Minggu, 27 Maret 2016

Derita Asprod #3: Kenalan dengan “Penghuni” Citra TV

Di hari pertama kerja, Jaja masuk kepagian. Harap maklum, Jaja adalah karyawan baru. Biasanya, dimana-mana karyawan baru itu rajin pangkal pandai. Alasan lain, antara rumahnya dengan kantor Citra TV jauuuuuh banget. Ya, kira-kira 40 kilometer lah. Di Jakarta, 40 kilometer itu bisa kayak setahun. Kalo nggak tahu jalan tikus, bisa kena macet. Nah, oleh karena takut sama tikus, eh salah, takut telat, maka Jaja datang pagi.

Padahal, jam kantor Citra TV yang resmi baru beroperasi pukul 08:30, tapi Jaja sudah masuk pukul 07:05. Sekali lagi, ia nggak mau telat di hari pertama. Kan nggak enak karyawan baru masuk jam 10, ya nggak? Makanya habis sholat subuh, ia langsung mandi jibang jibung, dan bersiap-siap berangkat ke Citra TV. Oh iya, pas mandi, Jaja nggak lupa sabunan dan gosok gigi *yaiyalah! Nggak penting banget infonya yak?*

“Ja, emang masuk kantornya jam berapa?” tanya si Mak Oneng heran.

“Pukul 08:30, Mak,” jawab Jaja.

“Tapi kok pagi-pagi amat berangkatnya, Ja?”

“Takut telat, Mak. Tahu sendiri kan kondisi lalu lintas di Jakarta, Mak...”

“Kenapa emang lalu lintas Jakarta?” tanya Mak Oneng lagi.

“Macet, Mak...”

“Ah, masa sih? Dulu zamannya Emak nggak macet, kok..”

“Jiaaahhh! Itu kan dulu, Mak. Dulu, Mak jalan masih pake delman istimewa. Trus duduk di samping pak kusir yang sedang bekerja. Sekarang beda, Mak...”

“Nggak ada becak lagi?”

“Udah ke laut Mak...”

“Jadi kalo mau naik becak ke laut gitu?”

“Bukan, Mak. Becak-becaknya udah dibuang ke laut. Nggak boleh beroperasi lagi di Jakarta...”

“Hmmm...kasihan ya...”

“Kasihan kenapa Mak?”

“Iya, kalo Abang becaknya nggak bisa berenang gimana dong?”

“Jiaaah...yang dibuang ke laut cuma becaknya aja, Mak. Abang becaknya mah kagak...”

Mak Oneng memang jarang keluar kampung buat ngelihat sudut-sudut jalanan di Jakarta ini. Makanya lalu lintas di Jakarta yang parah, belum sempat ngerasain lagi olehnya. Dia terakhir jalan-jalan keliling Jakarta pas Gubernurnya masih Ali Sadikin. Jangan-jangan sebagian dari lo kagak kenal siapa itu Ali Sadikin. Itu Gubernur Jakarta yang paling top. Sampai saat ini belum ada Gubernur yang sehebat doi.

Selain kemacetan yang parah, Mak Oneng juga belum merasakan keganasan para pengendara sepeda motor di jalan. Yang main terobos lampu merah, lawan arus, dan jalan di atas trotoar yang sebetulnya hak pejalan kaki. Parah memang. Para pengendara nggak punya etika berkendaraan lagi. Jadi, untung juga buat Mak Oneng nggak melihat pemandangan yang menyebalkan kayak gitu.
Baik, kita lupakan Mak Oneng, balik ke Jaja lagi...

Begitu sampai di lobi Citra TV, Jaja langsung cari resepsionis. Ia pengen lapor, sekaligus kenalan kalo ia adalah karyawan baru. Namun, hari masih pagi, jadi resepsionis belum nampak batang hidungnya. Di meja resepsionis, ada seorang security yang nampak sedang asyik tidur. Mulutnya terbuka lebar dan mengeluarkan bunyi nggak enak didengar kuping.

Jaja mencoba membangunkan.

“Assalamu’alaikum...”.

Sekali, dua kali, tiga kali disapa, security belum juga bangun. Baru setelah yang ketujuh, security itu terbangun dengan penuh kekagetan.

“Siaaap! Walaikum salam...” ujar security sambil berdiri dan memberi hormat ke Jaja.

Jaja sempat kaget.

“Maaf pak menganggu tidurnya. Kenalkan saya Jaja, karyawan baru di sini...”

“Iya, gimana mas. Ada yang bisa saya bantu?” tanya security sambil menyusap iler yang tadi sempat ngeces.

“Mau tanya ruang produksi dimana ya pak?”

“Oh di lantai 5, mas. Silahkan naik aja pake lift ke lantai 5...”

“Baik, pak...”

Jaja kemudian masuk lift buat naik ke lantai 5. Liftnya agak mengerikan. Pas jalan ke atas, agak goyang-goyang gitu. “Ini lift atau penyanyi dangdut sih?” pikir Jaja. Ah, barangkali, karena lift ini sering dipake artis-artis pas syuting acara dangdut di Citra TV kali jadi goyang-goyang.

Begitu keluar lift, di lantai 5 juga masih nggak nampak manusia secuil pun. Masih sepi sepoy. Yang terlihat cuma seorang office boy (OB) yang sedang bersih-bersih di sebuah meja di dalam ruangan kaca. Persis di depan lift ada sofa kecil. Oleh karena belum tahu ruang kerja, Jaja duduk di sofa.

Belum juga lama duduk di sofa, Jaja seperti mendengar ada sekilas suara tawa dari WC yang ada di samping lift. Setelah suara tawa, ada pula suara seperti benda jatuh ke dalam lubang WC. Plung! Mirip bunyi pup gitu deh. Jaja senang, ternyata selain OB, sudah ada karyawan yang sudah datang.
Sambil menunggu karyawan keluar dari WC, dari sofanya Jaja memperhatikan OB kerja, membawa ember dengan seperangkat peralatan pel dari satu tempat ke tempat lain. Makin lama, si OB makin dekat ke arah tempat duduk Jaja.

“Permisi ya, mas,” ujar si OB.

“Oh, silahkan, mas” ujar Jaja sambil mengangkat kedua kakinya, supaya si OB bisa mengelap lantai yang Jaja injak.

Sebelum si OB jauh, Jaja menyodorkan tangan kanannya ke si OB. Mas-Mas OB sempat kaget.


“Kenalkan, nama saya Jaja..”

“Saya Ivan,” ujar si OB sambil memberikan senyum.

“Saya karyawan baru di sini, mas Ivan...”

“Oh gitu. Pantesan datangnya pagi banget. Biasanya karyawan baru pada datang jam 10-an, mas..”

“Hehehe...”

“Hati-hati karyawan baru, mas. Sendirian pula...”

