Kamis, 26 November 2009

SERASA DI RUMAH SENDIRI

Naik kendaraan umum itu mengasyikan. Buat gue, selain menjadi rakyat sesungguhnya, naik kendaraan umum melatih kepekaan sosial. Lebih dari itu, gue jadi lebih bisa mengenal prilaku warga Indonesia yang asli, seperti yang gue alami ketika gue naik busway kemarin.

Ketika naik busway dari Harmoni menuju Terminal Pulogadung, mata gue langsung tertuju pada seorang gadis di bangku pojok depan, persis di belakang sopir. Bukan karena parasnya yang kece atau aduhai yang membuat mata gue langsung fokus pada gadis ini. Tetapi ia menggenakan rol rambut selama perjalanan yang mengantarkan gue menuju peristirahatan, eh bukan maksudnya sampai ke Terminal Pulogadung.

“Ini cewek sadar nggak ya pake rol rambut?” tanya gue dalam hati.



Terus terang gue penasaran banget makanya timbul pertanyaan itu. Soalnya setahu gue, perempuan kalo nge-rol rambutnya di rumah, bukan di busway. Ini mah beda banget. Gadis ini dengan cuek mengenakan rol rambut di busway. Gue yakin hampir seluruh pasang mata di dalam busway ini melihat gadis ini dan rol rambutnya.

“Serasa di rumah sendiri ya?”



Itulah hebatnya anak muda-anak muda sekarang. Cuek, nggak peduli, masa bodoh, dan aneka ketidakpedulian lain. Selama yang mereka lakukan tidak mengganggu orang lain, mereka akan melakukannya, termasuk menggunakan rol rambut yang menurut gue aneh aja dilakukan di busway. Atau barangkali gue terlalu naif, menuduh gadis di busway yang mengenakan rol rambut ini “keteraluan”.

Semakin serasa di rumah sendiri, ketika gadis dengan rol rambut ini asyik bermain-main Blackbarry plus mendengarkan musik via ear phone. Keunikan inilah yang nggak mungkin elo jumpai ketika naik kendaraan pribadi.

all photos copyright by Jaya

IBU SI PELUKIS BAJU

"Ibu pelukis ya?" tanya Moza.

"Kelihatannya sih begitu. Menurut adik, Ibu cocoknya jadi Pelukis atau jadi anggota KPK?"

"Kalo saya sarankan, karena tubuh Ibu kecil tetapi gesit dan cerdas, Ibu jadi cecak aja. Biar yang lain jadi buaya. Gimana usul saya ini, Bu?"

"Wow! That's fantastic!"

"Maksudnya Fantastic Four yang ada 4 jagoan itu, Bu?"

"No! Saya suka menjadi cicak. Sebab cicak itu hidup di tiga tempat..."

"Hah? Cicak hidup di 3 tempat?" Moza bingung.

"Iya! Di KPK, di tembok, dan sekali-sekali di kepala manusia kalo kebetulan cicaknya jatuh dari atap rumah..."

Tetoooottt!!!

MENIKMATI BODY SEGEDE GABAN

Jarang banget orang yang bersyukur dan menikmati pemberian Tuhan dengan apa adanya. Yang terjadi justru sebaliknya, begitu tubuh gembrot, buru-buru melakukan aksi melangsingkan body. Mending cara melangsingkannya sehat, misalnya melakukan olahraga secara teratur dan menjaga asupan makanan yang bener. Kebanyakan mah malah melangsingkan dengan cara instans.

Ketika seluruh anggota body banyak yang kendor, mayoritas banyak yang panik. Wajah ditarik sana-sini. Payudara yang kendor, maupun pantat yang udah turun gara-gara sering “ditindih-tindih”, ikut dipermak. Walhasil, body jadi fake alias palsu alias nggak sesuai asli ciptaan Tuhan. Ingat, lho, ini berbeda kalo kita melakukan dengan cara alami, olahraga dan menjalankan gaya hidup sehat secara alami.

Pretty Asmara salah satu orang –juga public figure- yang menikmati sekali pemberian Tuhan. Dengan tubuhnya yang gede menjuntai segede-gede gaban ini, ia happy banget. Ia tahu kalo menderita obesitas atawa kegemukan, tetapi agaknya ia tetap pada pendiriannya untuk menjaga body-nya ini sebatang kara, eh maksudnya apa adanya.

Pretty melihat celah dari body-nya sebagai sebuah rezeki dan kenikmatan yang diberikan Tuhan padanya. Toh hasilnya memang nggak sia-sia. Dengan body seberat lima karung beras ini, ia tetap tampil percaya diri nggak kalah dengan bintang-bintang Lux atau bintang-bintang obat pelangsing tubuh.

