuk Perek atau kuliner berbasis mie. Pecun juga merupakan tradisi warga Tionghoa di Tangerang. Tradisi Pecun ini dikemas dalam Festival Sungai Cisadane yang sudah berlangsung ke-8 kali sejak 2003.

Pecun dalam tradisi ini berarti upacaya pencarian dengan menggunakan perahu. Perayaan ini dikaitkan dengan penghormatan terhadap jasad seorang tokoh Tionghoa yang berpengaruh, yakni Khut Gwan. Dalam sejarah, pria ini menjatuhkan diri ke dalam sungai, begitu setelah mendengar berita hancurnya ibu kota Cho, tempat Klenteng Bio diserbu orang Chien.

Menurut sejarawan Tionghoa asal Tangerang, Oey Tjin Eng, perayaan Pecun di Tangerang diperkirakan mulai dilaksanakan sejak 1910. Saat itu, sungai-sungai di Jakarta sudah mendangkal, sehingga perayaan ini dipindahkan ke Tangerang. Selain sungai di Jakarta sudah dangkal, Sungai Cisadane memenuhi kriteria pelaksanaan tradisi Pecun ini, yakni sungainya cukup luas.

Selain menampilkan kesenian tradisional Tionghoa, seperti barongsai dan liong, dalam perayaan Pecun terdapat pula penampilan tradisi Betawi, yakni menari atau ngibing diiringi musik gambang kromong. Para penari ini menari di atas dua perahu yang dirapatkan dengan papan, sehingga membentuk permukaan lebar dan datar sebagai layaknya panggung.

Dalam buku Hari Raya Twan Yang atau Duan Yang (Hari Kehidupan) yang diterbitkan oleh Perkumpulan Keagamaan dan Sosial Boen Tek Bio, diceritakan, pada perayaan Pecun tahun 1911 terjadi tragedi kecelakaan perahu papak hijau yang menabrak sebuah rakit. Ketika peristiwa itu, rakit kebetulan melintang di tengah sungai saat digelar perlombaan perahu papak hijau dan merah. Gara-gara menabrak rakit, perahu papak hijau terlempar dan jatuh persis di atas getek. Kabarnya, patahan perahu tersebut hingga kini disimpan di tempat Lim Tiang Tiang di Karawaci sebagai benda yang dikeramatkan.

Tercatat pula dalam sejarah, pada 1938 perayaan Pecun dilakukan bertepatan dengan tanggal 7-8 Imlek. Saat itu, Lim Tiang Hoat membuat sepasang perahu naga di Kadaung Barat. Namun, perahu itu dibakar Jepang pada 1942.

Catatan lain, pada 1964, perayaan Pecun yang semula diselenggarakan oleh Perkumpulan Boen Tek Bio tidak diizinkan lagi digelar. Pemerintah Orde Baru (Orba) pimpinan Presiden Soeharto melarang tradisi Pecun itu.

Setelah Orba tumbang, pada 2003 tradisi Pecun digelar lagi. Tujuan perayaan ini adalah upaya melestarikan keragamaan budaya sebuah kota di Tangerang, yang dihuni oleh pendatang dari China, Betawi, Jawa, serta kelompok etnis lain. Sejumlah acara digelar dalam perayaan yang diberinama Festival Cisadane ini berlangsung di jalan Kali Pasir dan jalan Benteng, Tangerang.

Ada sejumlah perahu yang dilombakan di Sungai Cisadane ini. Selain perahu papak, terdapat perahu naga yang konon usianya sudah mencapai ratusan tahun. Pada perayaan puncak, dilakukan persembahyangan Twan Yang Usai. Di sini, warga keturunan Tionghoa akan melakukan ritual buang sial, yaitu dengan melepas bebek ke Sungai Cisadane. Pelepasan bebek-bebek dari sangkar ini bertujuan membuat hidup orang terbebas dari kesialan, serta dapat melanjutkan kehidupan dengan damai dan tenteram. 

Selasa, 17 April 2012

Nggak Mungkin Kalo Nggak Ada yang Ngelindungi Geng Motor…

Logika itu sederhana. Mereka yang dilindungi, pasti sulit buat ditindak, ditangkap, apalagi sampai dimasukkan ke penjara, apalagi yang melindungi adalah aparat. Anak Jenderal pula. Nah, ini terjadi pada geng apapun, termasuk geng motor. Sungguh nggak masuk akal kalo geng-geng motor ini nggak di-back up aparat, tetapi mereka bebas melakukan tindakan anarkis, hingga sampai menewaskan orang.

Namun aparat selalu mengelak. Mereka selalu beralasan ini-itu, dan sok mengecam aksi brutal geng motor dan akan menangkap mereka yang melakukan tindak kriminal. Ah, mana ada sih ‘penjahat’ yang mau mengaku? Kita seperti sudah tahu sama tahu (TST) tentang back up mem-back up dalam dunia per-geng motor-an ini. Jadi…

Nggak mungkin kalo nggak ada yang ngelindungi geng motor…”

Entah harus bagaimana geng motor ini harus diberantas, satu paket dengan aparat-aparat yang mem-back up geng-geng motor ini. Sebab, kalo kondisi ini dibiarkan berlarut, warga akan menjadi korban Iklim jadi nggak kondusif: serba takut dan trauma. Seperti yang terjadi malam ini, dimana saya mendapat BBM berisi himbauan sangat penting.

Mohon waspada, malam ini (14 April 2012)pukul 00.00 sampai dengan 03.00 wib rencananya geng motor Y-Gen akan mengumpulkan beberapa club gang (anarkis) untuk melakukan sweeping terhadap anggota lokasi sweeping dan titik kumpul di Jakarta Pusat: jalan Asia-Afrika, Ketapang, Benyamin Sueb Kamayoran; Jakarta Barat: ring road Cengkareng, ring road Taman Palem, jalan Mal Puri, Panjang Kebon Jeruk; Jakarta Utara: jalan Marunda, Pantai Indah Kapuk, Kemayoran, Artha Gading, Danau Sunter, Kampung Beting Islamic Center, Warakas Sungai Bambu; Jakarta Timur: jalan Pramuka. 