Wajah Jaja tegang. Kepo ingin mendengarkan penjelasan selanjutnya dari Ivan OB.

“Kenapa kalo karyawan baru, mas?” tanya Jaja kepo level 6.

“Biasanya diganggu sama ‘penunggu’ kantor,” jelas Ivan.

“Bukannya sudah ada karyawan yang datang mas?” tanya Jaja sambil tegang.

“Siapa mas?”

“Kayaknya masih di WC deh. Tadi saya dengar suara perempuan dan ada kayak orang lagi pup gitu...”

“Ah, belum ada yang datang kok mas. Barangkali itu...hmmm...” Ivan OB nggak mau melanjutkan penjelasan.

“Barangkali apa mas?”

“Ah, enggak kok…”

“Oh iya mas, liftnya memang rusak ya? Saya tadi naik goyang-goyang gitu. Padahal kayaknya lift masih baru…”

“Enggak, kok mas. Liftnya nggak pernah goyan. Tiap saya naiki nggak pernah goyang...”

“Oh gitu ya?”

“Wah, beneeer. Pasti mas diganggu..”

“Diganggu apa mas Ivan?” makin ketakutan.

“Saya permisi dulu ya mas,” Ivan bergegas meninggalkan Jaja. Tiba-tiba wajahnya jadi kayak ketakutan. Wajah Ivan itu makin bikin Jaja ketakutan.

Kini Jaja sendirian. Jantungnya dagdigdug. Terlebih lagi suara cewek cekikikan dan benda jatuh di lubang WC terdengar lagi sayup-sayup. Keringet mulai keluar dari pelipisnya. Ia nggak berani masuk WC, padahal pengen kencing.

Buat mengobati ketakutannya, Jaja baca doa. Abis baca doa, cowok ini langsung menghubungi Emaknya via hape.

“Mak, Jaja takut, nih,” ujar Jaja ngelapor pada sang Emak.

“Takut setan?” tanya Mak Oneng.

“Iya, Mak...”

“Jiaaah...setan aja lo takutin. Takut itu cuma sama Tuhan...”

“Pengennya gitu, Mak. Tapi sekarang Jaja lagi di lantai 5, nih. Sendirian. Nggak ada orang...”

“Kalo sendirian ya nggak ada orang kali. Gimana sih lo?”

“Iya, tapi ada suara cekikikan gitu Mak di WC...”

“Ya lo cekikikan aja juga,” usul Mak Oneng.

“Ah, Emak. Masa Jaja disuruh kayak setan?”

“Trus ada keluhan apa lagi?” tanya Mak Oneng seperti seorang dokter bertanya pada pasien.

“Tadi pas Jaja naik lift, lift-nya goyang-goyang. Katanya OB, selama ini belum pernah lift goyang-goyang..”

“Emang ada yang nyetel lagu dangdut?”

“Ya, nggak ada Mak. Mak ada-ada aja…”

Jaja curhat ke Maknya, karena selama ini Maknya selalu memberikan nasehat-nasehat jita dalam mengatasi masalah. Sang Mak bagai Motivator kaliber Mirio Tanguh yang super. Memang, nggak semua nasehat cespleng. Contohnya tadi, masa si Jaja disuruh cekikikan kayak setan? Namun, beberapa kali nasehatnya manjur.

“Kalo gitu lo berdoa aja. Udah berdoa blom?”

“Udah Mak...”

“Bagus kalo gitu. Doa minta pertolongan pada pencipta mahkluk di bumi ini, termasuk setan yang cekikian itu. Ngomong-ngomong doa lo apa, Ja?”

Allahuma inni a’uudzubika minal khubutshi wal khabaaits..”

“Jiaaah!! Itu mah doa masuk WC, Ja!”

“Ohh iya...Jaja lupa, Mak. Habis udah keburu ketakutan, Mak...”

“Yang bener...Alhamdulillaahii ladzii adzhaba ‘annil adzaa wa’aafaanii...”

“Lho, bukannya itu doa keluar WC, Mak?” tanya Jaja.

“Hehehe...oh iya. Mak kok lupa.

Akhirnya Mak Oneng memberikan ke Jaja doa pengusir setan yang mujarab. Jaja mulai berdoa dengan khusyuk. Saking kusyuk, matanya sampai merem. Tiba-tiba ada bunyi pintu dibuka dari WC. Bunyi pintu tersebut membuat Jaja merem semerem-meremnya dan mengulang-ulang baca doa.
Tiba-tiba seorang cowok menepuk pundak Jaja.

“Mas lagi ngapain?”

Tepukan cowok itu makin membuat Jaja ketakutan. Bahkan ada rembesan air keluar dari celananya. Yes! Jaja ngompol. Selain ngompol, Jaja juga keringetan. Namun, mulutnya tetap komat-kamit berdoa.

“Ampuuun seee...seetaaan! Amppuun...”

“Woiii! Gue bukan setan!”

“Ka..ka.kaloo bu..bu..bukan se..see taan aa..paa.. dong?”

“Gue Anto! PA! Production Assistance...”

Perlahan-lahan Jaja membuka satu per satu matanya. Pertama mata kanan.Begitu ngeliat sosok yang di depan matanya manusia beneran, mata kiri yang dibuka.

“Jadi bener kamu manusia? Bukan setan?”

“Yaaa...masih aja lo bilang gue setan. Emang situ siapa? Trus tadi ngapain komat-kamit?”

“Gue Jaja. Gue PA baru di Citra TV ini...”

“Ohhh...PA baru...”

“Tadi, gue dapat kabar dari OB, di sini ada penunggunya...”

“Ya, memang ada penunggunya. Salah satunya PA kayak gue ini…hahaha. Mungkin nanti lo juga bakal jadi penunggu...”

“Maksudnya?”

“PA itu jarang pulang rumah. Gaji kecil, tapi tugas dan tanggung jawab banyak. Tapi itu kudu kita telen mentah-mentah. Ya, itung-itung belajar sambil cari pengalaman kerja aja...”

“Ohh...jadi PA bisa jarang pulang gitu ya?”

“Makanya tadi gue itu ketiduran di kloset. Padahal gue lagi pup. Keren kan pup bisa tidur?”

“Hehehe...makanya tadi gue pikir bunyi-bunyi di WC itu setan, eh ternyata elo, To...”

“Yo’i!”

“Brarti suara cekikian yang ada di WC cewek jangan-jangan juga PA juga...”

“Suara cekikikan?” tanya Anto nggak paham.

“Iya. Tadi gue denger suara cekikikan dan suara bunyi pup, yang ternyata elo di WC...”

“Wah, kalo bunyi cekikikan mah gue, baru tahu,” ujar Anto mulai ketakutan.

“Jadi?” Jaja berubah ketakutan lagi.

“Kalo itu mah bener-benar SETAAAANNNN!!!!”