Saya yakin, Pretty ingin sekali body-nya langsing kayak gangsing atawa gitar Spanyol. Siapa sih wanita yang nggak mau langsing dan disiul-siulin para pria ketika berjalan melintas dihadapan mereka? Namun rupanya Pretty memilih hidup membujang, lho kok? Maksudnya lebih memilih ber-body aduhai seperti sekarang ini. Gede, tapi indah. Ibarat slogan yang ada di tempat umum: “Buanglah sampah pada tempatnya”. Lho, ini slogan kok nggak nyambung amat ya?

Jumat, 06 November 2009

SAMA-SAMA BEGO: SEBUAH KISAH PELANGGAR...

Nggak semua orang yang bermobil otaknya lebih pintar daripada mereka yang cuma punya motor. Kedisiplinan orang nggak bisa diukur dari kelas sosial. Mau pake mobil kek, atau motor, kalo dasarnya orang tersebut punya otak bego, ya bego aja. Bego dalam konteks ini dalam soal kedisiplinan.

Anda pasti seringkali melihat mereka yang bermobil membuang sampah di jalan. Entah mereka sadar atau memang prilaku mereka sulit buat diubah, aneka sampah (tisu bekas, puntung rokok, plastik, botol aqua, dll) dibuang dari balik jendela mobil. Bego kan? Ada lagi hal bego yang juga dilakukan kaum bermobil yang selalu gue temukan tiap pagi di jalan tol, yakni menerobos bahu jalan.

Gue yakin banget, tingkat intelektual kaum bermobil cukup bisa diandalkan, meski hal ini perlu pembuktian lebih lanjut. Tetapi mereka pasti bisa baca dan nggak buta huruf kalo bahu jalan cuma buat keadaan darurat, bukan buat mengejar waktu buat cepat sampai ke kantor. Mereka bukan saja membahayakan diri, tapi karena kebegoan mereka bisa membahayakan orang lain, yang jelas-jelas bersama-sama “menikmati” kemacetan.




Bagaimana dengan motor? Gue yakin, dari 100% pengguna motor yang benar-benar disiplin cuma 10%. Nggak cuma selalu memakai helm –karena pakai helm bukan cuma kewajiban atau supaya nggak ditilang polisi, tapi kebutuhan buat diri pengguna-, tapi nggak melawan arus, menerobos lampu merah atau verboden, berada di jalur cepat, dan masih banyak lagi. Ironisnya, banyak orang yang memilih menggunakan motor cuma buat melakukan hal-hal yang seringkali melanggar kedisiplinan. Yang penting cepat sampai kantor atau tujuan, menerobos it’s ok. Nah, lho?!

Setiap hari ada aja yang gue temukan para pemilik yang nggak disiplin. Sekarang ini gue amati, orang yang mencoba disiplin malah dianggap bego. Menunggu di garis stop pada saat lampu masih berwarna merah, eh di belakang udah pada klakson-klakson. Berada di belakang mobil dengan jarak aman, eh malah diklakson-klason juga, karena dianggap kurang mepet dengan mobil depan. Padahal kalo mobil depan mundur, yang salah tetap mobil di belakangnya, karena berhenti terlalu mepet di belakang. Yang paling gondok, kalo kita mengambil jarak aman, ada mobil yang bakal menyerobot atau menyalip kita. Kita dipotong gitu, maksudnya.

Foto yang gue jepret ini berada di jalan Cikini, Jakarta Pusat. Berkali-kali kalo ke Taman Ismail Marzuki (TIM), gue pasti melihat ada mobil dan motor yang diparkir di trotoar. Gue menggambil kesimpulan, di situ ada kantor, dimana kantor itu nggak ada lahan parkir. Daripada parkir di tempat lain yang mungkin lebih jauh, para pemilik kendaraan di kantor tersebut memanfaatkan trotoar yang ada di depan kantor. Walhasil, trotoar pun nggak bisa lagi dipergunakan sebagai tempat buat pejalan kaki. Hak pejalan kaki dirampas. Bego kan pemilik mobil dan motor di kantor itu? Sayang, meski udah ketahuan sama-sama bego, Komisi Nasional (Komnas) Hak Azasi Manusia (HAM) nggak membela hak pejalan kaki yang dirampas oleh pemilik kendaraan bermotor itu.

Jumat, 23 Oktober 2009

YOU CAN RUN BUT YOU CAN'T HIDE

To:
Novi
+0817141458

Aq tnggu di kmr 220

Sent:
20:09:00
10-09-2009

***
Btar aq msh sama suami d anak2

Sent to:
Irwan
+08111819087

***

Gak sbar nih!

***
To:
Irwan
+08111819087

Bntar syang. Nanti qta psti have fun!

Sent:
21:25:05
10-09-2009

***

Sent from:
+0817724117

To:
Irwan
+08111819087

Dah gak sma suami d anak2. Bebas euy! Skrng aq ke situ ya?

***

To:
+0817724117

Ini siapa? Salah sambung!

Sent:
22:25:05
10-09-2009

***

Sent to:
Irwan
+08111819087

Aq Novi...

***

To:
+0817724117

Novi? Novi siapa?