Diperkirakan nanti malam geng motor yang memakai pita kuning akan beraksi lagi. Bukan beraksi di jalan raya besar, tetapi mensweeping anak-anak nongkrong di daerah Pademangan dan Ancol. Mohon teman-teman yang punya niat nongkrong malam ini di sekitar Ancol atau Pademangan agar mengurungkan niatnya. Sudah banyak korban kekejian yang tidak berdosa“.

Y-Gen Family

*** 

Menurut Ketua Presidium Indonesian Police Watch (IPW), Neta S Pane, polisi tidak tegas menindak geng motor yang melakukan tindakan radikal. Neta menduga sikap polisi yang kurang tegas ini, salah satunya mungkin, karena salah satu anggota geng motor di Jakarta adalah anak pejabat alias anak jenderal.

Geng motor Jakarta biasa berjudi uang. Dalam satu kali permainan bila memakai jasa joki, nilai uang taruhan mencapai 5-25 juta. Tidak mungkin kalau pemuda biasa mampu membayar uang sebanyak itu. Hanya anak orang kaya seperti anak pejabat yang bisa membayar uang sebanyak itu,” ujar Neta yang penulis kutip dari Republika Online (ROL).

Jumat, 13 April 2012

EMANG LOE MAU JADI PEMUJA SETAN? GUE MAH OGAH...

Mel, tahu nggak? Juni besok, bakal ada konser buat para pemuja setan,” tanya Sita pada sohibnya Amel.

Hah? Konser buat pemuja setan? Ada-ada aja loe! Konser apaan?” ucap Amel keheranan.

Konser Lady Gaga!”

Konser Lady Gaga?” tanya Amel masih belom mudeng alias masih bingung tujuh keliling.

Lah?? Emangnya elo kagak tahu kalo Lady Gaga itu ikon setan?”

Amel menggeleng.

Amel…Amel. Kuper amat sih loe jadi orang…”

Sebagai sohib, Sita kemudian ngejelasin kenapa Lady Gaga yang dipuja-puji anak-anak muda itu disebut sebagai ikon setan. Bahwa dahulu di Abad Pertengahan, di Barat dan Eropa ada gejolak yang mempertentangkan agama dan logika. Gejolak itu akhirnya menyebabkan ‘trauma’ pada warga di Barat dan Eropa sana. Mereka sangat ‘alergi’ dengan agama yang dianggap banyak ngatur kehidupan kita sehar-hari.

Nah, karena warga Barat dan Eropa ‘trauma’ sama agama, terjadi kekosongan keyakinan. Di tengah kekosongan keyakinan itulah, beberapa tokoh masyarakat Barat dan Eropa mulai belajar dan praktekin sebuah ajaran sihir dan ilmu hitam (ajaran penyembah setan) yang dikenal dengan nama ‘kabbala’.

Ajaran ‘kabbala’ itu asalnya dari ajaran Yahudi yang sudah ada sejak ribuan tahun lalu. Oleh Yahudi dan warga Barat dan Eropa, dibentuklah sebuah gerakan yang ngetop dengan nama Illmuninati. Gerakan Iluminati ini nyerang ke seluruh umat manusia di seluruh dunia, gak cuma orang Islam, tetapi juga orang Kristen, Hindu, Budha, dan agama-agama lain. Nyerangnya di semua tempat, termasuk kebudayaan dan hiburan.

Nah, yang jadi sasaran empuk adalah anak-anak muda seperti kita, Mel,” jelas Sita.

Ya, ampun! Mengerikan sekali ya, Sit?”

Yo’i!

Sita melanjutkan, gerakan Illuminati atau penyembah setan ini melancarkan aksinya lewat karya-karya film maupun lagu. Di lagu, mereka nyisipkan kata–kata dalam lirik lagu ataupun simbol–simbol gambar yang tujuannya buat memujaa setan.

Dengan kita suka lagunya, kita seperti dihipnotis oleh artis pemuja setan itu,” tambah Sita. “Padahal lirik lagu itu adalah doktrin-doktrin ajaran setan itu

Gokil abisss!”

Coba dengerin lagu Snoop Dog ini…”

Sita kemudian nyetel lagu Murder Was The Case milik Snoop Dog.


As I look up at the sky
My mind starts trippin, a tear drops my eye
My body temperature falls
I’m shakin and they breakin tryin to save the Dogg
Pumpin on my chest and I’m screamin
I stop breathin, damn I see DEMONS
Dear God, I wonder can ya save me
I can’t die Boo-Boo’s bout to have my baby
I think it’s too late for prayin, hold up
A voice spoke to me and it slowly started sayin
“Bring your lifestyle to me I’ll make it better”
How long will I live?
“Eternal life and forever”
And will I be, the G that I was?
“I’ll make your life better than you can imagine or even dreamed of
So relax your SOUL, let me take control
Close your eyes my son”
My eyes are closed


Di lagu itu, Snoop Dog nyeritain pas sekarat, ia ketemu sama setan dan kemudian ia nuker jiwanya sama kehidupannya supaya jadi lebih baik. Gokil gak tuh?”

Bener loe, gokil abiss!”

Nah, selain Snoop Dog, masih banyak artis Iluminati lain. Lady Gaga adalah ikon Iluminati yang kabarnya terdahsyat. Doi sukses jalanin misi setannya ke anak-anak muda seperti kita, baik itu lewat lirik maupun life style…”

Iya…betul loe Sit. Gue kasihan banget lihat teman-teman gue dandan setan…”

Mereka bangga pula berdandan seperti itu, ya kan?”

Yap! Padahal mereka dikadalin sama Lady Gaga…sama artis-artis Iluminati, si pemuja setan itu…”

Nah, apa elo mau jadi pemuja setan?”

OGAHHHHH!!!”

Elo masih mau datang ke konser buat muja-muji setan?”

OGAAAHHHHHH!!!!”

Minggu, 04 Maret 2012

PUISI TAUFIQ ISMAIL DI DEKLARASI MIUMI

Pada Selasa (28/2/2012) lalu, sejumlah tokoh nasional berkumpul di Hotel Grand Sahid. Mereka adalah Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. DR. Din Syamsuddin, Ketua MUI, KH. Yunahar Ilyas, Ketua Mahkamah Konstitusi, Prof. DR. Mahfudz MD, serta Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi, Bambang Widjojanto. Mereka hadir dalam rangka Deklarasi Majelis Intelektual & Ulama Muda Indonesia (MIUMI). Di antara tokoh nasional, hadir pula Budayawan, Taufik Ismail.

