Minggu, 26 September 2010

TIDAK PERNAH BERUBAH: HARI-HARI OMONG KOSONG!

Disaat banyak pemimpin yang ‘tenggelam’ dalam pencitraan. Disaat elit banyak yang tenggelam dalam menyampaikan pernyataan yang bertentangan dengan nurani rakyat. Disaat ada pemimpin yang munafik dengan memberikan pernyataan yang aromanya cenderung pada kobohongan publik. Disaat ada pemimpin tengelam dalam ‘keragu-raguan’. Disaat ada pemimpin yang tengelam dalam mengalihkan isu-isu. Disaat ada pimimpin elit yang tengelam dalam suasana ‘penjilatan’ atau ‘Asal Bapak Senang’....”

Rangkaian kalimat tersebut saya kutip dari kolom Kopi Pagi yang ditulis oleh Harmoko. Tentu sebagian besar Anda tahu siapa itu Harmoko? Ketika Orde Baru (Orba), namanya dijadikan sebuah singkatan yang diplesetkan menjadi "Hari-Hari Omong Kosong".


Suharto dan Harmono. Ibarat guru dan murid. Sayang, di akhir kisah si murid mendzolimi guru, dengan cara melengserkan dari tahta.

Harmoko lahir di Kertosono, Nganjuk, Jawa Timur, 7 Februari 1939. Pria ini pernah menjabat sebagai Menteri Penerangan Republik Indonesia pada masa Orba dari 19 Maret 83 sampai 16 Maret 1997 (14 tahun); Ketua DPR RI periode 1997-1998; dan Ketua MPR pada masa pemerintahan BJ Habibie (1997-1998).

Sebelum menjadi pejabat di pemerintahan Orba, pria yang terkenal dengan kata-kata “menurut petunjuk Bapak Presiden” ini sempat menjadi Ketua Persatuan Wartawan Indonesia dan Ketua Umum DPP Golkar (1988-1993). Pada tahun 1970, bersama beberapa temannya, ia menerbitkan harian Pos Kota.

Bagi pelanggan Pos Kota, barangkali sudah tidak asing lagi dengan kolom Kopi Pagi yang ditulis oleh Harmoko itu. Sebuah metode pencitraan atas kesalahan-kesalahan masa lalu, dimana tulisan-tulisan di kolom itu seolah Harmoko sebagai politisi memiliki hati nurani, reformis, dan bukan tipikal ‘penjilat’ atau ‘Asal Bapak Senang’.

Simak lagi tulisan di artikel di kolom yang sama bejudul Tenggelam ini:

Karena banyak para pejabat yang menganut ‘Keuangan Maha Kuasa’, maka tidak sedikit jalur-jalur hijau yang seharusnya menjadi benteng lingkungan berubah menjadi benteng ekonomi liberal....


Harmoko ketika menjadi Ketua Umum Golkar. Ia termasuk pejabat Orba yang "selamat". Kini berkoar-koar sok menjadi pahlawan. Dulu saat menjabat kemana saja Pak?

Para elit pimpinan berlomba membuat citra bahwa kerja-kinerjanya sesuai dengan harapan rakyat, tetapi kenyataan di lapangan kerja-kinerja itu malah membuat kemiskinan berjumlah meningkat. Begitu juga kenaikan harga-harga kebutuhan pokok membuat rakyat mengeluarkan sumpah-serapah. Bahkan ada yang menilai pemerintah baik pusat maupun daerah cenderung gagal melaksanakan janji-janjinya
”.

Mohon maaf, ketika membaca tulisan-tulisan Harmoko di Kopi Pagi saya seringkali mual-mual dan kepala pusing. Mau muntah. Padahal sebelum membaca Kopi Pagi, saya sudah sarapan pagi. Ah, barangkali lantaran saya melihat foto Harmoko di kolom tersebut dengan senyum khasnya sambil menggunakan peci serta jas dan dasi. Persis ketika ia menjabat sebagai Menteri Penerangan dan saat ketika ia melengserkan Presiden Soeharto tahun Mei 1998.

“Ia tidak pernah berubah dari dulu zaman Orde Baru sampai sekarang. Hari-hari penuh omong kosong....”