Sent:
22:25:20
10-09-2009

***

Sent to:
Irwan
+08111819087

Novi. Qta jd ktm di kmr 220 gak?

***

To:
+0817724117

Kok nmornya gnti? Km pny nmor br ya? Kok gak bilng2?

Sent:
22:40:15
10-09-2009

***

Sent to:
Irwan
+08111819087

Tkut kthuan suami. Aq gnti nmor...

***

To:
+0817724117

OK! Ditnggu di kmr 220 ya...

Sent:
22:60:01
10-09-2009

SATU JAM KEMUDIAN

Di sebuah hotel berbintang lima di kawasan Senayan Jakarta. Irwan membuka pintu kamar 220, begitu bel berbunyi dua kali. Ia tidak sempat lagi mengintip dari balik lubang kecil yang ada di pintu kamar.

Irwan:
(Heran campur kaget) Anda siapa?

Gilang:
(Tenang tapi hatinya marah) Saya suaminya Novi...

BIJI MATA YANG KUAJAK JALAN-JALAN

Biarlah biji matanya kuajak jalan-jalan ke sebuah tempat yang belum pernah dilihatnya. Aku sengaja meminjam sebuah biji mata sebesar kelereng itu dari dia, karena dia tidak pernah mau kuajak pergi. Katanya, tempat yang kuajak selalu menyusahkan. Banyak korban berserakan dimana-mana; bau anyir darah yang bisa membuat orang muntah; dan tentu saja secara fisik harus siap membantu. Dia tidak suka itu semua.

Sebagai orang yang selalu hidup dalam wewangian, dia tidak perlu melihat dari dekat hal-hal yang membuatnya stres. Dia cukup mendengar dari orang-orang, setidaknya membaca dari media. Dia akan memutuskan perlu menyumbang atau cukup bilang: “Kasihan.”

Oleh karena itulah aku meminta dia untuk mencopot kedua biji matanya, jika dia sama sekali tidak mau turun ke lapangan, melihat persoalan yang benar-benar terjadi di tengah masyarakat. Biar fisiknya tetap berada di dalam mobil Alpard putih atau rumah mewah di bilangan Pondok Indah, sementara kedua biji matanya bisa menyaksikan sendiri kesusahan yang terjadi.

Nyatanya, dia tidak kuasa melepas kedua biji matanya. Dia ingin satu biji matanya tetap berada menyatu dengan lubang mata yang ada di kepala. Sebab, katanya, jika biji matanya ku ajak jalan-jalan secara bersamaan, maka biji mata itu akan terpengaruh oleh situasi dan kondisi terhadap apa yang terjadi, dan selanjutnya akan merasa iba. Itu tidak dia suka. Dia ingin seperti sekarang ini, hidup dengan ruang ber-AC, kursi empuk, seorang sopir yang setia menemani kemana pun dia pergi, berada dengan kemaksiatan, dan harta-benda yang tujuh turunan tidak akan pernah habis itu. Kesimpulannya, dia lebih suka yang diajak jalan-jalan olehku hanya sebuah biji mata.

Sebelum diserahkan padaku, ia mencongkel sebuah biji matanya dengan menggunakan obeng. Bukan obeng sembarang obeng, tapi obeng yang terbuat dari emas dengan tiga berlian di gagangnya. Tak perlu waktu lama, sebuah biji mata sebelah kiri keluar dari lubang tengkorak kepalanya. Sebiji mata itu keluar tanpa mengeluarkan darah setetes pun. Aneh, tapi nyata. Barangkali dia memang sudah tidak punya darah, karena darahnya sudah dihisap oleh Dracula, sebagaimana hatinya yang hilang entah kemana. Kini tinggal sebuah biji mata yang ada di kepalanya.

Kini setelah setahun kuajak jalan-jalan, biji mata tersebut diletakkan kembali ke tempat semula, di lubang tengkorak yang selama setahun ini bolong. Anehnya, ketika sudah dipasang dengan sempurna, banyak sekali perbedaan dari kedua biji mata itu. Biji mata kiri selalu saja meneteskan air mata. Tetasan airnya terus menerus seperti keran bocor. Sedang biji mata kanan, justru tidak sama sekali merasa perlu mengeluarkan air mata. Kalau pun biji mata kanannya memerah itu bukan karena apa-apa, itu akibat teralu banyak minum alkohol atau begadang semalam suntuk di sebuah diskotek terkenal di Jakarta.

Baru kutahu mengapa biji mata kiri terus menerus mengeluarkan air mata. Biji mata kiri sudah melihat ketimpangan-ketimpangan yang terjadi di lapangan, bencana-bencana yang terjadi: tsunami atau gempa; maupun begitu banyak orang miskin yang tidak diurus oleh pemerintah. Biji mata kiri sudah kuajak ke teman-teman, dimana dia seharusnya melihat dengan mata kepala sendiri, sebagaimana posisinya sebagai seorang Pemimpin yang selalu berkoar-koar tentang kemiskinan atau ketidakadilan.

