Kamis, 04 Agustus 2011

DEMI DUIT, ADZAN DI TELEVISI DISUSUPI IKLAN DAIHATSU

Begitu Muadzin mengumandangkan kalimat: “hayya alasshala”, nampak dengan jelas merek dan logo merek otomotif Daihatsu. Di scene itu terlihat empat orang sedang berbincang dengan latar belakang front office perusahaan Daihatsu. Lalu logo Daihatsu di-close up sehingga semakin jelas terlihat.

Itulah adzan di salah satu televisi swasta kita. Tayangan yang seharusnya bersih dari komersialisasi masih juga disusupi oleh iklan. Dalam dunia televisi istilah penyusupan iklan dengan cara seperti lazim disebut built in product.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengimbau agar tayangan adzan di televisi haruslah bersih dan bebas dari iklan. Ini menyusul adanya satu tayangan adzan yang disisipi iklan mobil Daihatsu.

Anggota Pokja Penyiaran Komisi I DPR Roy Suryo menilai tayangan adzan berbau komersil itu tidak etis. Bahkan dia menilai merek dan logo Daihatsu sengaja disusupkan sebagai promosi gelap. “Selayaknya KPI memberikan teguran karena tayangan adzan harus murni dari komersialisasi, ini soal etika keumatan,” tegas Roy sebagaimana penulis kutip dari portal www.inilah.com.

Sekretaris Jenderal (Sekjen) MUI Jakarta, Syamsul Ma’arif juga sependapat dengan Roy suryo. “Adzan janganlah ditumpangi oleh komersialisasi berupa iklan, dan harus bersih,” kata Syamsul Ma’arif pada salah satu media online, Rabu, 3 Agustus 2011.

Tak hanya pada penayangan adzan Magrib, Syamsul pun menilai, selama ini kegiatan-kegiatan keagamaan yang ditayangkan di televisi masih banyak yang mementingkan sesi komersialisasi dan bukan isinya. “Saat ini saya menilai, kegiatan keagamaan lebih banyak didominiasi segi komersial dibandingkan maknanya,” kata Syamsul.

Selama Ramadhan, menjelang adzan memang merupakan jam utama televisi mencari iklan sebanyak-banyaknya. Dengan begitu, televisi akan mendapat keuntungan. Jangan heran jika beberapa detik menjelang adzan, bertaburan iklan-iklan makanan maupun minuman. Bahkan ada televisi yang rela mengambil waktu adzan beberapa menit untuk spot iklan. Maklumlah, satu spot iklan @ 30 detik harganya bisa mencapai puluhan juta. Nah, jika iklan sudah penuh, pengelola televisi biasanya bersiasat untuk menempatkan iklan di dalam adzan seperti yang dilakukan salah satu televisi.

Rabu, 03 Agustus 2011

TIPS AGAR TIDAK KEHILANGAN SANDAL DI MASJID

Sudah bukan rahasia lagi, banyak pengalaman jamaah yang kehilangan sandal tiap selesai sholat. Oknum pencuri sendal ini bergentayangan dimana-mana, barangkali di masjid dekat rumah Anda. Nah, berikut ini sejumlah tips agar tidak kehilangan sandal saat sholat. Tips ini saya dapatkan berasal dari kiriman teman yang mungkin merupakan hasil copy paste (copas) dari pengirim sebelumnya.


1. Mohon hindari pakai sandal bermerek. Pakailah sandal yang siap untuk dicolong atau sandal sekali pakai. Sehingga kalo sandal hilang, Anda tidak kecewa lahir batin.

2. Jika terpaksa memakai sandal bermerek, simpanlah sandal di tempat yang berjauhan atau dipisah. Sandal sebelah kanan simpan di teras masjid, sedangkan sandal yang sebelah kiri simpan di dekat WC.

3. Gunakan password dan alarm pada sandal anda.

4. Pasanglah CCTV atau camera tracker dengan teknologi GPS secara tersembunyi pada sandal anda. Dengan begitu Anda bisa memantau posisi sandal apabila sandal anda dicolong oknum.