“PELACUR SEPERTI SAYA ADALAH OBAT PENENANG BAGI SUAMI-SUAMI YANG TIDAK BAHAGIA DI RUMAH”

Pernyataan tersebut diungkapkan oleh seorang call girl cantik pada dr. Boyke Dian Nugraha SpOG. Tentu saja, pernyataan itu tidak diutaran saat dokter Boyke sedang berada di kamar hotel, tetapi di dalam ruang praktek.

Kisah yang saya kutip dari buku Di Balik Ruang Praktek Dr. Boyke ini berawal ketika seorang call girl (selanjutnya saya sebut pelacur) masuk ke ruang praktek dengan wajah lebam. Ada bekas tamparan di pipinya yang menurutnya berasal dari pelanggannya. Si pelanggan menampar pipi si pelacur, gara-gara ia didiagnosa menderita penyakit kelamin. Prak! Prok!

Tamparan tersebut jelas membuat kaget si pelacur. Semakin kaget, ketika si pelanggan mengungkapkan, bahwa dirinya kencing nanah setelah 4 hari kencan dengan si pelancur itu. Menurut si pelacur, sangat tidak mungkin pelacur kelas tinggi seperti dia bisa menularkan penyakit via (maaf!) vaginanya. Pelacur kelas tinggi seperti dia selalu dijamin kesehatannya. Wong ia selalu memeriksakan kesehatan, disuntik anti-sypilis, dan para pelanggannya pun terpilih, yakni dari kelas atas semua.

“Apakah Anda yakin bahwa sebuah ‘lubang’ yang diisi berbagai cairan dari berbagai sumber dijamin bersih?” tanya dr. Boyke, seperti yang saya kutip dari buku tersebut di halaman 177.

“Jadi saya menderita penyakit kelamin, dok?” tanya pelacur itu.

“Kemungkinan iya,” jawab dr. Boyke.

Dr. Boyke pun meminta si pelacur memeriksa ke laboratorium. Nah, saat menunggu hasil lab, dr. Boyke memberi saran agar si pelacur yang lulusan akademi sekretaris ini untuk kembali ke jalan yang ‘lurus’. Artinya, berhenti jadi pelacur. Namun, si pelacur ini malah marah-marah. Katanya, ia ke dokter untuk berobat, bukan untuk diceramahi.

“Saya mengerti terhadap profesi dokter, tetapi saya pun bangga dengan profesi saya ini,” ujar pelacur itu.

Ketika muncul kata profesi, dr. Boyke sempat protes. Bayangkan, pelacur dianggap profesi sebagaimana profesi dokter. Namun, si pelacur ternyata punya alasan. “Coba dokter pikir, tanpa orang semacam saya mana mungkin dicapai persetujuan proyek-proyek besar. Saya memang umpan, tetapi umpan untuk sesuatu yang berguna dalam pembangunan,” kata dengan senyum penuh kemenangan.

Lanjutnya, “Orang semacam saya adalah obat penenang bagi suami-suami yang tidak bahagia di rumah”.

Dikatakan oleh si pelacur, bahwa banyak suami yang bertemu dengannya mengeluh soal pekerjaan dan juga rumah tangga. Para suami ini mengeluh, kalau di rumah yang mereka dapat hanya rong-rongan materi dan kecemburuan saja, sementara dengan si pelacur masalah-masalah tersebut seolah langsung selesai. Sebab, selain memberikan kenikmatan dalam layanan seks, si pelacur seperti seorang advisor jenius.

Tentang istri-istri yang seringkali membuat suami merasa terus ‘dirong-rong’ materi, saya jadi ingat salah satu khotbah Jum’at yang sempat saya dengar. Bahwa ujian yang paling berat bagi seorang suami ternyata datang dari istri sendiri. Pulang kerja, bukan menyiapkan minum atau makan malam, justru malah menyiapkan segudang pertanyaan yang menyudutkan suami. Istri marah-marah. Suami mana yang tidak BT?

Suami seorang pejabat. Bertahun-tahun menjabat, tetapi tidak menjadikan keluarga kaya raya. Tanpa sadar, istri minta ini-itu, dimana permintaan itu mendesak suami untuk melakukan tindakan yang di luar kemampuan, khususnya dalam materi. Dengan sadar sang suami menjadi koruptor. Istri tak peduli uang yang didapat sang suami, yang penting keinginan ini-itu terpenuhi. Sang suami BT, terlanjur basah, suami pun berselingkuh dan ‘main’ dengan pelacur.