Dalam puisinya, Taufik mengkritisi para pemimpin di tanah air yang belakangan sudah kehilangan rasa malu. Tanpa rasa malu, mereka korupsi dan memanipulasi. Rasa malu yang diajarkan di Taman Kanak-Kanak dahulu, tak lagi berarti. Bahkan ketika berada di depan pengadilan dan diputuskan bersalah oleh sang Hakim, mereka masih sempat tersenyum.

Rasa malu benar-benar hilang. Inilah yang membuat Taufik Ismail membuat puisi berjudul Mencari Sekolah yang Mengajarkan Rasa Malu yang diperdengarkan di depan sejumlah tokoh nasional, ulama, dan tamu-tamu di Deklarasi MIUMI.

***

Mencari Sekolah yang Mengajarkan Rasa Malu

Seorang ibu membawa anaknya ke sekolah A

dia mengajukan permohonan

“Tolong, tolong anak saya diajari rasa malu,” katanya

Kemudian, jawab kepala sekolah

“Waaah, di sekolah kami tidak diajarkan rasa malu,”

“Loh, kenapa, pak?”

“Begini, Bu, ketika murid-murid nyontek, guru-guru kami pura-pura tidak tahu,”

“Ooooh…”

Ibu itu pergi, membawa anaknya ke sekolah B

dia menyebutkan permintaan yang serupa

“Bu, bu, tolong anak saya diajari rasa malu,” ujarnya

Kemudian, jawab ibu kepala sekolah

“Waadduh, di sekolah kami tidak lagi diajarkan rasa malu,”

“Loh, bagaimana toh itu maksudnya, Bu Kepala Sekolah?”

“Begini, begini… Ketika UAN,

ada guru ditugaskan diam-diam,

kepada murid memberi jawaban ujian,”

“ooooo…”

Ibu yang gigih itu

ibu itu sangat gigih

dia membawa anaknya ke sekolah C

dia mengulang lagi permintaan itu juga

“Pak, pak, pak, pak, tolong anak saya diajari rasa malu,” ujarnya

Jawab kepala sekolah,

“Yaaaah, kok nggak tau sih ibu ini?

Di sekolah kami kan sudah lama sekali tidak diajarkan rasa malu,”

“Loh, bagaimana itu penjelasannya Pak Kepala Sekolah?”

“Walah, walaaah, sekolah kami sudah seratus persen lulusnya,

dan itu harus dicapai dengan segala cara,”

“Bagaimana itu caranya pak?”

“dee ngaan see gaa laa caa rraa…”

“ooooooooo…”

9 (sembilan) “O”-nya itu

***

Tiga Kali Potong

Di Republik Rakyat Tiongkok koruptor dipotong leher

Di Arab Saudi koruptor dipotong tangan

Di Indonesia koruptor dipotong masa tahanan

Saya dapat dari sampeyan. Terima kasih!

(sembari Taufik Ismail menunjuk ke salah seorang di depannya)

***

Dua Kali Mundur

Di Jepang, menteri merasa salah memang mundur

Di Indonesia, menteri jelas salah pantang mundur

***

(“Puisi terakhir, inspirasi dari Datuk Sri Anwar Ibrahim yang memberikan perbandingan ini diceramahnya di teater kecil di TIM [Taman Ismail Marzuki, Jakarta]“, kata Taufiq)

Sama Saja Serakahnya, Sama Saja Serakahnya, Cuma… Titik, Titik, Titik

Koruptor di negara bekas jajahan Inggris

geraknya halus, tidak terus terang, lumayan sopan, masih ada rasa segan

Koruptor di negara bekas jajahan Belanda

kasar tingkahnya, gayanya blak-blakan, tanpa rasa malu, tidak sungkan-sungkan

Yang satu melaksanakan transaksinya di bawah meja saja

Yang satu lagi melaksanakan transaksi di bawah meja

dan di atas meja

dan sehabis itu mengunyah mejanya

***

Pesan cerdas dalam puisi Taufik Ismail di atas tersebut juga menjadi amanah untuk organisasi masyarakat (ormas) berbasis Islam, MIUMI. Bahwa ormas ini harus bisa menjadi “sekolah” yang mengajarkan rasa malu. Seluruh pengurus maupun anggota MIUMI harus menularkan sifat malu yang sekarang ini telah hilang. Tak cuma para politikus yang kata orang sudah putus urat malu, namun sejumlah ulama pun banyak yang tak punya rasa malu lagi.

Saat ini, ulama-ulama yang tidak punya rasa malu itu biasa melacurkan diri dalam dunia politik, sehingga yang dikedepankan bukan lagi penegakkan akidah atau memperkokoh syariat Islam, tetapi partai politik (parpol). Ada pula ulama-ulama yang merendahkan diri dengan mematok tarif dalam setiap tausyiah mereka, baik di televisi, maupun di event-event off air. Jika honor tinggi, mereka mau berbagi ilmu dan melakukan tausyiah di event tertentu. Kelak, MIUMI akan “membereskan” ulama-ulama komersil berjiwa “selebriti” ini.

MIUMI bukanlah organisasi bukanlah ormas tandingan manapun, termasuk Majelis Ulama Indonesia (MUI). MIUMI justru memperkuat otoritas lembaga keulamaan. Para intelektual dan ulama muda yang sepakati berdirinya MIUMI ini adalah, Dr Hamid Fahmi Zarkasyi, ketua program kader ulama pesantren Gontor, Ponorogo yang secara aklamasi ditunjuk sebagai Ketua Majelis Pimpinan MIUMI, dan Bachtiar Nasir Lc. MM sebagai Sekjen MIUMI. Bachtiar merupakan dai yang menjadi nara sumber rubrik konsultasi agama di surat kabar harian Republika.

“Lahirnya organisasi ini bukan menyaingi MUI tapi justru memperkuat otoritas lembaga keulamaan setingkat MUI,” kata Hamid Fahmi. Nantinya, fungsi majelis MIUMI ini lebih pada aksi dan menjadi solusi bagi persoalan yang selama ini dihadapi umat Islam.

Menurut Sekjen MIUMI Bachtiar Nasir lembaga ini diharapkan bisa merevitalisasi perbedaan yang terjadi di antara ormas Islam. Misalnya, perbedaan waktu hari raya Idul Fitri, jatuhnya hari puasa Ramadhan yang berbeda, serta melemahnya lembaga ormas Islam yang ada selama ini.