5. Gunakanlah sandal dengan motif atau warna berbeda. Misal, sandal sebelah kanan warna pink dengan hiasan bunga mawar, sementara sandal sebelah kiri warna hitam dengan lambang Batman.

6. Gunakanlah nomor sandal yang berbeda, misal sandal sebelah kanan bernomor 37, dan sebelah kiri bernomor 45.

7. Gunakan sandal yang bukan sepasang. Misalnya, pakai sandal kanan dua-duanya atau sebaliknya pakai sandal yang kedua-duanya kiri.

8. Modifikasi sandal Anda dengan menambah manik-manik, payet dll. Atau ukirlah pinggir sandal Anda dengan nilai seni tinggi atau sekalian bolongi tengah sandal anda, sehingga sandal tidak bisa dipakai.

9. Menyimpan secarik kertas di atas sandal anda yang berbunyi “Sandal ini punya Kiai MUI, yang mencuri bakal difatwakan haram” ; “Sandal ini masih kredit, yang mencuri wajib mencicil kreditnya ” ; atau boleh tulis “Hati-hati ada anjing galak”‘

10. Tips terakhir sekaligus jika tidak ingin kehilangan sandal adalah memakai sepatu. Dengan begitu Anda tidak akan pernah kehilangan sandal.

Sabtu, 04 Desember 2010

NEXT PIDATO ADA MUG BERLOGO KUKU BIMA DI PIDATO SBY

Entah siapa yang punya gagasan, tetapi buat saya segala sesuatu yang berhubungan dengan pidato kenegaraan, pasti sudah dipersiapkan dengan matang. Baik itu teks maupun equipment untuk pidato, sudah direncanakan oleh pegawai istana negara. Begitu pula keberadaan i-Pad di atas mimbar, ketika SBY pidato, tentu bukan karena kesengajaan.

Terus terang, sebagai orang nomor satu di Republik Indonesia ini, sungguh tak pantas SBY mempromosikan sebuah produk saat tampil di depan umum, apalagi itu produk asing. Saya tidak peduli Anda setuju, tetapi penampilan SBY dengan i-Pad mengingatkan saya pada sejumlah acara televisi.


Inikah contoh Presiden Republik Indonesia yang cinta produk Indonesia?


Istilahnya branding. Ketika sebuah produk ingin berpromosi dalam sebuah acara, produk ini bisa melakukan berbagai cara, antara lain lewat lose spot atau beriklan di jeda commercial break atau branding di dalam program acara tersebut. Mem-branding-nya bisa dengan loopingan di plasma tv, mug, kalender, maupun model SBY itu, yakni menggunakan laptop dimana ada stiker logo produk tersebut.

Saya curiga, ada orang dekat SBY yang sedang gencar mempromosikan i-Pad, sehingga cara yang paling ampuh adalah dengan memanfaatkan pidato SBY. Kalo AC Nielsen –perusahaan survey yang mempublikasikan rating- mengukur penonton pidato SBY, pasti rating pidato SBY jauh melampaui sinetron Cinta Fitri atau sitkom Opera van Java (OvJ). Itulah yang membuat branding i-Pad dalam pidato SBY jadi efektif.

Anyway, penampilan SBY dengan i-Pad jelas kontraproduktif dengan kampanye cinta produk Indonesia. Seharusnya jika memang ingin menggunakan i-Pad, logo Apple ditutup dengan stiker berlogo Republik Indonesia atau burung Garuda Pancasila. Tapi kalo memang ada benefid yang didapat dengan kemunculan i-Pad dalam pidato tersebut, ya apa boleh buat. So, Anda tidak perlu heran lagi jika nanti SBY pidato, ia akan menggunakan kaos berlogo Nike atau topi Adidas, bahkan kalo perlu nanti ada mug berlogo Kuku Bima. Nah, buat para sponsor, peluang mempromosikan produk kali ini bukan cuma acara televisi, tetapi juga pidato presiden.

Selasa, 02 November 2010

MUMPUNG ANGGOTA DPR RESES...