Anto kabur meninggalkan Jaja sendirian. Melihat teman barunya itu kabur, Jaja akhirnya ikut kabur.

(bersambung)

Derita Asprod # 2: Mak! Jaja Kerja di Tipi!

Setelah jadi cowok pengangguran hampir dua minggu lamanya, Jaja akhirnya dipanggil juga oleh HRD Citra TV. Cowok ganteng ini dipanggil gara-gara udah ngirim curriculum vitae (CV) dan lulus tes dalam rangka ngelamar kerja. Kebetulan Citra TV butuh banget beberapa karyawan televisi.Ada beberapa posisi yang dicari. Salah satunya jadi Production Assistance (PA).

Sebetulnya Jaja nggak tahu apa itu PA, termasuk tugas dan tanggung jawab jabatan ini. Harap maklum, Jaja bukan lulusan broadcacst dari perguruan tinggi. Ia adalah lulusan teknik mesin jurusan perakitan mesin jahit. Trus apa dong motivasi cowok ini sampai nekad ngelamar jadi PA?

“Pasti PA bisa jadi pintu masuk gue jadi artis di televisi,” pikirnya. Lo-lo semua masih inget dong impian Jaja mau jadi apa? Tepat sekali! Mau jadi artis sodara-sodara.

Sempat sih Jaja berselancar ke mbah gugle buat cari tau apa itu PA. Tapi penjelasan di mbak gugle kan cuma teori. Prakteknya? Jaja tetap aja masih blank pekerjaan seorang PA. Meski blank Jaja tetap memberanikan diri kirim CV. Ya demi merealisasikan impiannya sebagai artis. Nah, dua minggu lalu, setalah kirim CV, ia sempat dipanggil ikut Ujian Masuk Stasiun Televisi (UMST). Lokasi UMST di sebuah stadion sepakbola.

Awalnya Jaja bingung, kok mau kerja di tipi tesnya di lapangan bola. “Kerja di tipi apa seleksi Timnas, sih?” pikir Jaja. Meski ragu, ia tetap bertekad bulat untuk hadir ke stadion sepakbola dan ikutan tes.

Singkat cerita, perjuangan ikut UMST berakhir happy. Jaja lolos seleksi penerimaan karyawan baru Citra TV. Nah, hari ini ceritanya Jaja menghadap HRD stasiun televisi swasta yang bermarkas di jalan Kebon Kosong ini.

            “Apa motivasi kamu kerja di tipi?” tanya pak Luhut, Manager HRD Citra TV.

            “Jawabnya mau jujur apa basa-basi pak?” tanya balik Jaja.

            “Ya, jujurlah…”

            “Saya pengen jadi kayak Boy pak…”

            “Siapa tuh Boy?”

            “Bapak nggak kenal Boy?”

            “Enggak,” jawab pak Luhut sambil menggeleng. “Memang ngaruh gitu kalo nggak kenal Boy?”

            “Boy itu pemain sinetron Anak Jalanan, pak...”

            “Ohh...jadi kamu pengen jadi anak jalanan?”

            “Jiaaah bapak. Saya pengen jadi artis kayak Boy, pak. Kok anak jalanan?”

            “Jadi artis?” pak Luhut heran.

            “Iya, pak. Memang kenapa pak? Ada yang salah kalo mau jadi artis?”

            “Tipi ini nggak lagi cari artis, mas. Kita cuma buka lowongan untuk Editor, PA, maupun PD…”

            “Saya sih sudah tahu pak. Saya memang ngelamar jadi PA. Tapi motivasi saya tetap pengen jadi artis…”

Pak Luhut bingung. Nggak ngerti dengan maksud kalimat Jaja tadi. Ngelamar jadi PA, tapi motivasi jadi artis.

            “Yasudah. Terserah kamu lah. Sekarang saya mau ngetes kamu…”

            "Siap pak!"

Pak Luhut ngetes lari. Jaja bingung, kok tes jadi PA itu lari ya? Apa hubungannya PA sampai dites lari segala? Setelah dijelaskan oleh pak Luhut panjang kali lebar kali tinggi, Jaja baru ngerti. Bahwa salah satu kemampuan PA yang wajib dimiliki adalah harus gesit dan punya fisik prima. Dalam satu tugas, seorang PA harus mampu ngambil kaset dari tempat editing, yakni master edit, trus langsung dikasih ke MC dalam waktu cepat. MC bukan Master of Ceremony, lho, tetapi Master Control. MC adalah tempat dimana kaset-kaset hasil editan, siap ditayangkan alias di-on air-kan.

            "Bapak nggak salah ngasih tes kan?" tanya Jaja nggak yakin.

            “Enggak. Kamu sudah siap?” tanya pak Luhut sambil memegang stopwatch. Mirip kayak pelatih alletik sedang menguji atletnya. Stopwatch ini pun buat ngitung kecepatan Jaja lari. Kalo larinya cepat, lulus. Kalo lambat, nggak lulus.

            “Ini tesnya bener pak? Seorang PA harus lari?” tanya Jaja lagi.

            “Duuhhh! Ya bener lah. Nggak percaya amat sih kamu? Masa saya ngibulin kamu?”

Jaja garuk-garuk kepala. Dalam hatinya mau protes lagi. Mau mempertanyakan,tipi ini mau cari PA atau pelari sprinter sih? Ah, tapi daripada impian jadi artis nggak kesampaian, apa boleh buat, Jaja mau nggak mau harus ngikut apa kata pak Luhut ini. Lagi pula dalam sebuah adegan Anak Jalanan, Boy juga sempat dihukum lari keliling lapangan sekolah oleh gurunya. “Nasib gue kelak bakal mirip Boy, nih. Jadi artis...”

            “Tiga..!! Dua..!!..Satu…!!!” begitu aba-aba pak Luhut.

Jaja pun berlari dengan kencang ke arah tempat editing. Larinya bagai superhero Flash yang bisa mengalahkan kecepatan suara angin. Wuuzzzzzz!!! Saking cepat larinya, rok salah karyawati Citra TV sempat tersingkap. Lalu buku-buku yang ada di rak buku, berhamburan.

Begitu dapat kaset dari tempat editing, Jaja lari lagi ke ruang MC. Kalo sebelumnya sempat memporak porandakan buku-buku, angin yang dihasilkan dari Jaja lari membuat wig salah seorang karyawan copot dan bangku-bangku berputar kecang. Begitu selesai lari, ia balik ke meja pak Luhut.

            “Gimana, Pak?” tanya Jaja sambil ngos-ngosan.

            “Good! Waktu kamu 1 menit, 9 detik...”

Jaja masih ngos-ngosan.Mulutnya mangap. Keringatnya mengucur dari dahinya.

            “Ok, sekarang kita lanjutkan ke tes berikutnya, yakni angkat karung beras...”