Di organisasi ini ada Dr. Adian Husaini, ketua program magister dan doktor pendidikan Islam universitas Ibn Khaldun, Bogor dan pakar tafsir al Quran, Muchlis M. Hanafi dari Pusat Studi Al-Aqur’an Depag), M. Idrus Ramli (Pengurus NU Jember), Muh. Zaitun R. (Wahdah Islamiyah-Makassar), Nashruddin Syarief, Jeje Zaenuddin (Pemuda Persis), Fahmi Salim (Komisi Kajian & Penelitian MUI), Ahmad Sarwad (Rumah Fiqih Indonesia), Farid A. Okbah (Yayasan Al Islam), Fadzlan Gamaratan (Yayasan Al-Fatih Kaaffa Nusantara), Henri Shalahuddin (Peneliti & Sekretaris Insists), Asep Sobari (Redaksi Majalah Gontor), M. Khudori (Alumnus Gontor & Univ. Islam Madinah)

Meski terdiri berbagai ormas, ke-15 ulama muda pendiri MIUMI ini sepakat untuk tidak mempertajam perbedaan-perbedaan di tingkat khilafiyah atau zhaniyah. “Sudah bersatu saja kita belum tentu mampu menghadapi tantangan yang begitu kuat, apalagi sendiri-sendiri,” tandas Adian Husaini.

Cikal bakal pendirian MIUMI dilakukan di awal tahun 2012. Saat itu, Ustaz Bachtiar Nasir merangkul sejumlah intelektual dan ulama muda dari berbagai ormas Islam untuk bersama. Pendiri MIUMI meyakini, wadah ini memberi harapan besar pada dakwah Islam di Indonesia.

Ke depan, organisasi ini tabu bagi anggota yang ingin berpolitik.”Kami tidak akan mencampurkan ke dunia politik. Syaratnya, bila ada anggota hengkang ke politik maka harus berpisah dengan MIUMI,” tegas Hamid.

MARIO TEGUH: "SAYA MENGHARGAI PROFESI COMIC"

Teheran-heran. Begitulah reaksi pertama Mario Teguh (55) ketika pertama kali diundang untuk tampil di panggung stand up comedy di Metro TV. Menurut pria kelahiran Makassar, 5 Maret 1956 ini, agak aneh seorang motivator, apalagi sekelas dirinya, berdampingan bersama para comic (sebutan untuk comedian di stand up comedy).

Motivator berbeda dengan comic,” ujar pimpinan Mario Teguh Super Club (MTSC) ini. “Meski dua profesi ini berdiri sendiri di atas panggung di depan puluhan bahkan ribuan orang, namun kedua profesi ini berbeda”. Memang, lanjut Mario, ada humor dalam motivasi. Tapi humor yang dibawakan seorang Motivator adalah humor kehidupan dalam konteks berbeda.

Motivator bukan melucu, tetapi mengajak orang melihat humor kehidupan”.

Mario memberi contoh, humor dalam kehidupan itu misal ada manusia yang punya impian besar, tetapi upayanya kecil. Atau ada manusia yang memiliki khayalan yang kuat, tapi kesungguhannya lemah alias malas. “Itu kan lucu,” ujar Mario. “Seperti ingin kaya, tetapi prilakunya memiskinkan diri”.

Meski mengaku berbeda dari comic, penampilan Mario Teguh di acara stand up comedy show edisi spesial akhir tahun 2011, yang ditayangkan Metro TV bertepatan tahun baru 2012 lalu, membuat ratusan penonton dan comic-comic berdecak kagum. Pasalnya, ternyata Mario pandai melucu dan dianggap sebagai seorang comic.

Tentu kehebatan Mario berdiri di atas panggung stand up comedy tidak serta merta menjadikan dirinya alih profesi. Ia justru bangga pada comic-comic. Ketika ditanya apa perasaannya setelah berada bersama para comic? “Saya sangat menghargai profesi comic, karena tidak ada pikiran dan perhatian lain dari para comic saat tampil, yakni memberikan kebahagiaan pada orang lain, meski pada saat mereka sedang tidak bahagia”.

Sebagai bentuk penghargaan untuk comic, di edisi Mario Teguh Golden's Way (MTGW) pada 26 Februari 2012 lalu, Mario Teguh mengundang Mogol sebagai bintang tamu sekaligus menjadi Host tamu di acara MTGW pukul 19:05 wib.

Jika dalam stand up comedy show selalu tampil dengan mengenakan kaos, kali ini Mongol “dipaksa” menggenakan jas dan dasi. Comic yang dikenal dengan istilah “KW” ini akan menemani Mario Teguh dalam tema: Capek Deh!.

Life is good, life is beautiful, sehingga diri Anda tidak mempan dengan kata: capek deh!

Minggu, 05 Februari 2012

IBU (ALM) ADE NAMNUNG SERBU RUMAH RAMON

Inilah pesan singkat saya dari Ramon Papana pada Sabtu, 3 Februari 2012 pukul 21:51 wib kemarin:

Segala umpatan dan cacian yang mendeskriditkan saya di media masa tidak saya hiraukan, karena saya masih berkabung untuk putra saya tercinta Ade Namnung dan akan saya jelaskan setelah 40 hari berduka dan berdoa. Tapi hari ini ibu kandungnya menyerbu rumah saya dan melakukan pengrusakan dan perbuatan tidak menyenangkan, karena ingin meminta harta benda Ade Namnung di hari ke-4 kematiannya ini. Karena sudah di luar batas, terpaksa saya melaporkannya ke pihak Kepolisian dan saya bersedia melakukan penjelasan kepada teman-teman media besok, Minggu, 5 Februari pukul 3 sore di Comedy Cafe, Kemang. Terima kasih bila bisa berjumpa. Ramon Papana




Begitu pesan itu masuk, saya langsung membalas. Berikut hasil SMS-an saya dengan Ramon Papana:

Bejo (B) : Apa saja yang dirusak mas?

Ramon (R): Hanya vas dan gebrak meja. Tapi maki makian dan kemarahan meminta harta benda pada saat kami sedang berkabung sangat keterlaluan. Ada 12 orang dengan polisi dan preman. Begitu lihat sertifikat rumah atas nama saya langsung ngamuk.