Sejak minggu lalu, anggota DPR tengah melakukan reses. Tak seperti hari-hari sebelumnya, gedung DPR selalu rame. Maklum, banyak anggota dan juga para jurnalis yang memburu berita. Yang tak kalah penting, banyak pula asap rokok yang mengepul di seluruh ruang di gedung tersebut. Seperti yang pernah saya kisahkan sebelumnya, bahwa gedung MPR DPR adalah surga bagi ahli hisap alias tukang ngebul alias perokok.

Meski reses tak anggota anggota yang hilir mudik, pun asap rokok yang "bergentayangan", namun debu berterbangan di hampir seluruh ruang. Bukan debu akibat gunung meletus, tetapi debu dari bekas lantai gedung Nusantara I yang dicopot. Mumpung para anggota tidak berada di ruang, kuli-kuli pun melakukan renovasi lantai maupun asbes di tiap lantai gedung.

Inilah foto-foto yang saya abadikan ketika mampir ke gedung Nusantara I MPR DPR kemarin. Nah, kalo direnovasi seperti ini, kira-kira gedung ini tetap akan dihancurkan apa tidak ya? Masih ingat dong soal rencana pembangunan gedung baru? Kalo tetap dihancurkan, sayang juga ya biaya renovasi atau mending direnovasi saja daripada membangun gedung baru?






all photos copyright by Jaya

Minggu, 26 September 2010

TIDAK PERNAH BERUBAH: HARI-HARI OMONG KOSONG!

Disaat banyak pemimpin yang ‘tenggelam’ dalam pencitraan. Disaat elit banyak yang tenggelam dalam menyampaikan pernyataan yang bertentangan dengan nurani rakyat. Disaat ada pemimpin yang munafik dengan memberikan pernyataan yang aromanya cenderung pada kobohongan publik. Disaat ada pemimpin tengelam dalam ‘keragu-raguan’. Disaat ada pemimpin yang tengelam dalam mengalihkan isu-isu. Disaat ada pimimpin elit yang tengelam dalam suasana ‘penjilatan’ atau ‘Asal Bapak Senang’....”

Rangkaian kalimat tersebut saya kutip dari kolom Kopi Pagi yang ditulis oleh Harmoko. Tentu sebagian besar Anda tahu siapa itu Harmoko? Ketika Orde Baru (Orba), namanya dijadikan sebuah singkatan yang diplesetkan menjadi "Hari-Hari Omong Kosong".


Suharto dan Harmono. Ibarat guru dan murid. Sayang, di akhir kisah si murid mendzolimi guru, dengan cara melengserkan dari tahta.

Harmoko lahir di Kertosono, Nganjuk, Jawa Timur, 7 Februari 1939. Pria ini pernah menjabat sebagai Menteri Penerangan Republik Indonesia pada masa Orba dari 19 Maret 83 sampai 16 Maret 1997 (14 tahun); Ketua DPR RI periode 1997-1998; dan Ketua MPR pada masa pemerintahan BJ Habibie (1997-1998).

Sebelum menjadi pejabat di pemerintahan Orba, pria yang terkenal dengan kata-kata “menurut petunjuk Bapak Presiden” ini sempat menjadi Ketua Persatuan Wartawan Indonesia dan Ketua Umum DPP Golkar (1988-1993). Pada tahun 1970, bersama beberapa temannya, ia menerbitkan harian Pos Kota.

Bagi pelanggan Pos Kota, barangkali sudah tidak asing lagi dengan kolom Kopi Pagi yang ditulis oleh Harmoko itu. Sebuah metode pencitraan atas kesalahan-kesalahan masa lalu, dimana tulisan-tulisan di kolom itu seolah Harmoko sebagai politisi memiliki hati nurani, reformis, dan bukan tipikal ‘penjilat’ atau ‘Asal Bapak Senang’.

Simak lagi tulisan di artikel di kolom yang sama bejudul Tenggelam ini:

Karena banyak para pejabat yang menganut ‘Keuangan Maha Kuasa’, maka tidak sedikit jalur-jalur hijau yang seharusnya menjadi benteng lingkungan berubah menjadi benteng ekonomi liberal....