Namun saya tidak membenarkan tindakan suami melakukan tindakan korupsi atau ‘lari’ ke dunia pelacuran sebagaimana contoh di atas. Sebab, tulisan ini tidak bermaksud menyudutkan istri, apalagi saya sebagai pria yang menjadi pembela suami-suami peselingkuh atau tukang ‘main’ dengan pelacur. Oalah! Tulisan ini sekadar mengungkap fenomena yang sudah lama terjadi hingga kini. Tujuannya, biar bisa menjadi pelajaran kita bersama, bukan cuma pelajaran bagi dr. Boyke di ruang prakteknya.

Selasa, 14 September 2010

FAKTA PEGAWAI NEGERI SIPIL DI NEGARA KITA

Melihat tayangan Metro TV, rasanya melihat kembali fakta yang tidak pernah berubah dari Pegawai Negeri Sipil (PNS) di negara kita. Apalagi kalo bukan persoalan bolos kerja, mangkir, entah apa lagi namanya. Ternyata persoalan bolos tidak hanya dilakukan oleh para pelajar sekolah, tetapi juga PNS, dan anggota DPR RI kita.

Apakah perlu membolos dijadikan budaya kita? Kita patenkan budaya membolos ini di Kementrian Hukum dan HAM. Tujuannya, agar mendapat Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) supaya tidak ada yang mengklaim. Anyway, inilah liputan Metro TV tentang PNS yang membolos di beberapa kota di Indonesia, di hari pertama masuk sekolah, eh salah, maksudnya hari pertama masuk kerja. Ah, sungguh memalukan PNS ini.


DI BLITAR, JAWA TIMUR


DI SERANG, BANTEN


DI PADANG, SUMATERA BARAT


DI CIMAHI, JAWA BARAT


DI BANYUWANGI, JAWA TIMUR

Sabtu, 04 September 2010

COBA TEBAK HARGANYA

Kelihatannya hanya sebuah boneka. Namun ternyata boneka ini cukup "canggih". Kalo kita memegang leher boneka ini, ia akan terbatuk-batuk. Begitu kita pegang hidungnya, bayi ini akan mengeluarkan suara seperti sedang pilek. Lalu ketika hendak di suntik, bayi ini menangis sekeras-kerasnya.

Boneka itu ada di dalam bungkusan mainan bernama check up: get well babe. Dari namanya saja kita sudah bisa mengira-ngira, bahwa bayi ini adalah bayi yang sakit. Tugas anak yang memainkan boneka ini adalah mengecek jenis penyakit si bayi tersebut, sehingga bayi tersebut bisa sembuh.

Mainan kedua berjudul play mat, yakni sebuah kain yang ajaib, karena di atas kain kita bisa melukis dengan menggunakan air. Tentu saat menulis kita menggunakan alat semacam pulpen. Tagline dari mainan ini adalah water magic. Yap, lukisan dari air yang dilukis di atas mat ini bisa menghilang dalam tempo 5 menit. Bim salabim! Abrakadabra!



Kemudian ada permainan bernama My Family Doctor. Barangkali permainan ini tidak begitu "canggih" dibanding dua permainan sebelumnya. Mainan ini banyak di toko-toko, yakni berisi peralatan dokter. Meski peralatan di My Family Doctor ini lebih banyak, karena termasuk ada termometer yang benar-benar bisa difungsikan, tetapi permainan ini biasalah.

Terakhir adalah Dazzlers Dreams. Ini adalah sebuah alat yang ditujukan kepada anak yang gemar sekali show off, entah itu bernyanyi, berpidato, atau sok menjadi politikus. Sebab, paket dalam Dazzlers Dreams ini terdiri dari mikrofone berikut stand mic-nya. Lalu ada lampu-lampu yang dapat menyala seolah lampu di diskotek. Tak kalah menarik, ada speaker yang mampu menyuarakan bunyi drum dan juga tepuk tangan para penonton.

Keempat mainan ini baru saja dibeli oleh istri saya, dalam rangka ulangtahun putri saya yang kedua. Terus terang saya kaget ketika melihat jumlah permainan yang dibelikan istri saya ini. "Kok banyak amat? Pasti harganya sekitar lmaratus ribu atau bahkan lebih dari sejuta deh?" pikir saya.