            “Pak, yang bener aja, masa tesnya ngangkat karung beras? Kayaknya tes ngangkut-ngangkut ini cocok buat para kuli panggul di Kramat Jati deh...”

            “Eits! Jangan salah! Jadi PA itu harus kuat ngangkat juga, tahu! Nanti di lapangan, PA harus ngangkat tripod kamera, bantu ngangkat lighting, dan barang-barang buat syuting. Jadi, PA harus punya fisik yang prima. Ngerti?”

Lagi-lagi Jaja terpaksa harus ikut apa perintah pak HRD. Kalo menolak perintah, bisa-bisa nggak diterima kerja di Citra TV. Kalo nggak diterima kerja, kesempatan buat jadi artis jadi tertutup deh.

Di depan Jaja telah tersedia tiga karung beras. Ada karung beras 25 kilo, 40 kilo, dan 50 kilo. Perintah pak Luhut, Jaja harus mengangkat satu per satu karung beras tersebut, lalu baru ketiga karung beras diangkat bersamaan. Begitu angkat tiga karung beras, pak Luhut akan menghitung berapa lama Jaja mampu mengangkat.

            “Sudah siap ya? “Tiga..!! Dua..!!..Satu…!!!” ucap pak Luhut memberi aba-aba lagi. Masih memegang stopwatch untuk menghitung berapa lama Jaja bisa bertahan mengangkat karung beras tersebut.

Jaja mengangkat karung beras satu, lalu karung dua, dan karung tiga. Tigapuluh menit kemudian, Jaja udah nggak tahan. Ia pun menurunkan karung beras tersebut.

            “Pak, sebelum tes dilanjutkan, boleh saya minta sesuatu?” pinta Jaja. Napasnya ngos-ngosan. Belum selesai ngos-ngosan lari, kini giliran ngos-ngosan gegara ngangkat karung beras seberat 115 kg selama 30 menit.

            “Permintaan apa?” tanya pak Luhut heran.

            “Boleh saya minta air minum. Saya takut dehidrasi...”

            “Waah, maaf saya belom dikasih air sama office boy...”

            “Yasudah, izinkan saya pingsan ya, pak...”

Gubrakkk! Jaja tersungkur.

            “HELPPP!!! I need somebody...HELPPP!!!”*niru kelompok The Beatles nyanyi lagu Help*

***

Sebuah motor ojek online berhenti tepat di gang depan rumah Jaja. Belum juga sempat membayar ongkos ke Tukang Ojek, Jaja sudah berteriak kencang. Suara cempreng berkekuatan 10 oktaf itu membuat resleting celana Tukang Ojek copot dan celananya melorot.

            “Maaaakkk!!! Jaja diterima kerja di TIPIIIIII!!!” teriak Jaja.

Suara teriakan Jaja bikin Mak Oneng berhenti menjemur beha-behanya yang berwarna-warni itu. Emak-Emak setengah baya ini langsung berlari ke arah datangnya suara itu. Jaja yang tadi berada di jok motor ojek online langsung melompat dan mengejar Emak-nya. Adegan lari dengan efek slow motion pun terjadi. Kalo lo lihat, adegannya mirip kayak di film-film Bollywood.

            “Jaaajaaaa….!!!!”

            “Emaaaakkk…!!!”

Mereka pun saling berpelukan dan berputar-putar.

            “Mak, makasih ya atas doa restu yang telah diberikan. Akhirnya Jaja jadi artis…eh..maaf diterima kerja di tipi…”

            “Alhamdulillah…”

Jaja pengen cium tangan Mak-nya. Tapi…

            “Mak nggak abis kupas bawang kan?”

            “Enggak…”

Mendengar Mak-nya nggak ngupas bawang, Jaja akhirnya berani mencium berkali-kali tangan Mak-nya. Nggak takut lagi matanya pedih. Kecupan bibir Jaja ke tangan Mak-nya sebagai tanda rasa syukur yang mendalam, karena sudah diterima jadi pelari spinter dan kuli panggul beras, eh salah ding...maksudnya diterima kerja jadi PA di Citra TV.

(bersambung)

Sabtu, 13 Februari 2016

DERITA ASPROD: BERSAKIT-SAKIT DAHULU, MATI KEMUDIAN



Sinopsis

Sejak lama Jaja pengen bingits masuk tipi. Ia pengen jadi artis kayak Tora Sudiro atau Darius Sinathrya. Soalnya, jadi artis itu enak. Selain duitnya segudang, fansnya segudang, yang ngelamar buat jadi calon istri juga segudang. Ya, begitulah hayalan tinggi seorang anak Betawi yang lama nongkrong di emperan Kalijodo. 

Ia pikir, dengan tampangnya yang ganteng jental jentul, bisa ngetop bagai bintang Hollywood, at least bintang sekelas Starvision atau Multivision lah. Berbagai cara ditempuh, mulai dari ikut cover boy-cover boy-an, sampai lomba angkut koper ia lakukan. Nasib berkata lain. Cowok jomblo level 10 ini akhirnya masuk tipi, tetapi bukan jadi artis, melainkan jadi asisten produksi alias asprod di Citra TV. 

“Ya, barangkali ini batu loncatan buat jadi artis,” pikir Jaja penuh optimis, meski dalam hatinya remuk.

Awalnya Jaja nggak ngerti tugas dan tanggung jawab sebagai asprod. Berbagai halang dan rintangan dilakoni. Bahkan, ia hampir saja frustrasi, walau nggak sampe bunuh diri. Namun, berkat bimbingan dan penyuluhan secara intensif dari sang Emak Oneng yang super, Jaja bertahan jadi asprod. Ia pun bangga jadi asprod. Nggak heran, Jaja pun berslogan: “Asprod? #rapopo!”.

Di antara pengalaman jadi asprod, ada kisah cinta Jaja dengan Abel yang very very menyesakkan. Namun, hubungan mereka nggak bertahan lama. Kesibukannya sebagai asprod bikin Abel terlantar, bagai pemulung terlantar di emperan. Akhir kisah, hubungan cinta mereka kandas. Namun, lagi-lagi berkat bimbingan sang Emak yang lulusan sekolah motivator Mirio Tagih, Jaja bangkit dari keterpurukan hatinya buat ngejar impian jadi Produser.

Nah, selamat mengikuti kisah bersambung “Derita Asisten Produksi” ini. Semoga nggak kisah-kisahnya nggak garing. Kalo garing, mohon dimaafkan. Ya, namanya juga usaha. Oh iya, apabila ada nama atau peristiwa sama pada kisah-kisah ini, semuanya hanyalah kebetulan saja. So, don’t worry be happy. Sebagaimana kata pepatah, berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian *kok nggak nyambung ya?*. Pokoknya, kisah ini hanyalah fiksi. Jadi, nggak perlu sakit hati.