Harmoko ketika menjadi Ketua Umum Golkar. Ia termasuk pejabat Orba yang "selamat". Kini berkoar-koar sok menjadi pahlawan. Dulu saat menjabat kemana saja Pak?

Para elit pimpinan berlomba membuat citra bahwa kerja-kinerjanya sesuai dengan harapan rakyat, tetapi kenyataan di lapangan kerja-kinerja itu malah membuat kemiskinan berjumlah meningkat. Begitu juga kenaikan harga-harga kebutuhan pokok membuat rakyat mengeluarkan sumpah-serapah. Bahkan ada yang menilai pemerintah baik pusat maupun daerah cenderung gagal melaksanakan janji-janjinya
”.

Mohon maaf, ketika membaca tulisan-tulisan Harmoko di Kopi Pagi saya seringkali mual-mual dan kepala pusing. Mau muntah. Padahal sebelum membaca Kopi Pagi, saya sudah sarapan pagi. Ah, barangkali lantaran saya melihat foto Harmoko di kolom tersebut dengan senyum khasnya sambil menggunakan peci serta jas dan dasi. Persis ketika ia menjabat sebagai Menteri Penerangan dan saat ketika ia melengserkan Presiden Soeharto tahun Mei 1998.

“Ia tidak pernah berubah dari dulu zaman Orde Baru sampai sekarang. Hari-hari penuh omong kosong....”

“PELACUR SEPERTI SAYA ADALAH OBAT PENENANG BAGI SUAMI-SUAMI YANG TIDAK BAHAGIA DI RUMAH”

Pernyataan tersebut diungkapkan oleh seorang call girl cantik pada dr. Boyke Dian Nugraha SpOG. Tentu saja, pernyataan itu tidak diutaran saat dokter Boyke sedang berada di kamar hotel, tetapi di dalam ruang praktek.

Kisah yang saya kutip dari buku Di Balik Ruang Praktek Dr. Boyke ini berawal ketika seorang call girl (selanjutnya saya sebut pelacur) masuk ke ruang praktek dengan wajah lebam. Ada bekas tamparan di pipinya yang menurutnya berasal dari pelanggannya. Si pelanggan menampar pipi si pelacur, gara-gara ia didiagnosa menderita penyakit kelamin. Prak! Prok!

Tamparan tersebut jelas membuat kaget si pelacur. Semakin kaget, ketika si pelanggan mengungkapkan, bahwa dirinya kencing nanah setelah 4 hari kencan dengan si pelancur itu. Menurut si pelacur, sangat tidak mungkin pelacur kelas tinggi seperti dia bisa menularkan penyakit via (maaf!) vaginanya. Pelacur kelas tinggi seperti dia selalu dijamin kesehatannya. Wong ia selalu memeriksakan kesehatan, disuntik anti-sypilis, dan para pelanggannya pun terpilih, yakni dari kelas atas semua.

“Apakah Anda yakin bahwa sebuah ‘lubang’ yang diisi berbagai cairan dari berbagai sumber dijamin bersih?” tanya dr. Boyke, seperti yang saya kutip dari buku tersebut di halaman 177.

“Jadi saya menderita penyakit kelamin, dok?” tanya pelacur itu.

“Kemungkinan iya,” jawab dr. Boyke.

Dr. Boyke pun meminta si pelacur memeriksa ke laboratorium. Nah, saat menunggu hasil lab, dr. Boyke memberi saran agar si pelacur yang lulusan akademi sekretaris ini untuk kembali ke jalan yang ‘lurus’. Artinya, berhenti jadi pelacur. Namun, si pelacur ini malah marah-marah. Katanya, ia ke dokter untuk berobat, bukan untuk diceramahi.

“Saya mengerti terhadap profesi dokter, tetapi saya pun bangga dengan profesi saya ini,” ujar pelacur itu.