Terus terang sedih sekali kalo biji kanan dan biji kiri berbeda sikap. Oleh karena itu, sebagai pemilik biji, sudah seharusnya biji kiri dan kanan bersatu padu, atau setidaknya lebih toleran. Ketika mengeluarkan air mata, kedua biji -baik biji kiri maupun biji kanan-, juga mengeluarkan air mata. Ketika biji kanan ngantuk, biji kiri juga harusnya ngantuk. Tapi sayang, kedua biji tidak kompak.

“Baiklah kalo biji yang tinggal satu-satunya ini di wajahku akan diajak jalan-jalan juga, saya pikir cukup menarik,” ujar dia, yang tidak suka ketidakkompakan ini terjadi pada biji matanya. “Saya ambil obeng dulu untuk mencungkil biji mata ini.

Biji mata kedua akhirnya bisa menyatu. Dia berharap sekali, dengan menyatunya kedua biji mata, hatinya yang selama ini tidak bisa terketuk -karena tidak pernah diperlihatkan akan dunia lain yang jauh dari kenikmatan-, moga-moga akan lebih terketuk. Kita lihat saja nanti bagaimana ending-nya dari perjalanan biji kanan yang sekarang ini ku ajak jalan-jalan.

KASIHAN SIH, TAPI LAMA-LAMA NGESELIN JUGA




KENTUT DALAM PLASTIK

Angin itu tersimpan rapi di dalam sebuah plastik. Sebagai orang yang diamanatkan untuk membawa angin itu, aku masih bertanya-tanya dengan tanda tanya besar. Mengapa Pengusaha itu memberikan angin ini pada Politikus yang sangat terkenal itu. Apa istimewanya angin ini? Bukankah lebih baik memberikan mobil mewah atau uang triliunan rupiah daripada hanya sebuah angin? Meski terus dihantui pertanyaan, aku merasa puas mendapat job ini. Maklum, honor yang kuterima gede.

Sebelum benar-benar aku berikan ke Politikus itu, aku memandangi angin yang ada di dalam plastik itu. Mataku seolah melihat sosok wanita cantik yang sedang terpenjara oleh karena sesuatu hal. Mataku tak berkedip.

Aku memang punya kesempatan menyimpan satu hari angin dalam plastik itu, karena ketika serah terima dengan Pengusaha itu, waktu sudah sore menjelang malam. Kemudian, ketika aku membuat janji dengan Politikus itu, ia tidak bisa menemuiku kemarin. Katanya sibuk menyelesaikan Rancangan Undang-Undang (RUU) yang harus segera dikelarkan, karena sebentar lagi ia tidak menjabat sebagai Wakil Rakyat. Padahal butir-butir RUU itu banyak yang absurd, penuh lubang-lubang korupsi, dan menuai protes dari berbagai kalangan.

Angin itu tak berwarna. Aku belum sempat melihat ada warna yang dimunculkan oleh si angin. Dari luar plastik transparan itu aku hanya melihat ruang kosong, dimana ruang itu sengaja dibuat membulat sesuai dengan gelembung plastik. Menurutku aneh, termasuk diriku. Ada sebuah plastik transparan yang digelembungkan, diikat pakai karet gelang, tapi di dalam plastik itu tidak nampak apa-apa. Entah itu benda sekecil kutu atau warna, tidak terlihat di dalam plastik. Anehnya, aku tetap memandanginya dan tetap akan membawa dan selanjutnya akan aku berikan ke Politikus yang Maha Sibuk itu. Kalo saja ada orang yang melihat kelakuanku, pasti aku didisebut gila.

“Tolong berikan kentut ini pada Bapak itu ya,” ucap Pengusaha itu padaku kemarin. “Pastikan yang menerima adalah beliau.”

Angin itu bernama kentut. Aku sebenarnya sudah sering mendengar kata “kentut”, bahkan setiap hari aku melakukannya. Kata orang, “kentut” itu penting. Jika ada orang yang tidak bisa kentut, maka orang itu sedang sakit, bahkan boleh dikatakan penyakit parah. Ada satu penyakit, dimana orang perlu untuk kentut. Jika orang yang punya penyakit itu bisa kentut, dijamin penyakitnya akan sembuh. Jadi, kentut itu memang penting.

Kata orang, kentut juga bau. Aku sih percaya, karena aku mengalaminya sendiri. Ketika ada orang lain yang mengeluarkan bunyi dari lubang pantatnya, itu namanya kentut, dan memang bau setelah kuhirup udaranya. Sebaliknya juga begitu, ketika aku mengeluarkan bunyi dari lubang pantat, bau yang dihirup oleh orang-orang disekitar adalah bau busuk. Jika aku habis makan telor, yang terhirup adalah bau telor. Jika kebetulan makan jengkol, yang keluar bau jengkol. Intinya, apa yang kita makan, udara yang keluar itulah bukti dari makanan yang kita makan. Tapi mengapa jika kita makan gaji buta atau makan uang rakyat yang keluar bukan gaji atau uang ya?