***


Kisah #I

Minta Doa Restu Ortu

Sebelumnya kenalan dulu sama pemilik kisah ini: Jaja. Nama panjangnya: Jajaaaaaaaaaaaaa. Ups! Itu mah kalo si Jaja dipanggil sama Emaknya. Etapi emang nggak ada nama panjang, selain Jaja. Entahlah, kenapa ortu si Jaja pelit amat ngasih nama panjang.

Sejak lama, Jaja pengen banget masuk di tipi. Bukan pengen kerja, tapi pengen jadi artis. Makanya, segala usaha pernah ia jabanin. Mulai dari ikut lomba cover boy-cover boy-an, ikut casting jadi model iklan, sampai lomba angkat koper. Yang terakhir itu si Jaja emang salah banget. Bukan pemilihan cover boy, tetapi dalam rangka Porter Hunt alias pemilihan tukang koper di stasiun kereta api. 

Buat ukuran orang Betawi, wajah Jaja dianggap ganteng. Mari kita gambarkan wajah Jaja kayak apa, sehingga lo-lo semua bisa ngebayangin kegantengannya. Kita mulai dari bentuk wajah. Jaja punya wajah oval. Dagunya lancip kayak pinsil 2B. Rambutnya keriting kriwil-kriwil mirip artis reegeee yang jarang keramas.

Trus hidungnya. Soal hidung rada aneh, nih. Kenapa? Soalnya, hidung Jaja itu macung enggak, pesek juga enggak. Begitu pula dengan bibir. Bibirnya nggak bisa dibilang tipis, juga nggak bisa dibilang tebel. Terakhir giginya. Tadinya giginya sempat maju dikit. Tapi pas Jaja sweet seventeen, Emaknya menghadiahkan kawat berduri buat dipasang di giginya. Awalnya si Jaja protes, kenapa harus kawat berduri, kenapa nggak kawat aja.

       “Mak lo ini anti-maintream, ngerti?! Daripada Mak ngasih hadiah kawat nyamuk, mending kawat berduri supaya gigi lo indah berseri,” cerocos Mak Oneng, Emaknya si Jaja ini.

Back to story. Saking ngebet jadi model, Jaja seringkali mimpi. Pernah suatu malam pas iler sedang meler-melernya, Jaja dikejar-kejar wartawan. Si wartawan ngejar-ngejar Jaja bukan karena hutang, tapi Jaja disangka bintang Hollywood yang lagi happening. Tau sendiri lah wartawan nggak bisa lihat artis dikit, langsung nodong pake mic buat diwawancarai. Biasanya wartawan model begitu wartawan infotainment.

Pernah pula Jaja mimpi dapat kontrak main film seharga jutaan dolar. Padahal perannya sederhana, yakni sebagai penyelam. Hanya bukan penyelam di dasar laut, tetapi penyelam di septic tank.

Mimpi yang nggak kalah seru adalah pas Jaja sempat menang lawan Arul dalam memperebutkan artis seksih Sopiah Lucubah. Jadi, ceritanya cinta segitiga gitu lah. Arul suka Sopiah, sementara Sopiah suka Jaja. Arul yang vokalis band Porno Band itu berbagai cara ngerebut hati Sopiah, tapi emang dasar Jaja lebih ganteng, rajin sholat, dan berahklah mulia, kalahlah Arul. Pas lagi pengen adegan mesra...  

“Woi! Pasti lo mimpi lagi deh,” ujar Mak Oneng sambil nyiram air segayung ke muka anak semata wayangnya itu.

Jaja sontak kaget. Kedua tangannya membasuh mukanya yang kena air.

“Astagfirullah! Ada apa, nih?” tanya Jaja gelagapan. “Mana Sopiah?! Mana?!”

“Mana Sopiah...Mana Sopiah? Sopiah di sono-noh! Di laut,” kata Mak Oneng.

“Sopiah bener di laut, Mak?” tanya Jaja, belom sadar.  

“Jiaaaah!!! Lo mimpi lagi, tahu?!” jelas Emak. “Besok-besok kalo lo masih ngimpi, Emak bakal  nyiram lo seember...eh..dua ember deh...”

“Idiiiiih, Emak kok gitu sih? Pan Jaja cuma mimpi. Mimpi kan nggak nyusain orang. Bukan kejahatan kayak korupsi, Mak...”

“Jiaaaahhh! Pake ngajarin Emak segala. Lo tahu nggak, Ja? Gara-gara mimpi, lo bisa jadi gila! Banyak tuh orang yang pada mimpi, tapi akhirnya masuk rumah sakit gila...”

“Tapi banyak orang sukses gara-gara bermimpi, Mak...”
Jaja sok niru pepatah orang sukses: “Impian yang kuat lebih penting dari bakat”. Apalagi cowok berlesung pipit di jidat ini pernah ikut MLM yang saban seminar seluruh pesertanya disuruh mimpi.

“Coba buktikan kalo lo bakal sukses kayak orang-orang yang sukses itu...”

“SIAAAPP, MAK!!!” ucap Jaja dengan nada 10 oktaf sambil bangkit dari tempat tidur.

“BOCAH GEMBLUNG!!! LO MAU MATIIN EMAK?” damprat Mak Oneng. Nada suara tinggi mirip Robert Plant, vokalis Led Zeppelin, itu bikin kuping Mak Oneng budeg-deg.

“Maap, Mak. Jaja nggak sengaja. Jaja cuma semangat aja menghadapi tantangan Mak...”

“Semangat sih semangat...tapi kalo semangat lo bikin kuping Mak budeg mah namanya nyikasa Mak...”

“Iya, Mak, maap. Jaja nggak bakal ngulangin lagi,” ucap Jaja sambil cium tangan Emaknya berkali-kali. “Mohon doa restu ya, Mak...”

Sebagai anak yang baik dan tidak sombong, Jaja minta restu dari ortunya yang tinggal satu-satunya di dunia yang fana ini. Kata orang sukses juga, kalo lo mau sukses kudu minta restu ortu. Sejelek-jeleknya ortu lo, mereka bakal bikin lo sukses dunia akhirat.

Begitu pinginnya Jaja sukses. Makanya ia berkali-kali cium tangan Maknya. Gegara cium tangan Mak ini, Jaja sempat mengeluarkan air mata.

“Yasudah, Mak maapin lo. Tapi nggak usah nangis gitu, dong, Ja. Cup! Cup! Cup!”

“Jaja sebenarnya nggak nangis, Mak...”

“Nggak nangis kenapa mata lo keluar air mata?”

“Tangan Mak bikin perih mata Jaja...”

“Hehehe...tadi Mak abis ngupas bawang, trus lupa cuci tangan...”

Jaja pingsan. Gubraakkk!!!

Senin, 12 Oktober 2015

TERUS MELEMAH, RUPIAH AKHIRNYA MENIKAH...