Ketika muncul kata profesi, dr. Boyke sempat protes. Bayangkan, pelacur dianggap profesi sebagaimana profesi dokter. Namun, si pelacur ternyata punya alasan. “Coba dokter pikir, tanpa orang semacam saya mana mungkin dicapai persetujuan proyek-proyek besar. Saya memang umpan, tetapi umpan untuk sesuatu yang berguna dalam pembangunan,” kata dengan senyum penuh kemenangan.

Lanjutnya, “Orang semacam saya adalah obat penenang bagi suami-suami yang tidak bahagia di rumah”.

Dikatakan oleh si pelacur, bahwa banyak suami yang bertemu dengannya mengeluh soal pekerjaan dan juga rumah tangga. Para suami ini mengeluh, kalau di rumah yang mereka dapat hanya rong-rongan materi dan kecemburuan saja, sementara dengan si pelacur masalah-masalah tersebut seolah langsung selesai. Sebab, selain memberikan kenikmatan dalam layanan seks, si pelacur seperti seorang advisor jenius.

Tentang istri-istri yang seringkali membuat suami merasa terus ‘dirong-rong’ materi, saya jadi ingat salah satu khotbah Jum’at yang sempat saya dengar. Bahwa ujian yang paling berat bagi seorang suami ternyata datang dari istri sendiri. Pulang kerja, bukan menyiapkan minum atau makan malam, justru malah menyiapkan segudang pertanyaan yang menyudutkan suami. Istri marah-marah. Suami mana yang tidak BT?

Suami seorang pejabat. Bertahun-tahun menjabat, tetapi tidak menjadikan keluarga kaya raya. Tanpa sadar, istri minta ini-itu, dimana permintaan itu mendesak suami untuk melakukan tindakan yang di luar kemampuan, khususnya dalam materi. Dengan sadar sang suami menjadi koruptor. Istri tak peduli uang yang didapat sang suami, yang penting keinginan ini-itu terpenuhi. Sang suami BT, terlanjur basah, suami pun berselingkuh dan ‘main’ dengan pelacur.

Namun saya tidak membenarkan tindakan suami melakukan tindakan korupsi atau ‘lari’ ke dunia pelacuran sebagaimana contoh di atas. Sebab, tulisan ini tidak bermaksud menyudutkan istri, apalagi saya sebagai pria yang menjadi pembela suami-suami peselingkuh atau tukang ‘main’ dengan pelacur. Oalah! Tulisan ini sekadar mengungkap fenomena yang sudah lama terjadi hingga kini. Tujuannya, biar bisa menjadi pelajaran kita bersama, bukan cuma pelajaran bagi dr. Boyke di ruang prakteknya.

Selasa, 14 September 2010

FAKTA PEGAWAI NEGERI SIPIL DI NEGARA KITA

Melihat tayangan Metro TV, rasanya melihat kembali fakta yang tidak pernah berubah dari Pegawai Negeri Sipil (PNS) di negara kita. Apalagi kalo bukan persoalan bolos kerja, mangkir, entah apa lagi namanya. Ternyata persoalan bolos tidak hanya dilakukan oleh para pelajar sekolah, tetapi juga PNS, dan anggota DPR RI kita.

Apakah perlu membolos dijadikan budaya kita? Kita patenkan budaya membolos ini di Kementrian Hukum dan HAM. Tujuannya, agar mendapat Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) supaya tidak ada yang mengklaim. Anyway, inilah liputan Metro TV tentang PNS yang membolos di beberapa kota di Indonesia, di hari pertama masuk sekolah, eh salah, maksudnya hari pertama masuk kerja. Ah, sungguh memalukan PNS ini.


DI BLITAR, JAWA TIMUR


DI SERANG, BANTEN


DI PADANG, SUMATERA BARAT


DI CIMAHI, JAWA BARAT


DI BANYUWANGI, JAWA TIMUR

Sabtu, 04 September 2010

COBA TEBAK HARGANYA

Kelihatannya hanya sebuah boneka. Namun ternyata boneka ini cukup "canggih". Kalo kita memegang leher boneka ini, ia akan terbatuk-batuk. Begitu kita pegang hidungnya, bayi ini akan mengeluarkan suara seperti sedang pilek. Lalu ketika hendak di suntik, bayi ini menangis sekeras-kerasnya.