Tapi saya kaget begitu istri saya menggelengkan kepala, tanpa tuduhan saya salah. Harga yang saya asumsikan meleset 100%. "Kok murah sekali?" tanya saya rada naif. Coba tebak menurut Anda berapa total harga keempat mainan itu?

HI-TECH ERA 70-AN

Ketika teknologi belum segokil sepuluh tahun belakangan ini, nggak ada teknologi mekanik yang selegend ini. Namanya view master. Dari namanya kita sudah menduga, alat ini fungsinya “diintip”. Si pemakai harus mengintip dalam dua lubang yang tersedia di view master ini. Sepintas alat ini mirip teropong atau bahasa premannya kekeran.

Saya masih ingat banget, alat ini begitu digemari anak-anak SD tahun 70-an dan 80-an. Harap maklum, view master dianggap canggih di masa itu. Produk hi-tech. Padahal alat ini hanya meneropong still photo yang terdapat pada sebuah reel.

Reel berbentuk bulat seperti lempengan berdiameter 5 cm. Di Pada 1 reel terdapat 10-15 still photos. Yang manarik, still photo tersebut bisa dilihat secara 3D, sehingga kita seolah sedang menyaksikan sebuah pertunjukan film, meski gambarnya tidak bergerak. Teknologi yang cukup canggih di zamannya bukan?



Ada berbagai macam cerita-cerita menarik yang ada pada reel tersebut. Sebut saja petualangan Batman, Superman, Micky Mouse, dan jagoan yang ngetop banget saat televisi masih TVRI sendiri, yakni Manix. Masih ingat detektif ganteng itu kan?

Bagi anak yang berasal dari golongan kaya, biasanya punya alat canggih ini. Kalo mereka sudah membeli view master, tinggal mengkomplitkan reel-reel-nya aja. Terus terang saya nggak tahu, cerita-cerita apa lagi. Sebab, masa itu, saya nggak mampu beli, tetapi cukup menikmatinya di sekolah.

Yap! Saat masih di sekolah dulu, view master ini menjadi incaran anak-anak seusia saya dulu. Ada seorang tukang yang menggelar lapak view master di depan sekolah. Saya lupa namanya. Yang pasti, ia membawa beberapa view master, dimana alat tersebut diikat dengan tali supaya nggak bisa dicolong orang. Mereka yang berminat menonton, cukup membayar beberapa perak dan memilih cerita yang diminati. Wah, pokoknya seru banget! Kalo lagi penuh, yang ngantri view master ini cukup banyak juga, lho!

Senin, 30 Agustus 2010

SINDIRAN PENDIDIKAN NASIONAL DALAM KOMIK STRIP

Seorang bapak menasehati anaknya agar segera bersekolah. Kata sang bapak, dengan sekolah, anak bisa cepat mencari uang. Dengan naif, anak pun mengikuti perintah bapaknya untuk segera mengganti baju dengan seragam sekolah, komplit dengan topi sekolah.

Di tengah jalan, ketika sedang menyeberang, ada seorang nenek yang juga hendak menyeberang. Awalnya, rasa kemanusiaan sang anak muncul. Ia menggandeng nenek itu, bermaksud menyeberangkan. Tetapi begitu sang anak melihat uang di jalan, ia lebih memilih uang. Sementara nenek yang tadi tangannya dipegang, ditinggalkan. Nenek itu dibiarkan tertabrak mobil.

Salah satu kisah dari komik strip itu sungguh merupakan sindiran terhadap kondisi murid-murid sekolah di tanah air kita ini. Meski agak sedikit berlebihan, tetapi sang komikus Eko S. Bimantara berusaha memotret fakta pendidikan nasional dengan cara menyindir lewat komik. Bahwa murid-murid saat ini tidak lagi diberikan materi tentang pendidikan moral maupun pendidikan karakter. Di era keterbukaan ini, pendidikan nasional justru malah banyak menghasilkan murid-murid yang bermental kapitalis maupun matrialistik.



Lihat lagi sindirian Eko di kisah lain di komik Guru Berdiri Murid Berlari ini. Nampak seorang kepala sekolah memberikan piala yang cukup besar kepada seorang murid yang mengharumkan sekolah, karena berhasil menjuarai lomba cerdas cermat. Baik sang murid maupun sang kepala sekolah bangga dengan prestasi ini. Namun kepala sekolah itu bingung, karena setelah mendapatkan piala, murid itu tidak beranjak dari tempat.