B : Polsek mana mas ngelapornya?

R : Babakan Madang, Bogor. Padahal aku bilang tunggu 40 hari akan akan jelaskan semua. Kasihan Ade.

B : Rumah mas Ramon yang di Sentul ya?

R : Iya, Sentul City.

Pagi ini, saya kembali SMS Ramon, menanyakan konfrensi pers yang dilakukan di Comedy Cafe Minggu, 4 Februari kemarin. Berikut petikan SMS-an saya dengan Ramon.

B: Gimana konfrensi persnya mas?

R: Cukup ok mas.

B: Maksudnya? Bagaimana tangagpan wartawan, lalu pihak keluarga Ade?

R: Yang saya tangkap sih wartawan juga mengakui keterlaluan baru 4 hari sudah ribut soal harta peninggalan.

B: Memang apa saja sih harta Ade yang diributkan itu? Memang banyak ya mas?

R: Cuma personal effect dan beberapa elektronics.

Kamis, 02 Februari 2012

MELAYAT KE RUMAH ADE NAMNUNG: SUASANA DUKA JADI CERIA

Ibu berkerudung hitam dan berkaos pink itu nampak sigap. Sambil duduk di bangku di antara pelayat lain, matanya selalu memandang setiap tamu yang datang. Begitu sebuah mobil mulus masuk tepat di depan rumah duka, ia langsung berdiri dari kursi dan siap mengabadikan tamu yang datang itu.

Itu Parto…”

Eh…itu Aziz Gagap…”

Itu Nunung…”

Ucapan-ucapan itu muncul seketika “pasukan” Opera van Java (OvJ) yang memasuki halaman rumah duka. Ibu berkerudung tadi langsung mengabadikan kedatangan para pemain OvJ tersebut. Setiap ada orang yang menghalangi, ia langsung mengusir.

Sule-nya kok nggak ada ya?

Begitulah suasana di rumah duka di rumah almarhum Ade Namnung saat melayat di Pondok Bambu, Jakarta Timur. Riuh sekali. Kebetulan bukan cuma ibu berkerudung hitam itu ingin mengambil foto para artis yang datang, tetapi ada sejumlah remaja juga turut mengabadikan bintang-bintang itu dengan camera dari telepon seluler mereka. Sementara ada pula beberapa bocah yang sudah memegang buku dan pensil, berharap bisa mendapatkan tanda tangan dari artis-artis tersebut

Entah apa yang harus saya katakan melihat kondisi seperti itu. Haruskah saya memaklumi? Atau geleng-geleng kepala dan bertanya: “Tidak ada lagikah rasa simpati pada keluarga yang sedang berduka?” Sebab, terus terang suasana duka yang seharusnya terjadi, justru rasanya berubah menjadi ceria. Hal ini baru saya alamai saat melayat ke rumah duka Ade Namnung. Warga Gang H. Ahmad R. no 1 RT 06/ 04, Pondok Bambu menjadikan suasana duka semalam sebagai ajang jumpa fans.

Saya belum banyak mendapat foto-foto artis yang datang. Habis tadi sibuk di ngajar di PAUD dulu,” ujar ibu berkerudung yang ternyata ibu RW itu.

Tadi malam, saya hanya melihat tiga sampai empat orang yang membacakan Yasin di depan jenazah. Warga kampung, entah itu para orangtua, remaja, apalagi anak-anak, lebih suka duduk-duduk di bangku pelayat. Sebagian warga berdiri di pinggir jalan di depan rumah duka sambil mengawasi tamu-tamu yang masuk ke rumah duka atau siapa orang yang keluar dari mobil. Maklumlah, mereka tidak mau kehilangan momentum melihat langsung bintang-bintang idola yang selama ini hanya melihat di televisi, mampir ke kampung mereka.

Baru juga punya satu artis, eh sudah meninggal,” ujar seorang bapak yang ucapannya ini saya dengar sebelum meninggalkan rumah duka.

Terlepas dari suasana tersebut, menurut sejumlah warga gang H. Ahmad, Ade Namnung yang bernama asli Syamsul Effendi ini adalah orang yang baik. Kesimpulan ini setelah saya bertanya ke beberapa warga. Menurut seorang bapak yang rumahnya persis di samping almarhum, setiap sebulan sekali almarhum selalu mengundang anak yatim untuk makan bersama. Tak hanya anak yatim, almarhum juga kerap mengundang orangtua jompo dan janda-janda. Luar biasa!

Kebaikan hati almarhum itulah yang membuat keluarga merasa sangat kehilangan, bahkan ibunya sempat shock. Namun Allah tentu sudah menentukan takdir bagi umat-Nya. Semoga Ade Namnung di terima di sisi Allah SWT. Amin.

Senin, 12 Desember 2011

SELAMA NGGAK GANGGU HIDUP DAN JABATAN LO, FORGET IT!

"Coba aja lo bayangin? Masa ada Manager tanpa anak buah?"

Tiba-tiba Hendro nyerocos di depan Budi. Padahal, jangankan sempat berbasa-basi menyapa, duduk di sofa pun belum. Namun, Hendro sudah menggerutu. Sementara Budi yang sudah beberapa menit menunggu, sambil menyandar di sofa, tetap pasang wajah rileks.

"Kanape tiba-tiba lo sewot kayak gitu bro?"

"Gimana gue nggak sewot, tahu organisasi di kantor lucu kayak gitu?"

"Duduk dulu lah. Ngupi-ngupi dulu. Lo pesan dulu deh," tawar Budi.

Pelayan kafe itu kemudian menghampiri meja, begitu Budi melambaikan tangan.

"Ya, Kak. Bisa dibantu?" tanya Pelayan.

"Tolong pesankan minuman dan cemilan yang paling enak di kafe ini buat sahabat saya ini ya," ujar Budi.

"Siap kak! Bajigur dan oncom goreng ya, kak?"

"Minuman dan gorengan yang enak cuma itu?" Hendro heran.

"Iya, kak. Kakak mau ganti yang lain?" tawar pelayan lagi.

"Adanya apa lagi?"

"Ada bandrek dan bakwan jagung. Atau es teh manis dan kue ranggi..."

Hendro garuk-garuk kepala. Ia nggak nyangka kafe segede itu makanannya standar. Nggak menyajikan makanan ala-ala makanan bule, entah itu pizza, makroni, atau minuman super canggih. Budi tersenyum melihat Hendro pusing. Pusing milih menu.