Boneka itu ada di dalam bungkusan mainan bernama check up: get well babe. Dari namanya saja kita sudah bisa mengira-ngira, bahwa bayi ini adalah bayi yang sakit. Tugas anak yang memainkan boneka ini adalah mengecek jenis penyakit si bayi tersebut, sehingga bayi tersebut bisa sembuh.

Mainan kedua berjudul play mat, yakni sebuah kain yang ajaib, karena di atas kain kita bisa melukis dengan menggunakan air. Tentu saat menulis kita menggunakan alat semacam pulpen. Tagline dari mainan ini adalah water magic. Yap, lukisan dari air yang dilukis di atas mat ini bisa menghilang dalam tempo 5 menit. Bim salabim! Abrakadabra!



Kemudian ada permainan bernama My Family Doctor. Barangkali permainan ini tidak begitu "canggih" dibanding dua permainan sebelumnya. Mainan ini banyak di toko-toko, yakni berisi peralatan dokter. Meski peralatan di My Family Doctor ini lebih banyak, karena termasuk ada termometer yang benar-benar bisa difungsikan, tetapi permainan ini biasalah.

Terakhir adalah Dazzlers Dreams. Ini adalah sebuah alat yang ditujukan kepada anak yang gemar sekali show off, entah itu bernyanyi, berpidato, atau sok menjadi politikus. Sebab, paket dalam Dazzlers Dreams ini terdiri dari mikrofone berikut stand mic-nya. Lalu ada lampu-lampu yang dapat menyala seolah lampu di diskotek. Tak kalah menarik, ada speaker yang mampu menyuarakan bunyi drum dan juga tepuk tangan para penonton.

Keempat mainan ini baru saja dibeli oleh istri saya, dalam rangka ulangtahun putri saya yang kedua. Terus terang saya kaget ketika melihat jumlah permainan yang dibelikan istri saya ini. "Kok banyak amat? Pasti harganya sekitar lmaratus ribu atau bahkan lebih dari sejuta deh?" pikir saya.

Tapi saya kaget begitu istri saya menggelengkan kepala, tanpa tuduhan saya salah. Harga yang saya asumsikan meleset 100%. "Kok murah sekali?" tanya saya rada naif. Coba tebak menurut Anda berapa total harga keempat mainan itu?

HI-TECH ERA 70-AN

Ketika teknologi belum segokil sepuluh tahun belakangan ini, nggak ada teknologi mekanik yang selegend ini. Namanya view master. Dari namanya kita sudah menduga, alat ini fungsinya “diintip”. Si pemakai harus mengintip dalam dua lubang yang tersedia di view master ini. Sepintas alat ini mirip teropong atau bahasa premannya kekeran.

Saya masih ingat banget, alat ini begitu digemari anak-anak SD tahun 70-an dan 80-an. Harap maklum, view master dianggap canggih di masa itu. Produk hi-tech. Padahal alat ini hanya meneropong still photo yang terdapat pada sebuah reel.

Reel berbentuk bulat seperti lempengan berdiameter 5 cm. Di Pada 1 reel terdapat 10-15 still photos. Yang manarik, still photo tersebut bisa dilihat secara 3D, sehingga kita seolah sedang menyaksikan sebuah pertunjukan film, meski gambarnya tidak bergerak. Teknologi yang cukup canggih di zamannya bukan?



Ada berbagai macam cerita-cerita menarik yang ada pada reel tersebut. Sebut saja petualangan Batman, Superman, Micky Mouse, dan jagoan yang ngetop banget saat televisi masih TVRI sendiri, yakni Manix. Masih ingat detektif ganteng itu kan?