“Kamu nunggu apa lagi?” tanya Kepala Sekolah.

“Duit!” jawab sang murid.

“Wah, juara hanya dapat trophy.”

Begitu tahu juara cerdas cermat hanya mendapatkan trophy, murid itu langsung memberikan lagi piala yang besar itu ke Kepala Sekolah. Ia pergi meninggalkan Kepala Sekolah yang bingung dan berdiri mematung sambil memegang piala.



Ironis, tetapi fakta di lapangan memang begitu. Bahwa pendidikan moral maupun karakter saat ini memang tak banyak diajarkan di bangku sekolah. Tidak heran jika murid-murid sekarang ini cenderung matrialistik. Semua diukur lewat uang, sehingga nilai-nilai sosial maupun semangat gotong royong yang dahulu dimiliki oleh bangsa Indonesia lambat laun hilang.

Anggota DPR RI Dr. Hetifah Sajifudian, MPP dalam kesempatan terpisah juga menyesali kurikulum yang tidak memasukkan pembangunan karakter. Padahal, kata Hetifah, pendidikan karakter itu sangat penting, mengingat generasi sekarang ini karakter keindonesiaan mereka mulai luntur. Oleh karena itu, di tahun-tahun mendatang, orientasi pembelajaran di sekolah harus seimbang.

“Orientasi pembelajaran harus menyeimbangkan pengembangan intelektual dengan pengembangan karakter,” papar Hetifah yang dikenal sebagai anggota DPR RI Komisi X ini.

Menurut Hetifah, ia tidak masalah jika metode belajar-mengajar selama ini harus dirombak total guna keseimbangan tersebut. Hal tersebut semata-mata demi pendidikan nasional dan tentu saja mengajarkan kembali karakter keindonesiaan yang belakangan mulai memudar.



Sindiran-sindiran dalam komik terbitan Gradien Mediatama (Yogyakarta) ini seharusnya menjadi cermin bagi dunia pendidikan kita. Eko sendiri membuat karya ini berdasarkan pengalama pribadi. Dalam kata pengantarnya, ia sadar sekolah merupakan salah satu lingkungan yang sangat besar pengaruhnya terhadap prilaku mental dan pola pikir seseorang.

Tulis Eko, sedikit banyaknya prilaku pendidik, akan mempengaruhi pula tindak tanduk dan hasil belajar peserta didik (output). Itulah yang membuat guru atau tenaga pendidik menjadi sebuah pekerjaan atau profesi yang tidak mudah. Namun komikus kelahiran Jakarta, 30 Mei 1988 ini percaya, bahwa satu hal yang benar-benar sangat perlu dibenahi paling awal di negara kita ini adalah dunia pendidikan.

Kamis, 26 Agustus 2010

Rezeki atau Pelecehan Mata Ya?

Tulisan ini tidak bermaksud untuk merendahkan martabat kaum perempuan. Tulisan ini sekadar mempertanyakan saja. Baiklah, sebelum saya mempertanyakan, silahkan perhatikan foto di bawah ini baik-baik.



Foto yang sudah Anda lihat di atas itu saya ambil via telepon seluler saya. Foto ini saya abadikan saat duduk sendiri di sebuah cafe di bilangan jalan Mulawarman, Jakarta Selatan, beberapa saat setelah buka puasa di bulan Ramadhan 1431 H.

Ada seorang perempuan tepat di samping kiri saya, dimana perempuan tersebut menggenakan busana terbuka blas. Hampir 50% tubuhnya terlihat dengan jelas. Yang bikin ngiler, kulitnya putih mulus itu. Harap maklum, perempuan ini berasal dari etnis Tionghoa. Hanya bra transparan yang terbuat dari plastik yang membungkus bagian vital di tubuh perempuan itu.

Suasana menjelang buka puasa benar-benar tidak fokus lagi pada suara bedug. Bayangkan, jarak antara cangkir berisi teh manis hangat (lihat foto ada cangkir yang ada di sebelah kiri) dengan perempuan itu cuma tiga jengkal jari. Jangan heran, mata saya jadi tidak fokus: melihat televisi yang menyiarkan bedug dan tubuh perempuan yang mulus itu.