Kata orang, jika kentu berbunyi kencang, misalnya seperti bunyi terompet, udara yang keluar dari lubang pantat tidak akan bau. Sementara jika yang keluar hanya desis udara, sebagaimana angin sepoi-sepoi, maka udara itu akan membuat orang bau, bisa jadi orang yang menghirup udaranya akan muntah, ada bahkan yang sampai jatuh pingsan.

Kita bisa mengetahui orang yang mengeluarkan angin kentut jujur atau pembohong. Jika orang tersebut mengaku kentut, maka orang ini pasti jujur. Mau kentut yang berbunyi seperti terompet atau yang hanya mengeluarkan desis seperti angin, orang yang jujur pasti mengaku kalau ia baru saja kentut. Tapi yang paling banyak adalah para Pembohong. Biasanya mereka yang masuk kategori kentut, selalu diam setelah melakukan aksi kentut. Padahal sudah jelas-jelas dia yang kentut, wong sumber baunya dari dia, kok. Hebatnya, ada orang yang bukan cuma diam, tapi menyalahkan orang lain, mengatakan yang kentut orang itu, bukan dia.

Barangkali itulah mengapa Tuhan menciptakan kentut tanpa warna. Bayangkan kalau kentut berwarna hitam seperti knalpot kendaraan bermotor yang belum sempat ganti oli atau mesinnya perlu di tune-up, pasti orang yang kentut akan menanggung malu setelah ia kentut. Bayangkan pula kalau kentut berwarna seperti asap rokok, pasti orang yang di samping si Kentutman (nama orang yang kentut itu) akan menjadi Pengentut pasif (istilah ini level-nya sama dengan Perokok pasif). Tapi barangkali lebih baik bau kentut seperti bau asap rokok kali ya? Supaya para Perokok tidak merokok, tapi mengisap dan mengeluaran asap kentut. Lagipula, lebih sehat menghirup kentut daripada mengisap asap rokok, ya paling-paling kalau mengisap kentut kebauan, ingin muntah, atau pingsan sebentar. Kalau mengisah asap rokok –baik Perokok maupun Perokok pasif-, pasti akan kena kanker.

Tiba saatnya aku membawa angin berisi kentut yang ada di dalam plastik ini ke Politikus itu. Aku sudah buat janji dan kita akan berjumpa di Senci alias Senayan City. Politikus itu yang memilih mal yang berada di kawasan Senayan, Jakarta. Katanya, biar bisa melihat Tante-Tante yang sedang belanja. Katanya lagi, ya siapa tahu dari Tante-Tante itu ada yang bisa diajak berselingkuh. Maklum, banyak di antara Tante yang shopaholic alias gila belanja itu yang butuh kasih sayang, karena suaminya terlalu sibuk cari uang.

(bersambung)

YANG SALAH BUKAN FESBUK-NYA!

Arvida manyun. Ia mendapat hukuman dari Babe-nya. Selama seminggu ini nggak boleh main fesbuk. Sebenarnya Sharmila nggak masalah soal hukuman. Yang bikin manyun alasan yang diutaran Babenya nggak make sense. Nggak masuk akal.

“Memangnya kenapa Vida gak boleh main fesbuk, Be?”

“Haram!”

“Apa sih ukuran haram?”

“Pokoknya haram! Haram!”

Begitulah sore itu. Ibarat geledek yang menggelegar, menghantam kepala Arvida. Tanpa pengelasan yang menentramkan hati, terpaksa Arvida menjalankan hukuman Babe-nya. Padahal ia tahu, bukan Fesbuk yang patut dipersalahkan, tapi para member-nya lah yang memperlakukan Fesbuk dengan kurang layak. Fesbuk dikultuskanlah dan yang paling parah cuma buat ajang selingkuh. Padahal Fesbuk bisa dimanfaatkan apa saja.

“Apakah salah kalo gue menjadikan Fesbuk sebagai media unjuk diri?” tanya Arvida pada sahabatnya, Hana.

“Enggak. Elo nggak salah, kok, Vid, asal jangan terlalu narsis.”

“Apakah salah kalo gue jadikan Fesbuk sebagai media kritik buat pemerintah atau warga negara?”

“Enggak. Elo sama sekali nggak salah, Vid. Bahkan elo bisa jadikan Fesbuk sebagai media dakwah. Bukan cuma sebagai media jejaring sosial yang nggak punya makna…”

“Tapi kenapa gue nggak boleh main Fesbuk sama Babe gue? Alasan haram menurut gue nggak make sense!”

Selama ini Arvida memang cukup cerdas. Ia nggak seperti mayoritas orang yang menjadi Fesbuk sebagai ajang iseng-iseng, fun-fun doang, menghilangkan stres, buat jawab-jawabin status biar nggak garing, cari teman, menambah teman, selingkuhin teman, atau men-tag foto-foto yang nggak penting.