Bagi anak yang berasal dari golongan kaya, biasanya punya alat canggih ini. Kalo mereka sudah membeli view master, tinggal mengkomplitkan reel-reel-nya aja. Terus terang saya nggak tahu, cerita-cerita apa lagi. Sebab, masa itu, saya nggak mampu beli, tetapi cukup menikmatinya di sekolah.

Yap! Saat masih di sekolah dulu, view master ini menjadi incaran anak-anak seusia saya dulu. Ada seorang tukang yang menggelar lapak view master di depan sekolah. Saya lupa namanya. Yang pasti, ia membawa beberapa view master, dimana alat tersebut diikat dengan tali supaya nggak bisa dicolong orang. Mereka yang berminat menonton, cukup membayar beberapa perak dan memilih cerita yang diminati. Wah, pokoknya seru banget! Kalo lagi penuh, yang ngantri view master ini cukup banyak juga, lho!

Senin, 30 Agustus 2010

SINDIRAN PENDIDIKAN NASIONAL DALAM KOMIK STRIP

Seorang bapak menasehati anaknya agar segera bersekolah. Kata sang bapak, dengan sekolah, anak bisa cepat mencari uang. Dengan naif, anak pun mengikuti perintah bapaknya untuk segera mengganti baju dengan seragam sekolah, komplit dengan topi sekolah.

Di tengah jalan, ketika sedang menyeberang, ada seorang nenek yang juga hendak menyeberang. Awalnya, rasa kemanusiaan sang anak muncul. Ia menggandeng nenek itu, bermaksud menyeberangkan. Tetapi begitu sang anak melihat uang di jalan, ia lebih memilih uang. Sementara nenek yang tadi tangannya dipegang, ditinggalkan. Nenek itu dibiarkan tertabrak mobil.

Salah satu kisah dari komik strip itu sungguh merupakan sindiran terhadap kondisi murid-murid sekolah di tanah air kita ini. Meski agak sedikit berlebihan, tetapi sang komikus Eko S. Bimantara berusaha memotret fakta pendidikan nasional dengan cara menyindir lewat komik. Bahwa murid-murid saat ini tidak lagi diberikan materi tentang pendidikan moral maupun pendidikan karakter. Di era keterbukaan ini, pendidikan nasional justru malah banyak menghasilkan murid-murid yang bermental kapitalis maupun matrialistik.



Lihat lagi sindirian Eko di kisah lain di komik Guru Berdiri Murid Berlari ini. Nampak seorang kepala sekolah memberikan piala yang cukup besar kepada seorang murid yang mengharumkan sekolah, karena berhasil menjuarai lomba cerdas cermat. Baik sang murid maupun sang kepala sekolah bangga dengan prestasi ini. Namun kepala sekolah itu bingung, karena setelah mendapatkan piala, murid itu tidak beranjak dari tempat.

“Kamu nunggu apa lagi?” tanya Kepala Sekolah.

“Duit!” jawab sang murid.

“Wah, juara hanya dapat trophy.”

Begitu tahu juara cerdas cermat hanya mendapatkan trophy, murid itu langsung memberikan lagi piala yang besar itu ke Kepala Sekolah. Ia pergi meninggalkan Kepala Sekolah yang bingung dan berdiri mematung sambil memegang piala.



Ironis, tetapi fakta di lapangan memang begitu. Bahwa pendidikan moral maupun karakter saat ini memang tak banyak diajarkan di bangku sekolah. Tidak heran jika murid-murid sekarang ini cenderung matrialistik. Semua diukur lewat uang, sehingga nilai-nilai sosial maupun semangat gotong royong yang dahulu dimiliki oleh bangsa Indonesia lambat laun hilang.

Anggota DPR RI Dr. Hetifah Sajifudian, MPP dalam kesempatan terpisah juga menyesali kurikulum yang tidak memasukkan pembangunan karakter. Padahal, kata Hetifah, pendidikan karakter itu sangat penting, mengingat generasi sekarang ini karakter keindonesiaan mereka mulai luntur. Oleh karena itu, di tahun-tahun mendatang, orientasi pembelajaran di sekolah harus seimbang.