Kalo postingan saya sebelumnya mengenai dua perempuan yang mencari pasangan hidup, kali ini mengenai sepasang pria dan perempuan yang sudah resmi menikah. Nama mempelai pria: RAHMAT, sementara nama mempelai perempuannya RUPIAH.





DUA PEREMPUAN CANTIK MENCARI PENDAMPING HIDUP


Entahlah kiriman teman via WA ini info benar apa sekadar hoax. Kalo benar, sungguh para pria yang belum memiliki pasangan punya kesempatan untuk mendapatkan jodoh. Bukan cuma seorang perempuan, tetapi dua perempuan sekaligus. Itu "paket" yang wajib dijalankan calon mempelai pria.



Rabu, 07 Oktober 2015

ALAMAK! WAKTU SENGANG PENGEMIS DIPAKAI MAIN TABLET...

Pada 23 September 2015, lewat akun Facebook-nya, Ronald Agus Handaya memposting sebuah foto yang bikin kita geleng-geleng kepala. Sebuah foto dua orang pengemis, dimana seorang pengemis yang berjenis kelamin perempuan sedang bermain tablet, sementara tangan kanannya memegang sebatang rokok.

"Ini yang namanya ngemis2 di jalan...waktu senggangnya main tablet sambil ngerokok, masih mau kasih uang ke mereka? Foto di area Pasteur Bandung."

Begitu status di akun FB Ronald.




Minggu, 04 Oktober 2015

TRUK BAWA PIPA PANJAAAANG BANGET

Trucks carrying very long pipe

Selasa, 05 Maret 2013

Farhat Abbas: "Yang Penting Bukan Menang Jadi Presiden.."

Akhirnya saya bisa bertemu dengan Calon Presiden (Capres) 2014, Farhat Abbas di Pamulang, Tangerang Selatan kemarin (28/1/13). Pengacara ini memang cukup sibuk, terlebih lagi setelah pencalonan dirinya sebagai Capres yang banyak dilecehkan orang. Meski menjadi bahan olok-olok, sejumlah instansi dan perusahaan justru malah mengundangnya untuk memberikan ceramah umum.

Berikut sekelumit obrolan dengan Farhat Abbas yang Penulis temui di salah satu perguruan tinggi swasta di Pamulang. 

Kang Jaya (KJ): Sekarang billboard bang Farhat ada dimana-mana…
(Kebetulan penulis melihat billboard suami Nia Diniaty ini ada di beberapa lokasi. Pada saat menuju ke Pamulang pun penulis sempat berhenti dan mengabadaikan lewat blackberry billboard Farhat sebagai Capres)

Farhat Abbas (FA): Cuma tiga, tapi nanti mau diganti dengan yang baru.

KJ: Tagline-nya tetap sama Bang?

FA: Masih, “Aku Indonesia!”

KJ: Kenapa sih pake ada kata sumpah pocong segala, Bang?

FA: Orang mati aja diingetin, jadi kalo jadi Presiden ya harus diingetin. Salah satunya disumpah pocong…

KJ: Nggak pengen ngalamar masuk partai Bang?

FA: Ah, enggak. Biar partai saja yang ngelamar saya…

13594244951917393340

KJ: Kenapa sih Bang ngotot jadi Capres?

FA: Sebenarnya saya ingin mewakili generasi muda. Lihatlah Capres-Capres sekarang dari generasi tua. Ada yang angkatan 60-an lah, 70-an lah. Apa sih? Mana angkatan mudanya?

(Sampai di sini, penulis berpikir. Dengan kegokilan Farhat berani mencalonkan diri sebagai Capres, ternyata selain sensasi, ada sisi kritisnya, yakni mempertanyakan Capres yang itu-itu aja. Wajah Wiranto lagi-Wiranto lagi. Atau Prabowo lagi-Prabowo lagi. Padahal mereka dulu sudah mencalonkan diri jadi Capres lalu diajak jadi Cawapres oleh Jusuf Kalla dan Megawati, dan kalah.
Dulu pernah Sri Bintang Pamungkas berani menjadi Capres saat Soeharto masih berkuasa. Saat itu, ia dianggap gokil, karena nggak ada yang berani mencalonkan diri jadi Presiden selama Soeharto masih berkuasa. Tetapi dia cuek bebek. Jadi memang harus ada orang-orang gokil seperti Sri Bintang atau sekarang model Farhat ini. Memang sih, cara Farhat mencalonkan diri jadi Capres terlalu norak-norak bergembira)

KJ: Tapi Abang yakin menang jadi Presiden?

FA: Yang penting bukan menang jadi Presidennya, tetapi harus ada wakil dari generasi muda..

KJ: Abang cukup kontroversial, tetapi jumlah followers Twitter Abang bertambah ya…

FA: Alhamdulillah. Sekarang sudah 70 ribu follower…

KJ: Sebelumnya?

FA: Cuma delapan ribu…

KJ: Ngomong-ngomong Abang ke sini dalam rangka apa?

FA: Shooting. Saya disuruh melucu. Saya nggak bisa melucu, tetapi setidaknya bisa menentawakan diri sendiri…haha..

(Tak lama kemudian, Farhat naik ke atas panggung dan ditepuki oleh sekitar 2 ribuan mahasiswa di perguruan tinggi tersebut. Kelar shooting, seorang mahasiswa dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEN) dan mengungkapkan kesalutannya pada Farhat, karena berani mencalonkan diri sebagai Capres)

FA: Iya dong, anak-anak muda harus mendukung.

(Mendengar ucapan Farhat ke anggota BEM ini, Penulis cuma bisa senyam-senyum. Ternyata masih ada pendukung Capres Farhat ya? Apakah pendukung Farhat dianggap pendukung gokil? Secara Farhat dianggap gokil. Ah, daripada ikut-ikutan gokil, Penulis langsung izin permisi pada Farhat untuk menyudahi obrolan ini. Namun sebelumnya, Penulis sempat memfoto sepatu yang dipakai Farhat siang itu, yakni sepatu warna emas dimana di seluruh sepatunya terdapat ujung lancip mirip duri-duri di durian)

Minggu, 27 Januari 2013

DALAM SEMENIT, DUKUNGAN TOLAK HAKIM AGUNG SUDAH RATUSAN


Diky Chandra, mantan Wakil Bupati Garut, mengirim Blackberry Massage (BBM) ke saya. Isinya tentang dukungan pernyataan Wulan Danoekoesoemo dari Lentera Indonesia yang mengecam mereka yang menjadikan pemerkosaan sebagai bahan canda.