Buat Arvida, Fesbuk justru luar biasa manfaatnya. Menurutnya Mark Zuckerberg, penemu sekaligus pemilik Fesbuk kelahiran 14 Mei 1984 ini, sangatlah jenius. Sebagai orang terkaya di dunia di urutan 321 versi majalah Forbes -hartanya diperkirakan US$ 1,5 miliar (Rp 17,4 triliun)-, Zuckerman pasti nggak cuma ingin menjadikan Fesbuk sebagai ajang fun-fun doang. Member yang serius nggak patut tergabung dalam Fesbuk. Padahal salah!

Arvida seringkali mengritik kebijakan-kebijanan pemerintah dengan tujuan agar Indonesia lebih baik. Ia juga nggak segan-segan mengkritik teman-temannya sendiri agar berjalan sesuai dengan “rel”, entah itu “rel” yang sudah diatur pemerintah maupun agama dan kepercayaan mereka.

Pernah Arvida dikritik oleh satu-dua temannya, yang menganggapnya terlalu serius dengan Fesbuk. Maksudnya bukan menjadikan Fesbuk sebagai “berhala”, tapi tanggapan-tanggapan Arvida terhadap status atau foto yang di-tag temannya terlalu serius, sehingga ia dianggap kayak anak SMU yang sirik dan nggak ada kerjaan. Idiih! Aneh? Masa serius dianggap sirik dan nggak ada kerjaan? Padahal, balas Arvida, yang nggak ada kerjaan justru member Fesbuk yang kerjanya cuma menanggapi status teman-temannya atau men-tag foto yang nggak penting. Bukankah aktivitas fun kayak gitu lebih tepat dibilang nggak ada kerjaan?

“Jadi, aye pikir, kesimpulan Babe soal Fasbuk itu haram, nggak bener!” jelas Arvida pada Babenya yang kumisnya melintang itu.

Babenya kaget berats. Sejak kapan anak semata wayang ini berani membantah? Padahal selama ini, Vida baik-baik aja. Nggak banyak omong. Nggak banyak cing-cong. Tapi pelarangan Fesbuk ini membuat Vida beda.

“Babe emang pernah melihat aye selingkuh selama main Fesbuk?”

“Enggak!”

“Pernah nggak aye meninggalkan kewajiban sholat?”

“Enggak!”

“Setiap adzan, aye nggak pernah ngutak-ngatik Fesbuk lagi. Aye tinggalkan Fesbuk, trus langsung sholat, ya nggak?”

“Bener!”

“Pernah nggak Babe liat aye bolos kerja atau kerja nggak bener gara-gara Fesbuk?”

“Enggak!”

“Pernah nggak Babe lihat aye nge-tag foto nggak penting?”

“Nge-tag itu ape sih, Vid?”

“Mengirimkan foto gitu, lho...”

“Oh begitu....Beba rasa elu nggak pernah deh melakukan itu...apa namanye...tag-tag foto.”

“Nah, kalo begitu, kenapa Babe melarang aye main Fesbuk? Kenapa Babe menganggap Fesbuk itu haram?”

“Iye-ye, kenape ye?”

“Babe, yang salah itu bukan Fesbuknya, tapi para membernya. Kalo para member itu memperlakukan Fesbuk cuma buat fun-fun aja, ya silahkan aja. Tapi buat aye, selain buat fun, Fesbuk itu justru bisa dijadikan media penyeimbang dunia dan akhirat...”

“Wah, betul juga, tuh! Semacam dakwah via Fesbuk gitu ya?”

“Nah, tuh! Babe dah ngerti, kan?! Makanya jadi jangan larang aye main Fesbuk ya?”

“Baiklah kalo begitu. Tapi Babe boleh minta tolong nggak?”

“Minta tolong apa, Be?”

“Tolong bikinin Fasbuk buat Babe dong...hehehehe”

Tiba-tiba Emaknya Arvida muncul tanpa dirinya dan Babenya tahu. Rupanya percakapan antara Arvida dan Babenya didengar oleh sang Emak.

“Emak juga mau dong dibuatkan Fesbuk!”

“Hah?! Emak juga mau main Fesbuk?!”

“Sekalian bikinin Twitter-nya juga ya...” ucap Emak tanpa beban.

Tet-tot!

PASTI POTONG RAMBUTNYA DI SALON MAHAL, DEH

Menjadi creative yang soulfull bukanlah perkara mudah. Ia kudu tampil trendy alias mengikuti trend yang happening. Kalo lagi trend sepatu model Kickers, ia kudu beli sepatu model begitu. Kalo lagi happening jacket model Agung Copets, ya kudu beli jacket begituan yang konon sangat laris dibeli oleh para tukang ojeks.

Dalam soal rambut, seorang creative soulfull juga kudu mengikuti trend yang happening. Inilah yang dilakukan Chiptadi. Cowok keturunan Batak, Belanda, Jepang, Jerman, dan Irian Jaya ini sangat-sangat memperhatikan style rambut. Ia nggak mau ketinggalan momentum. Nggak heran ketika trend rambut ABS alias Rambut Adi Bing Slamet yang poni-poni nggak penting itu, ia ikut serta. Begitu pula pada saat trend KDM atawa Korban Demi Moore, Chiptadi melakukan itu.