“Orientasi pembelajaran harus menyeimbangkan pengembangan intelektual dengan pengembangan karakter,” papar Hetifah yang dikenal sebagai anggota DPR RI Komisi X ini.

Menurut Hetifah, ia tidak masalah jika metode belajar-mengajar selama ini harus dirombak total guna keseimbangan tersebut. Hal tersebut semata-mata demi pendidikan nasional dan tentu saja mengajarkan kembali karakter keindonesiaan yang belakangan mulai memudar.



Sindiran-sindiran dalam komik terbitan Gradien Mediatama (Yogyakarta) ini seharusnya menjadi cermin bagi dunia pendidikan kita. Eko sendiri membuat karya ini berdasarkan pengalama pribadi. Dalam kata pengantarnya, ia sadar sekolah merupakan salah satu lingkungan yang sangat besar pengaruhnya terhadap prilaku mental dan pola pikir seseorang.

Tulis Eko, sedikit banyaknya prilaku pendidik, akan mempengaruhi pula tindak tanduk dan hasil belajar peserta didik (output). Itulah yang membuat guru atau tenaga pendidik menjadi sebuah pekerjaan atau profesi yang tidak mudah. Namun komikus kelahiran Jakarta, 30 Mei 1988 ini percaya, bahwa satu hal yang benar-benar sangat perlu dibenahi paling awal di negara kita ini adalah dunia pendidikan.

Kamis, 26 Agustus 2010

Rezeki atau Pelecehan Mata Ya?

Tulisan ini tidak bermaksud untuk merendahkan martabat kaum perempuan. Tulisan ini sekadar mempertanyakan saja. Baiklah, sebelum saya mempertanyakan, silahkan perhatikan foto di bawah ini baik-baik.



Foto yang sudah Anda lihat di atas itu saya ambil via telepon seluler saya. Foto ini saya abadikan saat duduk sendiri di sebuah cafe di bilangan jalan Mulawarman, Jakarta Selatan, beberapa saat setelah buka puasa di bulan Ramadhan 1431 H.

Ada seorang perempuan tepat di samping kiri saya, dimana perempuan tersebut menggenakan busana terbuka blas. Hampir 50% tubuhnya terlihat dengan jelas. Yang bikin ngiler, kulitnya putih mulus itu. Harap maklum, perempuan ini berasal dari etnis Tionghoa. Hanya bra transparan yang terbuat dari plastik yang membungkus bagian vital di tubuh perempuan itu.

Suasana menjelang buka puasa benar-benar tidak fokus lagi pada suara bedug. Bayangkan, jarak antara cangkir berisi teh manis hangat (lihat foto ada cangkir yang ada di sebelah kiri) dengan perempuan itu cuma tiga jengkal jari. Jangan heran, mata saya jadi tidak fokus: melihat televisi yang menyiarkan bedug dan tubuh perempuan yang mulus itu.

Kata orang, keindahan perempuan itu adalah rezeki. Yang namanya rezeki, ya jangan ditolak. Tetapi apakah namanya rezeki kalo saya melihat tubuh perempuan itu berkali-kali?

Anda tentu akan mengatakan, kalo saya tidak mau melihat tubuh perempuan yang terbuka itu, ya tidak usah dilihat. Baiklah kalo begitu. Namun, sekali lagi, saya tidak bisa “berkutik”. Kalo Anda ada di posisi saya menjelang bedug, pasti tidak akan mungkin “menolak” pemandangan yang indah itu. Itulah yang kemudian saya berguyon menganalogikan pemandangan itu adalah sebuah “pelecehan” terhadap mata saya. Entahlah apa pendapat Anda?

Anyway, sambil berguyon lagi saya melihat kejadian ini adalah sebuah bentuk godaan di bulan puasa. Mahkluk halus yang katanya diikat di bulan suci ini, ternyata tidak sepenuhnya diikat. Banyak mahkluk halus yang berwujud manusia masih beredar dan menggoda kita selama puasa. Moga-moga kita bersama bisa menahan aneka godaan mahkluk halus berwujud manusia itu. Amin!