Kata orang, keindahan perempuan itu adalah rezeki. Yang namanya rezeki, ya jangan ditolak. Tetapi apakah namanya rezeki kalo saya melihat tubuh perempuan itu berkali-kali?

Anda tentu akan mengatakan, kalo saya tidak mau melihat tubuh perempuan yang terbuka itu, ya tidak usah dilihat. Baiklah kalo begitu. Namun, sekali lagi, saya tidak bisa “berkutik”. Kalo Anda ada di posisi saya menjelang bedug, pasti tidak akan mungkin “menolak” pemandangan yang indah itu. Itulah yang kemudian saya berguyon menganalogikan pemandangan itu adalah sebuah “pelecehan” terhadap mata saya. Entahlah apa pendapat Anda?

Anyway, sambil berguyon lagi saya melihat kejadian ini adalah sebuah bentuk godaan di bulan puasa. Mahkluk halus yang katanya diikat di bulan suci ini, ternyata tidak sepenuhnya diikat. Banyak mahkluk halus yang berwujud manusia masih beredar dan menggoda kita selama puasa. Moga-moga kita bersama bisa menahan aneka godaan mahkluk halus berwujud manusia itu. Amin!

Sabtu, 31 Juli 2010







all photos & text copyright by Jaya

Jumat, 16 Juli 2010

ANGGOTA DPR-NYA RESES, KULI-KULI PADA KERJA

Lihatlah foto-foto di bawah ini. Mereka bukanlah anggota DPR yang sedang bergotong royong membersihkan pekarangan di kompleks DPR RI. Mereka bukan pula mahasiswa yang mencoba menduduki gedung DPR seperti duabelas tahun lalu. Mereka tidak lain adalah kuli-kuli yang bertugas membuat Rancangan Undang-Undang (RUU), eit salah! Maksudnya, mereka adalah kuli-kuli yang job desk mereka.

Hebat ya mereka?

Lho, kok hebat? Itu mah memang tugas mereka. Selain mengecat atap gedung warna hijaunya sudah pudar, ada juga kuli-kuli yang bertugas membetulkan pedestarian, dan pekerjaan-pekerjaan lain sesuai skill mereka. Yang pasti, belum ada kuli-kuli yang ditugasi membetulkan gedung miring di DPR yang sebelumnya sempat heboh itu.












Kuli-kuli yang sedang mengecat atap gedung MPR/ DPR yang pada reformasi tahun 1998 lalu sempat diduduki oleh mahasiswa, eh sekarang malah dinaiki oleh kuli-kuli.

Lho, anggota DPR-nya kemana?

Ketika foto ini saya abadikan, anggota DPR sedang reses. Reses itu bukan rese'. Kalo reses sama artinya dengan rese', maka bisa berbahaya. Masa anggota DPR dibilang rese'? Atau apa iya-iya? Ah, tahu ah!

Bagi anggota legislatif seperti DPR atau DPRD, reses adalah masa yang ditunggu. Selain bisa istirahat, masa ini juga bisa bertemu dengan sanak famili di Kampung halaman ataupun bertemu dengan masyarakat di daerah pemilihannya.

Kenapa harus memilih kata reses yang pengertian sebenarnya adalah istirahat? Padahal dalam reses harus ada laporan yang disampaikan kepada Pimpinan. Nah, ada anggota legislatif yang di masa reses juga melakukan kunjungan kerja untuk menyerap aspirasi masyarakat.


Ini gedung DPR ketika diduduki oleh para kuli, eh salah para mahasiswa saat reformasi tahun 1998 dulu (foto: DR/Rully Kesuma).

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, reses artinya perhentian sidang (par-lemen); masa istirahat dari kegiatan bersidang. Lalu Ensiklopedi Nasional Indonesia menjelaskan, reses, menurut pengertian aslinya adalah masa istirahat atau penghentian suatu sidang pengadilan atau sidang lembaga perwakilan rakyatdan badan sejenisnya.

Istilah reses di Indonesia lazim dikenal di DPR-RI, sedang bagi DPRD baru tahun PP No. 25 Tahun 2004 ini mencantumkan istilah reses. Meski reses itu masa istirahat, selama masa itu para anggota DPR tetap melaksanakan tugas tugasnya sebagai wakil rakyat diluar gedung DPR-RI.