Bloggers, jika Anda punya BB, saat ini ramai teman-teman dicontact list Anda yang menyebarkan BBM seperti yang saya terima. Sebar menyebar pesan ini ternyata cukup menarik. Sebab, dalam tempo tidak kurang dari satu menit, muncul nama-nama yang turut mendukung, meski saya perhatikan urutan nama yang disebar tidak akurat dari penyebar satu ke penyebar yang lain. Dari nomer satu sampai enampuluhdua masih sama, yakni Moh Jumhur Hidayat di urutan 1 dan Abdul Aziz di urutan ke-62. Begitu di urutan ke-63, BBM yang disebarkan oleh teman saya pertama bernama Ferrasta “Pepeng” Soebardi, sedang dari BBM teman saya satu lagi urutan ini diisi oleh Katon Bagaskara. Diky Chandra yang mengirimkan BBM ke saya duduk di posisi ke-72, sementara BBM dari teman saya yang lain, nomor 72 sudah diisi oleh Netty Prasetiyani. Anyway, pembahasan ini memang sangat nggak penting.

Bloggers, sebar menyebar BBM untuk mencari dukungan ini terjadi lantaran calon Hakim Agung M. Daming Sanusi dalam fit and proper test di hadapan Komisi III DPR melontarkan pernyataan yang sangat tidak pantas. Ia melontarkan candaan bahwa pemerkosa tidak perlu dihukum mati karena si pemerkosa dan yang diperkosa sama-sama menikmati. Ironisnya, anggota Komisi III DPR menanggapi candaan Daming dengan tertawa. Melihat kondisi miris itu, Wulan Danoekoesoemo dari Lentera Indonesia mengajak kita untuk memberi dukungan Petisi Dukungan Tolak Calon Hakim Agung M Daming Sanusi.

Daming memang sangat gegabah mengungkapkan pernyataan tersebut. Padahal, menurut Ustaz Arifin Ilham, hukuman bagi Pemerkosa adalah HUKUMAN MATI. “Sewaktu saya masih belajar di Mesir, para pemerkosa dijatuhkan hukuman mati,” ujar Ustaz Arifin.

Lanjut Ustaz, hal tersebut pernah ditanyakan kepada Mufti negara Mesir mengenai dasar hukuman mati bagi para pemerkosa?  Jawabanya terdapat dalam surat 5 al-Maidah ayat 33. Pemerkosa digolongkan sebagai “Qothi-ut Thoriiq“, yakni “yang memerangi manusia”.

Sesungguhnya pembalasan terhadap orang orang yang memerangi Allah dan RasulNya, dan membuat kerusakan dimuka bumi, hanyalah DIBUNUH !, atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri. Yg demikian sebagai penghinaan utk mrk didunia, dan diakhirat mrk mendapatkan siksaan yg sangat pedih.”
(Surat al-Maidah 33)

Namun, selama syariat tidak ditegakkan, hukuman MATI tidak akan pernah bisa tegak. Pemerkosa bebas berkeliaran. Pelecahan demi pelecehan terjadi. Bukan cuma yang sudah dilakukan oleh M Daming Sanusi, tetapi orang lain. Barangkali Bloggers belum lupa Olga Syahputra pernah melecehkan dalam candanya ketika menjadi pengisi acara di Dekade Trans Untuk Indonesia pada 15 Desember 2011. Saat itu Olga berperan sebagai hantu. Saat ditanya lawan mainnya tentang kenapa dia sampai menjadi hantu, dia menjawab: matinya sepele, karena diperkosa sopir angkot.

Bloggers, perkataan Olga itu dianggap tidak etis dan tidak menghargai para korban pelecehan di dalam angkot yang memang sedang marak beberapa waktu lalu. Gara-gara perkataan Olga, Helga Worotitjan, perwakilan aktivis advokasi pemerkosaan, mengajukan laporan resmi ke Komisi Penyiaran Indonesia (KPI).

Jumat, 12 Oktober 2012

Lebay, Baru Mati Satu Orang Sudah Heboh!

"SMA 70 Sama SMA 6 Itu Lebay Baru Mati Satu Saja Hebohnya Minta Ampun...", itulah Twit yang di-retwit Ketua Umum Gema Damai Indonesia Fahira Idris ke akun Twitter redaksi Kompas (Kamis, 27/9/2012). Sejak tewasnya Alawy Yusuanto Putra, pelajar SMA Negeri 6, yang ditusuk dalam tawuran di Bulungan, Fahira beberapa hari ini terus memantau percakapan para pelajar via sosial media (sosmed), salah satunya via Twitter.

Kalimat yang di-twit itu sungguh menyesakkan. Betapa tidak, bukan ucapan duka untuk korban yang diberikan, malah sikap tanpa perasaan. Ironisnya, sebagian dari mereka tetap memiliki rasa dendam dan akan kembali melakukan aksi tawuran.

Mereka masih merencanakan pembalasan. Saya pantau percakapan mereka,” ujar Fahira, yang saat ini melakukan kampanye dengan hastag #StopTawuran dan #MaluTawuran.

Tawuran pelajar ternyata lebih radikal daripada teroris yang selama ini digembar-gemborkan. Namun, benar kata teman saya, tawuran pelajar tidak ada uangnya. Berbeda dengan pendzoliman Pesantren dan organisasi Islam di Indonesia yang banyak uangnya, sehingga segenap instansi maupun organisasi mata duitan mau bersusah payah bekerja untuk mengobok-obok Pesantren, termasuk membuat rekayasa-rekayasa dengan dalih teroris.

Sudah pasti yang tawuran tidak pernah ikut ke Rohis! Tapi tawuran itu tidak pernah dikatakan radikal apalagi teroris, hal itu berbeda kalau yang melakukan itu aktivis Rohis,” ujar Ustadz Fauzan Al-Anshari seperti yang penulis kutip dari voa-islam.com, Rabu (26/9/2012).

1348741046761966170

Bloggers, perhatikan! Ketika aksi tawuran dan anarkis yang dilakukan tidak mengatas namakan agama, kaum SEPILIS bungkam. Mereka tidak mengatakan tawuran atau aksi anarkis yang dilakukan pelajar, mahasiswa, atau masyarakat adalah redikal. Begitu pula tawuran warga atau organisasi pemuda non-Islam yang seringkali terjadi. Tapi jika ada murid Pesantren yang disinyalir sebagai teroris, kaum SEPILIS ini langsung berkicau.

Begitu pula ketika, Rohis dituduh sebagai sarang perekrutan teroris, kaum SEPILIS begitu nafsu untuk mendeskriditkan salah satu ekstra kulikuler di sekolah ini. Padahal, anggota Rohis tidak pernah ikut tawuran, melakukan tindakan anarkis, pun bukan sebagai pembunuh. Namun, logika-logika tersebut selalu dibolah-balik oleh kaum SEPILIS. Jadi Bloggers, hati-hati dengan logika kaum SEPILIS!