"Atau kakak mau minum sekuteng dan ubi bakar?" tawar Pelayan.

"Yasudah saya minta bajigur dan ubi bakar aja, mbak," ujar Hendro.

"Baik, kak.

Palayan menghilang.

"Jadi gimana cerita lo soal Manager itu, bro?" tanya Budi membuka percakapan.

"Menurut lo, apakah seorang yang punya jabatan Manager itu harus ada anak buah?" Hendro balik tanya.

"Yaiyalah!"

"Nah, itu die! Di kantor gue, ada Manager tapi tanpa anak buah. Lucu kan?"

"Kok bisa?" tanya Budi heran.

"Yaitulah gue juga heran, kenapa bisa gitu..."

"Pasti atasan si Manager itu punya alasan mengangkat Manager yang nggak punya bawahan itu..."

"Ya pastilah punya alasan. Tapi menurut lo wajar nggak sih gue sewot dengan kondisi organisasi di kantor gue?"

"Wajar sih..."

"Nah!"

Hendro seolah mendapat dukungan dari Budi. Kesewotannya seolah nggak salah.

"Tapi gini, Ndro. Gue mau tanya sama lo..."

"Tanya apa?"

"Apakah lo termasuk barisan sakit hati dengan kehadiran Manager yang nggak punya bawahan itu?"

"Maksud lo?"

"Maksudnya, apakah lo ngincar jabatan Manager itu?"

"Enggak. Gue kan lain Departemen..."

"Apakah si Manager menganggu hidup lo?"

"Enggak..."

"Mengganggu jabatan lo sekarang ini?"

"Enggak..."

"Kalo gitu, selama si Manager yang lo sewotkan itu nggak menganggu hidup dan jabatan lo, forget it!"

"Maksud lo?"

"Lo nggak usah pusingin, bro. Lo urus aja pekerjaan lo baik-baik. Kalo lo kerja dengan baik, lo pasti bakal jadi Manager. Dan lo akan jadi Manager yang punya anak buah. Ngerti?"

Hendro diam.

Tak berapa lama, pelayan datang membawa bajigur dan ubi bakar.

"Dah, sekarang lo minum dulu deh bajigurnya. Mumpung masih hangat.

Sambil nyuruput bajigur, Hendro mikir. Benar juga kata Budi. Tak semua kantor punya organisasi sempurna. Pasti ada hal yang kurang. Jika kebetulan sekarang di kantor Hendro ada jabatan Manager yang nggak punya anak buah, itu memang suatu kelucuan dalam organisasi di kantor. Namun, kelucuan jangan dibalas dengan kelucuan. Sungguh lucu kalo Hendro mengurus hal-hal yang nggak berhubungan dengan hidup dan jabatannya. Lebih baik bekerja dengan baik dan insya Allah sebuah jabatan akan menyusul dengan sendirinya.

"Gimana bajigurnya? Enak kan?" tanya Budi.

Hendro tersenyum.  

KUNTILANAK ROXY DAN POCONGGG “HUMANIS”

Beberapa hari lalu, warga Ibukota Jakarta di sekitar pusat pertokoan HP Roxy, Jakarta Pusat sempat dihebohkan dengan penampakan kuntilanak. Anehnya, warga yang mengetahui itu bukan ketakutan, malah banyak yang penasaran. Mereka yang penasaran ini bela-belain begadang untuk mengetahui langsung wujud kuntilanak tersebut. Bahkan ada mengaku sempat memotret kuntilanak itu dengan kamera HP buatan China.

Kabarnya, foto kuntilanak Roxy itu sempat beredar luas, khususnya di pusat perdagangan Roxy. Sayang saya tidak sempat mendapatkan foto itu dan memang tak tertarik untuk mencari dan menyimpannya di HP. “Ah, nggak penting! Ngapain juga foto kuntilanak disimpan? Mending nyimpen duit, deh!”

Melihat fenomena banyak orang yang penasaran ini melihat wujud kuntilanak Roxy itu, saya jadi menyimpulkan orang zaman sekarang sudah tidak lagi takut terhadap mahkluk halus. Memang sih kata Ustadz-Ustadz, kita kudu percaya mahkluk halus dan tak perlu takut. Masalahnya, sekarang ini mahkluk halus jadi “peliharaan” orang-orang sebagaimana anjing atau kucing. Mahkluk halus “dipuja-puja” bak selebritis dan menjadi tema dalam dunia film mapun program televisi supaya filmnya banyak ditonton atau program acaranya mendapat rating tinggi.

Coba hitung berapa banyak film bertema mahkluk halus diputar di 2011 ini? Ada Jenglot Pantai Selatan, Arwah Goyang Karawang, Kalung Jailangkung, Pocong Ngesot, terakhir yang masih “bergentayangan” film Arwah Kuntilanak Duyung yang dibintangi oleh Dewi Perssik, Saipul Jamil, dan Sule.

Ketidaktakutan orang pada mahkluk halus barangkali disebabkan karena sudah banyak mahkluk halus (baca: iblis) berwujud manusia. Ada manusia yang kelihatannya baik, namun ternyata berhati iblis. Ada yang sok membantu orang, sebetulnya ada maksud tertentu yang dikendalikan oleh nafsu setan.

Soal manusia yang berwujud mahkluk halus jadi ingat buku yang lagi happening, yakni Poconggg juga Pocong karya Arief Muhammad. Buku yang cetakan pertama langsung sold out dalam waktu 15 menit serta sudah dicetak 3 kali dan masih tetap nomer 1 di Indonesia ini berkisah tentang seikat pocong yang “humanis”. Poconggg (huruf “g”-nya harus 3) di buku ini digambarkan tidak menakutkan, tetapi justru membantu manusia dan punya sikap empati.

Simak satu kisah di buku Pocongg juga Pocong yang saya kutip dari halaman 17 ini. Sekadar info, dikisahkan ada wanita muda yang galau ingin bunuh diri di Bunderan Hotel Indonesia (HI), Jakarta, karena ia tengah mengandung jabang bayi, tetapi tidak ada pria yang mau bertanggung jawab.

***

Kita ngeliat sekeliling, berharap ada yang bisa dimintai tolong. Sialnya di sana udah sepi banget. Si cewek mulai teriak-teriak. Dia meronta-ronta kesakitan.