Ini seorang kuli lagi membetulkan pedestarian yang ada di kompleks DPR.

Dalam PP No. 1 Tahun 2001 tidak ditemukan istilah reses. Istilah reses ini terdapat dalam Keputusan Menteri Dalam Negeri No. 162 Tahun 2004 dan PP No 25 Tahun 2004, kemudian istilah diadopsi ke dalam Tatatertib DPR maupun DPRD.

Nah, anda sekarang sudah ngerti kan istilah rese', eh salah reses? Mumpung para anggota lagi reses, para kuli ini bertugas "mempermak" gedung DPR agar kembali cantik. Nggak enak kan kalo dilihat sama tamu, trus komentarnya: "Idih! Kok gedung wakil rakyat jelek amat sih?"



all photos copyright by Jaya

NGGAK PERCAYA PELAKU VIDEO MESUM ITU JADI BUPATI

Di dalam gedung Putri Karang Melenu Tenggarong Seberang, Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur (Kaltim) siang itu (30/6) ramai sekali. Nampak para pejabat daerah maupun pusat ada di situ. Siang itu memang hari berbahagia untuk Rita Widyasari dan HM Ghufron Yusuf. Mereka berdua dilantik menjadi Bupati dan Wakil Bupati Kukar untuk periode 2010-2015.

Sementara di luar gedung, tepatnya di tepi jalan depan Gedung Puteri Karang Melenu, tempat Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak melantik Rita-Ghufron, sebanyak 30 pemuda dari Jaringan Aksi Mahasiswa (JAM), Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Kutai Kartanegara melakukan demo. Menurut mereka, seperti yang saya kutip via Kompas.com, Rita-Ghufron banyak masalah.

Terus terang saya tidak pernah kenal dengan sosok Rita Widyasari. Kalo Rita Sugiarto, Rita Effendi, atau Ketua KONI Rita Subowo ya saya kenal. Tapi Rita Widyasari? Who is she? Itulah yang membuat saya penasaran. Sebab, dalam berita-berita pelantikan, Rita asal Kaltim ini luar biasa. Beliau dikabarkan menjadi Bupati perempuan pertama di Kaltim. Luar biasa bukan?

Saking penasaran, saya langsung klik google. Biasalah, tiap kali butuh bantuan info, mesin pencari data google sungguh bermanfaat. Begitu saya tulis nama Rita Widyasari dan saya klik, apa yang terjadi?

Dari halaman pertama sampai halaman berikutnya, semua tertulis “video mesum Rita Widyasari” atau “foto adegan mesum Rita Widyasari”. Hah?! Saya kaget bukan main. Ah, masa sih Rita Widyasari yang dilantik jadi Bupati main di video mesum. Pasti Rita yang lain kali. SAYA NGGAK PERCAYA! Oleh karena nggak percaya, saya klik salah satu artikel. Inilah isi artikel tersebut:

Video Mesum Rita Widyasari - Weleh weleh video mesum muncul lagi nih gan :) Sebuah rekaman video porno beredar mirip Rita Widyasari calon Bupati dari Partai Golkar yang akan maju pada Pilkada Kabupaten Kutai Kartanegara Kalimantan. Dalam video itu terlihat dia sedang beradegan mesum dengan seorang pria. Mereka berdua berhubungan intim tanpa mengenakan busana. Rekaman video tersebut sudah tersebar luas di situs internet.

Dari informasi yang didapat, video tersebut dibuat pada awal tahun 2000-an dan sempat membuat berita heboh. Video itu malah sudah dijual di pasaran dengan tittle 'Belum ada judul'. Si pelaku video mesum tersebut sangat mirip dengan calon Bupati wanita dari Partai Golkar

Yang menguatkan nama pemain perempuan dalam video itu adalah, dialog di video itu, si pemain lelaki menyebutkan nama si wanita dengan sangat jelas. Selain itu, dalam beberapa kata yang diucapkan sang perempuan yang diindikasikan calon Bupati tersebut beberapa kali terdengar kata-kata dengan dialek Kutai yang begitu kental.

Si wanita yang kebetulan anak salah satu pejabat. Hebatnya lagi, saat ini si wanita masih menjabat sebagai Ketua DPRD setempat.