Coba simak Twit-Twit para pelajar berikut ini. Mereka –yang nge-Twit-  selama ini tidak dianggap Teroris, padahal kelakukan mereka lebih radikal dari Teroris. Mereka tidak peduli dengan tewasnya Alawy dan Rabu kemarin (26/9) seorang pelajar lagi tewas, yakni Deni Januar (17). Siswa kelas XII SMA Yayasan Karya 66 (YK), Kampung Melayu, Jakarta Timur ini tewas terkena sabetan senjata tajam pelajar SMK Kartika Zeni (KZ).

@tubirmania pada ngerasa ga kalo dari sekolah lain ada yg meninggal reaksi media ga terlalu wow giliran dari SMA favorit langsung heboh
SMA 70 sama SMA 6 tuh terlalu lebay, baru mati satu saja hebohnya minta ampun. Wajarlah tubir ada yang mati, ada yang menang

sumber foto: Solo Pos

Sabtu, 14 Juli 2012

BENTUK PEMBAHARUAN HUKUM ZAMAN ROMAWI # 1: DICEKIK SAMPAI MATI


Buku Bellum Judaicum (The Wars of the Jews), Yosephus menulis tentang sejarah hukuman Romawi ketika menduduki tanah Jarusalem. Meski kesaksian pria Yahudi pro-kekaisaran Roma ini diragukan kesaksian dan keakurasian fakta di bukunya, namun tak bisa dipungkiri buku karya Josephus tersebut tetap dapat digunakan sebagai sumber sejarah di zamannya.
Menurut Yosephus, sebagai pemimpin pasukan Romawi, Herodes Agung langsung menerapkan hukuman salib di Yerusalem. Herodes sebelumnya dikenal sebagai pengawal pribadi Cleopatra. Ia pun dianggap sebagai seorang Raja ‘boneka’ Romawi yang ditugaskan ke Yerusalem untuk memperbesar kekuasaan Romawi pada 74 SM. Meski dianggap boneka, ia akhirnya menjadi pemimpin yang bertangan besi diRomawi, terutama dalam menerapkan hukuman mati.

Saat itu, hukuman salib bukanlah tradisi wilayah yang saat itu dikuasai oleh Yahudi. Hukuman mati sesuai tradisi Yahudi adalah dirajam atau dilempari batu sampai mati, dibakar, maupun dipenggal kepalanya. Tentu jenis hukuman tersebut tergantung dari jenis kejahatan yang dilakukan oleh si terhukum. Namun, hukuman tipikal Yahudi hanya dua, yakni dirajam dan dibakar. Sementara hukuman mati cara disalib baru ada setelah pasukan Romawi menjajah ke tanah Jerusalem.

Dalam Kitab Bilangan, disebutkan tentang hukum rajam bagi mereka yang menghujat hari Sabat, “Pastilah dihukum mati; segenap umat Israel harus melempari dia dengan batu di luar tempat perkemahan.” (Bil 15:35). Selain penghujat hari Sabat, mereka yang menyembah berhala, kepada dewa-dewa, kepada matahari atau bulan, atau bintang-bintang di langit juga dihukum rajam. Tak terkecuali mereka yang menghujat atau memfitnah.

Lalu menurut Kitab Imamat, disebutkan hukuman mati dengan cara dibakar, yakni jika seorang laki-laki menikahi seorang perempuan sekaligus dengan ibunya. Ketiga orang ini harus dihukum bakar agar perbuatan mesumnya lenyap (Imamat 20:14). Hukum bakar juga berlaku pada seorang perempuan yang menjadi pelacur. Ia dianggap menodai sang ayah, sehingga harus dibakar (Imamat 21:9).

Yosephus juga menceritakan di buku Bellum Judaicum, menjelang akhir hayat pada 4 SM, Herodes Agung menjatuhi hukuman mati bakar pada dua orang ahli kitab dan beberapa muridnya, karena mencopot hiasan elang yang dipasang Herodes di Bait Allah. Sementara putra Herodes Agung, Herodes Antipas, sempat memerintahkan hukuman mati dengan cara memenggal kepala Yohanes Pembabtis dan rasul Yakobus anak Zebedeus.

Bloggers, selain hukuman mati dengan cara dirajam dan dibakar, bentuk pembaharuan hukuman mati yang dilakukan pada zaman Herodes Agung adalah dicekik sampai mati. Mereka yang sempat ‘merasakan’ hukuman mati dengan cara dicekik ini adalah dua putra Herodes Agung sendiri, yakni Alexander dan Aristobulus. Mereka berdua dieksekusi di penjara di Sebaste, sebuah kota dekat Kaisarea. Hukuman mati ini terjadi setelah Herodes memperoleh izin dari Kaisar Agustus, seorang Kaisar yang menggantikan kediktatoran Julius Caesar.

Di antara hukuman mati itu, menurut Yosephus, penyaliban adalah bentuk kematian yang paling menyedihkan. Hukuman seperti ini dijatuhkan tentara Romawi terhadap para pemberontak. Tentu pendapat ini sangat kontroversial. Sebab, banyak pembaca pada saat itu protes. Mereka mempertanyakan: apakah Yesus itu pemberontak sehingga disalib? Apalagi di buku itu Yosephus juga menambahkan, hukuman mati dengan cara disalib hanya dijatuhkan pada para budak, perompak, dan musuh-musuh serta penjahat-penjahat yang secara khusus dipandang rendah, hina. Oleh karena itu, hukuman salib dipandang sebagai cara mati yang sangat memalukan dan hina.

Pada saat itu, hukuman mati dengan cara disalib juga berlaku di Persia,Yunani, dan Carthagena (Kartago). Menurut pendapat para ahli hukum Romawi, para perampok yang sangat kejam (famosi latrines) harus disalib. Mereka yang memvonis hukuman mati disalib ini di bawah wewenang Gubernur setempat.

Dalam ketentuan hukum Romawi, Gubernur bertindak sebagai komandan tentara. Ia berwenang menjatuhkan hukuman mati terhadap pemberontak dan tentara yang bertindak kejam, sehingga mencemarkan nama baik militer. Hukuman salib dianggap sebagai alat untuk melindungi penduduk di wilayah kekuasaan Romawi dari ancaman tindakan anarkis, baik oleh tentara maupun pelaku kriminal.

Hukuman salib juga diperuntukan bagi para budak. Tak heran saat itu muncul istilah servile supplicium atau hukuman para budak. Tentang hal itu, diungkapkan oleh Plautus (250-184 M), seorang penulis zaman Romawi yang pertama kali mengungkapkan hukuman salib Romawi. Penulis Romawi lain yang mengungkapkan hukuman salib ini adalah Sceledrus lewat karyanya berjudul Miles Gloriosus (205 SM).

Scio crucem futuram mihi sepulcrum; ibi mei maiores sunt siti, pater, auos, proauos, abouos (Saya tahu salib akan menjadi kuburanku; yang juga menjadi kuburan leluhurku, ayahku, kakekku, buyutku, buyut ayahku…” (Sceledrus, Miles Gloriosus).

(bersambung)