Tanpa diduga-duga, satu kalimat yang tidak diduga-duga keluar dari bibir si cewek,

‘Please, kalian berdua tolongin gue. Gue nggak bisa ngadepin ini sendirian, gue butuh bantuan… gue butuh bantuan kalian!’

Gue dan Anjaw langsung diem. “Kalian?” Barusan dia bilang “Kalian berdua?” Kenapa tiba-tiba dia jadi bisa ngeliat kita? Kenapa tiba-tiba dia minta tolong sama kita?

Panik tingkat Ujian Nasional.

“Mungkin ini tuh The Power of Mother!’ Anjaw mulai sotoy.

‘Kita nggak punya pilihan lain, kita harus bantu dia ngelahirin!’

Entah Anjaw kerasukan manusia mana sampe bisa ngomong kayak gitu. Gue makin bingung. Gue nggak mungkin bisa bantu ngelahirin, melainkan itu susah banget. Harus ada yang narik bayinya keluar dan harus ada yang ngasih semangat buat nenangin si Ibu. Kegiatan ini tentu saja membutuhkan… ah, tau sendiri deh.
***

Usaha Poconggg dengan rekan Anjaw yang sesama Poconggg itu ternyata berhasil. Wanita galau yang tadinya mau bunuh diri, akhirnya berhasil melahirkan bayi dengan selamat. Detik-detik mengharukan itu menekankan betapa pocong di buku ini very helpfull dan humanis.

***

‘Makasih banget, ya. Gue nggak tau gimana jadinya kalo nggak ada kalian. Gue nggak tahu gimana jadinya kalo nggak ada yang nyemangatin. Bayi ini nggak punya bapak. Gue sempet putus asa. Tadinya gue kepikiran buat ngegugurin, tapi setelah ngeliat ketulusan kalian, gue jadi nggak tega dan yakin banget kalo bayi ini sangat berharga. Sekali lagi, makasih banget ya.’

‘Anjrit. Dramatis abis. Ini kenapa dia jadi curhat gini. Mampus gue. Gue bilang apa nih?’ Gue ngomong dalem hati.

Anjaw ngedeketin gue, kemudian dia berbisik.

‘Congg, ingat pencitraan. Kita ini setan, harus jaga wibawa. Jangan sampe terlihat lemah. Kita harus tegar!’

***

Ketika membaca buku itu, selain ngakak karena kocak dan merubah paradigma tentang dunia perpocongan, saya jadi berpikir, seandainya manusia lebih humanis dan very helpfull pasti banyak orang baik di dunia ini, khususnya di Indonesia. Bukan orang yang “pura-pura” baik, tetapi berhati iblis. Atau orang-orang yang lebih suka menunggu kuntilanak Roxy untuk diajak foto bersama, maupun Sutradara-Sutradara film horor yang cuma mengejar pasar.

Orang-orang humanis pasti lebih peka terhadap masalah-masalah sosial, lebih proaktif terhadap situasi. Dalam kamus, orang digambarkan sebagai orang yang mendambakan dan memperjuangkan terwujudnya pergaulan hidup yg lebih baik, berdasarkan asas perikemanusiaan; pengabdi kepentingan sesama umat manusia. Ia menganut paham bahwa manusia sebagai objek terpenting. Nah, bayangkan! Masa kita sebagai manusia kalah sama Poconggg?

Selasa, 06 Desember 2011

SYAHRINI: FROM "JAMBUL KATULISTIWA TO "BECKHAM'S WIFE"

Barangkali ini berita basi. Namun rasanya geregetan juga kalo tidak saya posting, karena menyangkut sejumlah foto yang sudah beredar dari Blackberry (BB) seseorang ke BB orang lain, termasuk akhirnya sampai juga ke BB saya. Buat saya foto-foto ini kreatif dan bikin “sakit perut”.

Sejumlah foto di bawah ini tentu bukan foto asli. Piranti lunak yang mampu “mengacak-acak” gambar memang luar biasa. Suatu ketika bisa mengelabui orang, sheingga foto-foto atau gambar bisa direkayasa sedemikian rupa. Kali ini yang saya ingin tampilkan justru menjadi bahan guyonan. Yang menjadi guyonan adalah Syahrini dan David Backham. Memang sebagian besar hasil rekayasa, tetapi ada satu yang foto asli.

Silahkan menikmati foto-foto berikut ini yang saya kumpulkan dari kiriman ke BB saya. Bagi yang sudah pernah, mohon maaf Anda terpaksa harus melihat kembali.

1. Berawal dari foto di bawah ini. Ini foto asli, dimana Syahrini mengalungi bunga ke David Backham. Sebagai teman di BB group mengomentari sorot mata Backham yang tertuju pada buah dada Syahrini yang tepat di depan. Maklum, Beckham kan tinggi, jadi harus menunduk. Bukan salah “bunda mengandung” kalo kedua bola mata Backham disajikan “sesuatu”

Namun sebagian lagi mengomentari tentang rambut Syahrini yang mirip Tintin itu. Entah apa yang menyebabkan Syahrini tiba-tiba tampil berjambul. Ada sebagian mengatakan, pada saat menjumpai Beckham, Syahrini naik ojek, jadi rambutnya kena angin dan tidak sempat disisir kembali. Sebagian lagi mengatakan, Syahrini ingin menampilkan trend rambut baru, berhubungan film layar lebar Tintin garapan Steven Spielberg lagi main di bioskop-bioskop.







2. Gara-gara jambul itu, Syahrini mulai ngetop lagi. Kali ini bukan sebagai mantan kekasih Anang Hermansyah, tetapi lebih dikenal sebagai pacar David Backham. Itu berita yang bikin ge’er Syahrini tentu. Kalo berita yang bikin sebel adalah, Syahrini dianggap sebagai bentuk perwujudan baru dari Gogon (pemain Srimulat senior) dan (maaf!) monyet jambul. Coba perhatikan foto ini…





3. Syahrini boleh disamakan seperti Gogon atau monyet. Tapi hubungan cinta Syahrini dan David Backham tetap berlanjut. Tak heran foto rekayasa perkawinan Syahrini-Beckham dengan pakaian adat ini pun tersebar meluas se-BB Indonesia. Syahrini berhasil mengambil hati suami Victoria ini, karena konon kabarnya Syahrini lebih cantik dan selalu bersyukur dengan mengucapkan: “Alhamdulillah…sesuatu…”






4. Sejak “menikah” dengan Syahrini, Beckham seringkali masuk angin. Tak heran namanya berubah, dari Beckham menjadi “Bekam”. Ia lebih suka di-bekam, ketimbang dikerok pake koin. Sebab, Bekam sudah tahu, koin itu bisa digunakan untuk mengumpulkan dana, bukan untuk ngerokin body yang sedang masuk angin.