Kalo nggak aral melintang, Chiptadi bakal melancong ke Singaparna, eh bukan, bukan Singaparna, tapi ke Singapura. Di negara ini, ia akan bermukim selama 3 hari 3 malam. Itu pun tergantung di Singapura ia kecantol sosok yang menjadi dambaan hatinya atau enggak. Kalo iya, ya apa boleh buat, kemungkinan di Singapura ia akan tinggal beberapa tahun lamanya.

Is it bird?”

“Apanya?”

“Dambaan hatinya!”

“Oh, no!”

Is it plane?”

No!”

Is it Superman?”

“Hmmmmmm...”

Dalam rangka ke Singapura, Chiptadi mempersiapkan diri dengan sepenuh hati. Bukan cuma membawa diri agar kejantanannya nggak sebarangan terabaikan oleh hembusan angin yang menyelinap ke kemejanya. Tetapi ia juga mempersiapkan perbekalan yang full. Ada sekitar 30 celana dalam merek Wacoall, BH berinisial Cartier (kok BH seh?), dan beberapa item yang menarik dan berwarna pink.

Satu persiapan yang nggak pernah dilupakan menjelang berangkat ke Singaparna, lho kok Singaparna lagi? Maksudnya Singapura, adalah memperbaiki rambutnya yang selama ini bagai benang kusut yang nggak pernah tuntas-tuntas meluruskannya. Chiptadi ingin rambutnya diterima dengan baik oleh orang-orang Singapura, karena ia yakin, rambut merupakan salah satu bagian dari wakil bangsa. Dengan rambut yang trendy dan happening, para muda-mudi Singapura yang gaul, happening, dan soulfull akan memberikan kasih padanya sepanjang masa.

Kini rambutnya Chiptadi telah berubah. Ia sadar, perubahan ini juga ditujukan buat Negara Kesatuan Republik Indonesia yang saat ini sedang carut-marut gara-gara pertarungan Cicak lawan Buaya. Lebih dari itu, potongan rambutnya juga ditujukan kepada kekasihnya yang tak dianggap (kok kayak lagu Pingkan Mambo ya?). Mohon maaf, ia nggak mau menyebutkan siapa kekasihnya itu, termasuk jenis kelaminnya, karena ini urusannya akan panjang.

“Pasti rambut loe itu dipotong di salon mahal deh!” jawab Uky, rekan sekerjanya yang juga selalu happening dalam soal trend, nggak heran kalo disebut sebagai creative yang nge-hits.

Chiptadi diam.

“Rambut loe dipotong sama si Mance ya?”

“Bukan!”

“Atau di salon Lu Vaze yang harga sekali potong 350 ribu sampai 500 ribuan itu ya?”

“Oh, tentu tidak!”

“Hmmm..barangkali potong di salon Tony and Guy yang lebih mahal lagi...”

“Yang sekali potong 1 juta itu?”

“Yap! Elo pasti potong di situ deh...”

“Bukan!”

“Habis dimana dong?”

“Di Arion!”

“Di Arion Plaza?!!”

“Bukan! Di pagar depan Arion. Tepatnya di bawah pohon di dekat pos satpam...”

Senin, 12 Oktober 2009

DUA PEREMPUAN YANG KUTEMUI SORE ITU

Perempuan itu cantik. Kulitnya yang menghitam akibat sengatan matahari tak bisa mengelabui kecantikannya. Percayalah, ia lebih cantik dari teman-teman saya yang sok cantik, padahal saya tahu kecantikan mereka sudah melewati serangkaian terapi di salon. Percaya pula, kecantikan perempuan ini jauh lebih alami dari Bencong Taman Lawang sekalipun.

Perempuan itu tak peduli suaranya terdengar jelek. Serak-serak basah, bahkan cenderung parau. Ia juga sama sekali tak peduli, dengan kecantikan alaminya itu berdiri di hadapan perempuan-perempuan lain yang tak secantik dirinya. Ada perempuan bermata sipit, tapi kulitnya putih, dan berambut sebahu. Ada perempuan berdada besar, hidung pesek, dan menggenakan jins warna biru. Yang paling fokus menatap perempuan yang aku katakan cantik itu adalah seorang ibu berwajah jelek dengan tinggi badan tak lebih 150 cm itu.

Dan sampailah perempuan itu pada bait terakhir dari sebuah lagu yang sama sekali tak ku ketahui judul maupun penciptanya. Ia kemudian, dan beserta anaknya yang berusia sekitar dua tahun itu, meminta uang recehan dari satu penumpang ke penumpang lain, termasuk diriku. Setelah itu, ia langsung pergi meninggalkan bus 46 jurusan Grogol-Cililitan yang sore itu membawaku ke Twin Plaza.