Sebelumnya Komunitas Muslim Kutai Kartanegara di Jakarta mendatangi kantor DPP Partai Golkar di Slipi, mereka menuntut agar Ketua Umum Golkar segera mengusut tuntas dan memecat salah satu salah satu kader Partai Golkar Kutai Kertanegara, Rita Widyasari, karena dinilai terlibat film porno.



Gokil! Gokil! Gokil! Eit! Tapi benar nggak sih Rita si pelaku video mesum tersebut adalah Rita yang baru saja dilantik jadi Bupati Kukar? Apa pejabat-pejabat Kukar nggak tahu ya atau pura-pura nggak tahu? Kalo memang Rita adalah pelaku video mesum tersebut, wah sungguh gokil sekali ya dengan komitmen pemerintah buat melawan pornografi. Berarti Ariel-Luna Maya-Cut Tari someday bisa jadi Bupati dong ya? Wah, saya benar-benar masih nggak percaya kalo pelaku video mesum itu adalah Rita, Bupati perempuan pertama di Kaltim yang saat ini dibangga-banggakan itu.

Is there anybody know about this gokil story?

Jumat, 11 Juni 2010

MEMANG MAMA DULU BINTANG PORNO YA?

Sambil menggendong putrinya, Cut Tari mencoba memberikan klarifikasi soal video porno yang mirip dirinya dengan orang mirip Ariel. Di depan para pekerja infotainment dan didampingi oleh sang suami, Tari menjelaskan bahwa yang ada di video mesum itu bukan dirinya.

"Buat saya, suami saya tidak percaya kalau itu saya. Ibu saya yang melahirkan saya, juga tidak percaya. Keluarga saya pun juga tidak percaya, kalau itu saya. Jadi buat saya, itu sudah cukup," ujarnya kepada wartawan di kediamannya, Jalan Pondok Kelapa XII/ 9, Jakarta Timur, Rabu (9/6/2010) malam (baca: http://id.omg.yahoo.com/news/cut-tari-merasa-cukup-keluarga--suami-tak-percaya-zwp4-341346.html).

Sambil tertawa-tawa, Tari terus berusaha meyakinkan pekerja infotainment, bahwa dirinya bukanlah artis porno yang ada di video itu. Saya tidak tahu apa yang ada di kepala suaminya. Saya pun tidak tahu apa jadinya anak yang digendong Tari malam itu. Yang pasti sang anak akan tumbuh dewasa dan video porno itu someday akan dilihat oleh anaknya dan anaknya pun akan bertanya.

“Kok video porno ini mirip banget kayak Mama. Memang dulu Mama bintang porno?”

Barangkali Tari akan mengatakan hal ini, sebagaimana saat-saat ia menjelaskan pada pekerja infotainment:

"Sayang, sampai saat ini Papa kamu tidak percaya kalau itu Mama. Nenek Mama yang melahirkan Mama, juga tidak percaya. Keluarga Mama pun juga tidak percaya, kalau itu Mama. Jadi buat Mama, itu sudah cukup," ujar Tari sambil tertawa-tawa.

Menurut Anda apakah anak Tari akan berhenti sampai situ? I’m not sure! Setiap ucapan dan tindakan pasti ada konsekuensinya. Saya dan barangkali Anda sudah pernah mengalaminya. Saya selalu mengalami kejadian-kejadian yang membuat saya merasa sial. Bagi saya, kesialan itu akibat dari dosa-dosa saya sebelumnya. Ada sebab dan ada akibat.

Itulah mengapa, saya tidak bisa membayangkan wajah anak Tari yang polos itu beberapa tahun kemudian. Dimana pada saat ini ia hanya melihat Mamanya tertawa-tartawa di depan beberapa kamera, seolah nothing happend. Saya juga tidak bisa membayangkan, mengapa sang suami nampak “tenang” menerima aib keluarga. Padahal kehormatan lelaki, ada pada kehormatan sang istri. Ketika kehormatan istri diumbar dengan orang lain, kita tidak boleh tinggal diam. Ah, saya curiga pasti something happened between them, but I really don’t know for sure...

Anak itu terus melirik pada Mamanya. Ia tidak tahu apa yang sedang dibicarakan Mamanya itu di depan banyak orang. Yang anak itu tahu, ibunya tertawa seolah tanpa beban. "Mama pasti sedang nge-joke dengan orang-orang itu".