5. Syahrini tidak pernah memberitahu Bekam kalo Indonesia itu sering banjir, terutama di Jakarta. Foto ini akibat, tempat tinggal Bekam yang berada di lingkungan banjir. Padahal pada saat banjir, ia masih harus mengikuti pertandingan bola. Kabar burung menyebutkan, Bekam sudah protes ke Gubernur Fawzi Bowo soal perumahannya yang rawan banjir, tetapi Guburnur yang “Ahli” itu tetap tidak bisa menjamin gemburan air banjir ke kompleks perumahan Bekam ini.






6. Sebaliknya Bekam tidak pernah memberitahu kalo wajah gantengnya sebetulnya gara-gara obat “Gantengin”. Perhatikan perubahan wajah di bawah ini: BEFORE dan AFTER. Sangat jauh terasa sekali perbedaannya, lebih dari 180 derajat, dari gak ganteng menjadi ganteng banget. Tapi jangan coba-coba cari obat “Gantengin” di bawah ini. Sampai lebaran monyet, Anda dijamin gak akan menemukan di apotik atau toko-toko obat.

Bagi Anda yang gak ganteng atau sama dengan foto BEFORE David Beckham di bawah ini, sudahlah terima nasib aja ya. Memang Anda sudah ditakdirkan gak genteng, kok…haha



all photos from BB

Sabtu, 05 November 2011

NGATRI DARI SUBUH DEMI E-KTP

Kelar sholat subuh, tetangga saya nampak bergegas menuju ke Kelurahan. Kebetulan saya berpapasan dengan tetangga saya ini. Ia membawa secarik kertas undangan dari Ketua RT-nya, yang berisi panggilan untuk hadir dalam pembuatan e-KTP.

“Mending datang lebih awal daripada dapat nomor belakangan,” ujar tetangga saya itu.

Tentu saja saya heran. Kenapa harus datang sejak subuh ke kelurahan sementara kantor kelurahan sendiri bukannya baru jam 8 pagi? Menurut penjelasan tetangga saya, kalo kita datang siang, dijamin kita akan mendapatkan nomor antrean 100-an. Dan itu bisa jadi saya akan dilayani siang hari.

Hari itu kebetulan saya harus menghadiri miting pukul 12. Lunch meeting. Pikir saya, daripada saya mendapatkan nomor buncit yang baru dilayani siang, lebih baik saya ikut ucapan tetangga saya: antre mendapatkan nomor di kelurahan kelar sholat subuh. Ya, apa boleh buat…

Ternyata benar, sejak dari subuh sampai menjelang pukul 7 pagi, anteran warga untuk mengambil nomor cukup ramai. Meski waktu masih menunjukan pukul 7 pagi, tetapi nomor antrean sudah mencapai nomor ke-100. Alhamdulillah saya mendapat nomor ke-3, sedang tetangga saya nomor 1 dan 2.

Belum pernah terjadi dalam hidup saya antre dari subuh hanya untuk mendapatkan nomor. Ini gara-gara e-KTP. Bagaimana pengalaman Anda membuat e-KTP? Yang pasti, ketika pemerintah menggulirkan wacana e-KTP, terus terang saya senyam-senyum. Kenapa? Sebab e-KTP sebenarnya program usang yang sudah dilakukan di kota kecil di Bali bernama Jembrana. Tentang Jembrana sudah sempat saya tulis di Kompasiana.

Jembrana adalah Kabupaten di Indonesia yang pertama kali mempopulerkan e-KTP. Dengan jumlah penduduk sekitar 269.859 jiwa, Jembrana sudah mampu mengembangkan teknologi elektronik dalam satu kartu yang belakangan popular dengan sebutan e-KTP.

Adalah mantan Bupati drg. I Gede Winasa yang berinovasi terhadap e-KTP ini. Alhamdulillah saya sempat bertemu dengan sang Bupati pada 2009 dan melihat pelaksanaan secara langsung kehebatan e-KTP ini, dimana satu kartu bisa digunakan untuk berobat ke rumah sakit, keperluan admistrasi di Kelurahan, maupun untuk pemilihan Kepala Desa (Kades).

Kini, program e-KTP yang digagas Jembrana diangkat menjadi proyek nasional. Dari pengamatan saya pribadi yang sudah membuat e-KTP kemarin, berjalan relatif lancar. Petugas mulai membuka loket tepat pukul 08:00 wib, dimana nomor-nomor anteran dipanggil satu per satu.

Proses pembuatannya setelah mendapat undangan dari masing-masing RT adalah mendapatkan nomor antrean. Setelah ada nomor antrean, Anda akan dipanggil dan masuk ke dalam sebuah ruang, dimana Anda akan melakukan beberapa tahapan sebagaimana membuat SIM. Selain difoto, Anda harus membuat tanda tangan di atas sebuah mesin yang terkoneksi ke komputer. Anda juga harus melakukan foto mata dan finger print. Nah, pengalaman saya, aktivitas yang cukup menyita waktu terjadi di finger print. Mesin finger print ini cukup merepotkan (baca: kurang sensitif).

Jari-jemari kita kudu ditekan dengan keras agar serat-serat di kulit bisa terdeketsi oleh mesin finger print tersebut. Kabarnya, mereka yang punya kulit jari yang halus itu sulit terbaca. Beda dengan mereka yang memiliki kulit yang kasar. Tak heran, saya butuh waktu sekitar 10 menit di mesin finger print ini.

Alhamdulillah, kurang lebih 15 menit, saya sudah keluar dari ruang proses e-KTP. Beruntung sekali saya mendapat nomor awal. Sebab, begitu keluar ruangan, saya melihat sejumlah warga yang berjubel menunggu anteran.

“Wah, kalo saja saya nggak ketemu elo, mungkin gue nggak bakal antre di Kelurahan abis subuh bro,” ujar saya pada tetangga saya.