Perempuan itu pengamen. Bila kutaksir usianya, kira-kira masih sekitar 20 tahunan. Bila anaknya berusia 3 tahun, berarti ia melahirkan pada saat usianya 17 tahun. Usia, dimana perempuan kota sedang “hot-hot”-nya, minta dibuatkan ulangtahun terindah agar bisa dikenang di kemudian hari. Usia, dimana anak-anak menengah-atas minta dibuatkan SIM agar bisa segera membawa mobil milik orangtua mereka.

Sayang aku tak sempat bercakap-cakap dengan perempuan pengamen ini. Perempuan yang menurutku pantas ikut Gadis Sampul, Model Kawanku, atau mungkin Putri Indonesia. Anda pasti sudah bisa menebak kecantikan alami perempuan yang saat ceritakan ini. Sayang, ia tak terawat. Kemaja yang ia kenakan sudah lusuh, dekil, dan pasti bau. Jins yang seharusnya berwarna biru muda itu pun sudah penuh dengan kotoran, asap knalpot, dan barangkali bau bekas kencing anaknya yang masih dua tahun itu.

Padahal aku ingin sekali bertanya: siapa namanya; siapa suaminya; apakah suaminya tahu kalo ia cantik, lebih cantik dari Titi Kamal atau Shanty; dimana tinggalnya; bagaimana ia sehari-hari hidup dengan anaknya; pernahkah terpikirkan olehnya tentang masa depan, masa depan anaknya; bagaimana hubungannya dengan suaminya; dan pertanyaan-pertanyaan lain. Namun ia sudah turun dari bus 46 bersama anaknya di perempatan Pancoran, dan dengan cepat menyeberang ke jalan lain, dimana aku yakin ia akan kembali ngamen dengan kecrekan kayu dengan bekas tutup botol itu.

Sore di kesempatan lain, aku menjumpai perempuan kedua. Kali ini jelek rupanya. Ia mengaku usianya baru 17 tahun. Dari pembicara dengannya, aku percaya usianya memang segitu, karena saat ini jika masih berada di bangku sekolah, ia duduk di kelas 2 SMU. Yap! Perempuan kedua yang kutemui di pinggir pantai Taman Impian Jaya Ancol ini memang sudah putus sekolah.

Bibirnya yang tebal itu menceritakan dengan lancar tetang kisah hidupnya, yang menurut saya cukup tragis. Ia tidak lagi diakui oleh orangtua kandungnya sendiri. Ibunya telah mengusirnya dua minggu sebelum Idul Fitri 1430 H lalu, sedang Bapaknya yang menurutnya mantan preman itu tidak pernah sama sekali berusaha mencarinya.

Dengan perempuan kedua ini, memang aku punya kesempatan banyak bercakap-cakap. Aku punya kesempatan melihat perempuan ini dari dekat. Wajahnya yang bulat; kulitnya yang hitam dan kering; hidungnya yang pesek; rambutnya yang nge-bob; tingginya yang kira-kira 145 cm; pantatnya yang molek; dan payudaranya yang sebesar cetakan nasi padang.

Namun perempuan kedua ini jauh berbeda dengan perempuan pertama. Setidaknya itu asumsiku yang bisa disebut sebagai prejudice atau prasangka yang belum tentu kebenarannya. Tapi begini, perempuan kedua ini aku pikir lebih suka lari tanggungjawab. Pasti ada masalah yang membuat dirinya tidak diakui lagi oleh orangtuanya, which is jiwa pemberontaknya.

Lewat percakapan, saya menilai perempuan kedua selalu mengambil jalan pintas, praktis. Ketika orangtuanya menasehati, nasihat tersebut ditangkap sebagai hal yang bertentangan dengan jiwa pemberontaknya. Ia merasa punya hak melakukan apa saja, sementara orangtua menuduh anaknya itu lupa akan tanggungjawabnya sebagai anak. Setiap nasihat orangtuanya bertolak belakang, perempuan kedua itu lari, bertemu teman-temannya, dan bermalam sampai pagi di diskotek. Ini dilakukan berkali-kali. Siapa orangtua yang tak marah? Itulah yang membuat dirinya diusir dari rumah.

Dua sore itu, dengan dua perempuan yang berbeda, menambah pelajaran berharga bagiku. Perempuan pertama mengajarkanku soal struggle for survive, tanggungjawab ibu pada anak, dan mencari uang tanpa rasa malu selama uang dicari adalah halal. Sementara perempuan kedua memberiku pelajaran akan hak dan kewajiban anak pada orangtua dan tak ada guna lari dari masalah, karena akan melahirkan masalah baru.

Dari perempuan ketiga, aku mendapat jauh lebih banyak dari kedua perempuan yang kedua sore itu kutemui. Perempuan ketiga ini memang tak kumasukkan dalam kisah di atas tadi, karena sampai kini selalu setia menemaniku, dalam keadaan susah maupun senang.